
Malam ini saat Haris mengajak Divya makan malam berdua,makan malam yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu karena Rahma jatuh sakit.
Setelah pamit kepada Mama dan dia mengizinkannya,Haris pun dengan semangat menggandeng Istrinya.
Divya terlihat senang duduk berdua saling berhadapan,saling menyuapi makanan satu sama lain sampai tiba-tiba Divya pamit ke toilet.
Saat Divya kembali betapa ia terkejut mendapati gadis kecil kira-kira usia lima tahun menghampiri Haris.
Yang lebih mengejutkan lagi gadis kecil itu memanggilnya Papa.
"Hallo Papa !"
Divya yang berdiri beberapa meter di belakang Haris kembali mundur.
"Hai ! Amanda kamu disini sayang?"
Mencium kening gadis kecil yang ia sebutkan namanya.
Amanda ? Haris mengenal gadis itu.
"Malam malam begini kamu sama siapa,nak?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Haris sukses menghambat laju nafas Divya membuatnya tersenggal-senggal.
Ia tak mampu melangkah lagi,tangannya tertahan di meja kosong.
Pikirannya terus bertanya-tanya,mengapa begitu banyak hal tersembunyi dari keluarga barunya ini.
Bukan baru ini bahkan sudah hampir satu tahun.
"Sama Mamah ?"
Tanya Haris lagi ,ia membungkuk di hadapan
Gadis kecil itu,memegang kedua pundaknya.
Gadis kecil bernama Amanda itu tak lantas menjawab,hanya senyum kecil yang terukir di bibir mungilnya.
Lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Haris,meraih telinga pria itu dan membisiki sesuatu.
"Oh ya ! Kapan dia datang? Kenapa Manda datang dengannya?"
Lagi Haris bertanya dan jawaban lewat bisikan kembali ia dapatkan,membuat Divya tak tahu apa yang gadis itu bicarakan di sisi telinga suaminya.
"Lalu dia mengajakmu kesini?"
Amanda mengangguk,lalu menghambur kepelukan Haris.
"Papa !"
Rengeknya.
"Papa kemana saja Amanda kangen Papa"
Kali ini Amanda menuturkan isi hatinya yang merindukan Haris.Divya masih menganga tak percaya di belakang sana,di rasa kakinya sudah tak mampu menopang bobot tubuhnya.Tangannya lemas menyentuh meja,ia duduk terkulai begitu saja.
Kebenaran apalagi ini.
Mengapa harus malam ini.
Mengapa dia harus tahu dengan cara seperti ini.
"Kau akan makan malam bersama suamimu kan? Datanglah kau akan tahu siapa aku"
Begitu ingatan itu kembali berputar, ucapan gadis di telpon yang masih dia hafal sampai detik ini.Kata-kata itu pula yang membawa nya ketempat ini sekarang.
__ADS_1
Ia sontak kembali berdiri menelisik ke segala arah,mencari seseorang diantara tamu restauran yang sedang menikmati hidangan mereka.
Ia menatap bangku tempat dimana ia duduk ,bangku di hadapan suaminya itu tergeletak tas miliknya disana ada ponselnya juga.
Ponsel.
Saat ia menangkap sosok seorang perempuan cantik berambut panjang duduk sendiri di sudut ruangan.
Wanita itu melambaikan tangan kearah Divya dengan senyum sarkas tersungging di bibirnya.
Divya merasa dia lah orang yang sedang ia cari.Wanita itu pasti si penelpon gelap yang menghubunginya tadi sore.
Airmata Divya hampir jatuh,benarkah apa yang ia dengar dan saksikan.
Berusaha menepis kenyataan pahit itu dari benaknya.
Ia begitu percaya kepada Haris.
Sumpah yang dia ucapakan malam itu masih terngiang di kepalanya.
Tak ada satupun wanita yang begitu spesial di hatinya saat ini dan selamanya selain Divya.
Satu-satunya wanita yang ia sentuh.
Lalu mana mungkin Haris memiliki putri dari wanita lain?
Sejenak ia berusaha menghirup nafas dalam-dalam tak ingin salah menyikapi apa yang di lihatnya.
Semua pasti ada penjelasan dibalik semua ini.
Divya tak ingin gegabah,terlebih janjinya pada Mama Rahma yang masih belum ia penuhi.
