
Nando Wiryawan
sampai detik terakhir rapat berlangsung Divya masih tidak percaya dia lah CEO baru perusahaan.
Dari mana dia mendapatkan nama itu?
Wiryawan?
setahu ku bukan itu namanya?
setahu ku orangtua nya juga sudah tiada.
setahu ku dia memiliki dua saudara perempuan.
Divya terhanyut dalan pikiran nya sendiri.
Mengapa dia ada disini.
setelah semua yang terjadi dalam hidupnya .
Sampai akhir rapat dan semua orang pergi melanjutkan pekerjaan mereka,menyisakan Divya seorang diri di ruang rapat,membereskan berkas yang ia gunakan sebagai laporan kinerjanya tadi,keluar ruangan dengan pikiran yang entah kemana.
Nando sudah berlalu masuk kedalam ruangannya,duduk di kursi kebesaran miliknya kini.
Senyum mengembang di bibirnya.
Ternyata benar dugaan ku.
dia ada disini.
sudah sejak dua bulan yang lalu aku ingin kembali ketanah air demi memastikan nya sendiri.
Gadis bernama Divya yang ibu ceritakan. Nando menatap layar dengan senyum kebahagiaan.
__ADS_1
seorang gadis tengah tersenyum manis menghiasi wallpaper diponselnya
Ia meraih gagang telpon meminta sekertaris nya membawa beberapa file yang harus ia tanda tangani.
Raisa masuk setelah mengetuk pintu.
Matanya takjub melihat wajah tampan bos barunya.bibirnya mengukir senyuman,namun ia kembali menunduk demi menghormati atasannya.
"Selamat siang, pak...!"
"Ya...siang. Kamu Raisa?" bertanya sambil menatap Employee card yang tergantung dileher gadis itu.
"Ia benar pak,saya Sekertaris bapak" ragu sebenarnya saat harus memanggil bapak pada laki-laki yang bahkan masih terlihat muda.tapi,apa boleh buat itu panggilan yang tepat untuk seorang boss,kan?
"Mana yang harus saya tandatangani"seranya meminta file atau berkas yang harus dia periksa hari ini juga.
"ini pak..."menyodorkan beberapa pada Bosnya itu.dilihat,dibaca sekilas lalu di tanda tangani.
"Yang ini apa?"
"Itu sebenarnya titipan Divya,berkas kerjasama dengan perusahaan Santoso group.yang harus bapak periksa ,sudah ada persetujuan nyonya didalamnya" Raisa menjelaskan.
"Oh ok..." Nando menerima nya." atur pertemuan ku dengan direktur Santoso" Perintah pertamanya dimulai.ia sebenarnya sudah tahu perihal kerjasama ini.
ibunya yang cerita.
"Baik Pak..!" Raisa menunduk hormat mengerti dengan perintah atasan nya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu,pak?" tanya Raisa.
"tidak,kau boleh kembali bekerja..!" menggerakkan tangan nya mempersilahkan keluar.
Baru saja Raisa hendak keluar,terdengar suara Bosnya memanggil seseorang lewat sambungan tepon.
__ADS_1
"Vero...keruanganku sekarang"titahnya.
Vero siapa? seingat ku tidak ada pegawai bernama vero disini? Raisa bertanya-tanya saat menutup kembali pintu ruangan Presdir.
Divya...dilihatnya tengah berjalan menuju ruangan bosnya itu.
Vero???
Ada yang aneh disini.gumam Raisa pelan.
"Siang Pak" sapaan Divya ketika sudah berdiri di ambang pintu.
"Haha..ya selamat siang Veroku...!" Nando menjawab nya dengan tergelak kecil."Duduklah" titahnya.
"Ada apa bapak memanggil saya?" bertanya sambil berharap ,semua akan baik-baik saja.
Divya masih belum siap menerima kenyataan kembali bertemu dengan pria ini.Untuk melangkah kan kaki ke ruangan ini saja rasanya sudah malas.apalagi mendapat sapaan dengan nama itu.
"Kau tentu tahu,mengapa aku memanggil mu kesini ,Divya Veronika...?!" Nando tersenyum menatap lekat gadis dihadapannya.
"Dunia ini sempit ternyata ya! pada akhirnya kita dipertemukan kembali seperti ini. apa mungkin ini yang dinamakan jodoh" Nando sudah berdiri mendekat tangannya yang sudah hampir menyentuh rambut Divya.
refleks Divya menghindar,ia berdiri sedikit menjauh.
"Kenapa sayang? Apa kau tidak bahagia aku datang? memenuhi janjiku."
Apa...janji apa memangnya?
baik kau atau aku tidak pernah menjanjikan apapun kan... Divya mengerenyitkan dahi tidak mengerti
maksud dari ucapan Nando.
Lagi pula, jodoh? jodoh apa ?semuanya sudah terlambat...! batin Divya
__ADS_1