"Manda sayang jangan pulang larut malam ya ,habis makan langsung pulang ke rumah,lalu tidur.Jangan mampir kemana-mana lagi.Mengerti !"
"Salam untuk Mamah"
Divya bergegas menghampiri Haris setelah gadis kecil itu pergi.
Wanita manapun akan salah paham melihat kejadian seperti ini,begitupun dengan Divya.
Seorang anak kecil memanggil suaminya dengan sebutan Papa.Bahkan dia sebagai istrinya saja belum mengandung.
Namun Divya tak mau salah mengambil langkah.Ia memilih mengajak Haris pulang daripada berdebat.
"Tuan Muda sepertinya nona melihat nona Amanda dan nona Laras di restauran tadi"
Pesan teks masuk ke ponsel Haris saat mereka masih dalam perjalanan.Isi pesan itu dikirim dari nomor seorang asisten yang memang mengawalnya secara sembunyi di restauran tadi.
Lampu lalu lintas menghentikan laju kendaraan di depannya,memberi kesempatan bagi Haris membalas pesan tersebut.
"Urus wanita itu,aku tidak mau tahu bereskan secepatnya.Pastikan dia tidak bisa mengganggu istri ku lagi"
"Baik Tuan!" Balasan terakhir dari asistennya menutup tanda tanya di benak Haris.
Ia tersenyum sendiri melihat istrinya yang termenung.
Meraih jemari Divya lalu menciumnya dalam.Divya hanya menatapnya datar tanpa mengatakan sepatah katapun ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Haris.
"Kenapa sayang"
Haris masih sesantai mungkin menanggapi keacuhan istrinya.
"Kamu tiba-tiba ngambek begini,apa salahku?"
Apa salahmu.Kau tanya apa salahmu padaku? Cih.
__ADS_1
"Hei,sayang "
Meraih dagu istrinya saat dia melempar pandangan keluar jendela.
Haris dan Divya pun saling bersitatap.
Saat wajah mereka semakin mendekat tiba-tiba suara klakson menyadarkan keduanya.Divya mengerjap kecil,mengurut pelipisnya dan kembali menampar jendela .
Apa itu aku bahkan sudah menutup mata,ah dasar bodoh.
Divya memukul kepalanya sendiri.
Dan Haris ia tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Kau meragukan ku sayang?"
Mobil sudah kembali melaju.
"Bukankah sudah pernah aku katakan jika~"
"Kau hanya mencintaiku,aku tahu dan aku~"
"~Aku percaya itu"
Jawab Divya menyela kalimat Haris.
"Amanda"
Divya menoleh saat nama gadis kecil itu Haris sebutkan.
"Kau melihat nya tadi ?"
Tidak ada jawaban Divya masih menunggu sampai Haris mau menceritakan tentang anak itu.
"Jangan salah paham padaku,karena Amanda itu~"
Haris menjeda kalimatnya,ia mencengkram erat pegangan kemudi.
Sedikit mempercepat laju kendaraan nya.
"Akan aku jelaskan di rumah nanti"
"Berjanjilah padaku sayang,kau akan selalu percaya padaku.Selalu ada di samping ku bahkan sampai maut memisahkan"
"Hei,bicara apa itu ? Tentu saja memangnya kau pikir aku mau kemana?"
Sergah Divya yang merasa kata-kata Haris sudah mulai melenceng kemana-mana hingga membuat nya merinding.
"Kalau kau mulai meragukan aku bukan tidak mungkin kau akan meninggalkan aku,seperti ~"
Divya mendelik dia tau siapa nama yang hendak Haris sebutkan.
"Dia juga pergi dariku karena salah paham"
Haris kembali fokus,kali ini mobil sudah memasuki area perumahan tempat istananya berada.
"Jadi~"
"~Jika terjadi kesalapahaman bicaralah jangan diam seperti tadi,aku bingung menanggapinya.Dan aku jauh lebih tersiksa melihatmu sedih seperti ini"
Ucap Haris lagi.
"Maaf sayang aku gak ada maksud buat kamu bingung"
Divya menatap Haris dengan tersenyum,tangan mereka saling bertautan.
__ADS_1
Mobil pun sampai di pelataran rumah.