Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Bonchap 02


__ADS_3

Konflik cinta segitiga selalu terulang. Jika dulu ada ayah Haris, Marisa dan juga Laras.


Lalu, Divya, Haris dan juga Pranando.


Sekarang sepertinya akan ada generasi baru antara Reno yang mencintai Icha. Namun, sahabat mereka Anita juga sangat mencintai sosok Reno yang sederhana.


Adakah Reno di hati Marisa?


Benarkah jika cinta tak harus saling memiliki ?


Lalu mengapa harus ada yang ditakdirkan untuk mencintai kalau hanya akan menambah gores luka.


Cinta hadir seiring berjalannya waktu. Itu yang terjadi antara Divya dan Haris. Akankah itu terulang di hidup putri mereka?


Semoga nasib Icha tidak menurun dari nasib sang tante .Dia yang tak lain mantan kekasih ayahnya sendiri. Marisa.


Nama yang sama namun menorehkan cerita yang berbeda.


"Cha, ayo sini udah siap semuanya. Kita makan! " ajak Reno setelah semua persiapan makan malam mereka selesai terhidang.


Dengan gelaran karpet sederhana jadilah moment makan malam ala lesehan yang tak terlupakan.


Icha masih mematung, menatap keempat sahabatnya dengan tatapan kosong.


"Hei, ayo! " kali ini Anita menarik paksa Icha yang masih bengong.


"Ah iya. " Icha pun tersentak kaget.


"Kamu kenapa sih, Cha? Ngelamun ya? Mikirin apa? "


tanya Anita khawatir.


"Jangan bilang kamu mikirin cowok yang tadi sore. " celetuk Anita lagi menggoda Icha yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Eh apa sih ! Enggak mana ada. "


"Mana mungkin mikirin dia, aneh-aneh aja. Ayo mana nih makanannya. Sorry aku jadi gak bantuin nyiapin ini semua. "


ujar Icha meminta maaf.


"Iya gak apa-apa Cha. Tapi kamu baik-baik aja kan? "


timpal Shintia memaklumi.


"Iya muka kamu pucet loh! " seru Hendri ikut mengkhawatirkan keadaan Icha.


"Gak ih gak apa-apa beneran. Aku cuman~"


" Udah ih di bahas terus aku laper,tahu !!" dengus Icha yang berpura-pura mengalihkan fokus keempat sahabatnya.


Reno, walau dia tidak menanyakan apapun namun bisa dilihat jika dialah yang paling mengkhawatirkan tingkah Marisa.

__ADS_1


Malam pun berlalu dengan kembalinya canda tawa diantara mereka. Moment yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi setelah semuanya nanti akan disibukkan dengan berbagai urusan masing-masing.


Pekerjaan yang menanti mereka kembali.


Marisa sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Malam terasa hening. Namun, mata ini sulit terpejam. Marisa masih menerawang menatap langit kamar. Di sampingnya ada Anita dan juga Shintia yang sudah pergi ke alam mimpi.


"Apa aku sudah gila, siapa dia? Sampai aku tidak bisa lupa dengannya. Tidak sopan. Bahkan dia main pergi gitu aja setelah membuat kaki ku terkilir. "


gumaman hati Marisa mengingat kehadian sore tadi.


Ia menghela nafas


berat.Mulai berusaha memejamkan matanya. Berdamai dengan keadaan sekitar yang masih asing. Dingin udara walaupun tak ada AC di kamar.


Berbeda dengan Jakarta, butuh alat pendingin itu hanya untuk menyejukkan ruangan agar bisa nyaman berada di dalamnya.


Marisa berbalik.Memunggungi kedua temanya. Mulai terlelap menyusul ke alam mimpi.


***


Keesokan hari-nya. Pagi-pagi sekali mereka terbangun. Sinar matahari menyeruak. Menampakkan diri. Menghangatkan tubuh. Berlima di dalam Vila yang cukup besar itu. Menghabiskan waktu semalam dengan bercanda dan tertawa. Bersenandung menghilangkan rasa lelah. Skripsi, sidang lalu wisuda.


Mereka lalui bersama. Dan saat ini, waktu yang tepat memanjakan diri.


Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?


"Kita lari pagi yuk! Sekitaran ini aja, mau? " ajak Anita, seperti biasa dialah yang selalu paling antusias selain Marisa.


"CHA!! " bentaknya setelah tak ada satupun yanh mau menjawab ajakannya.


"Iya iya ,kemana? Lari ya? Ayo! " Marisa sontak menjawab dan mengiyakan ajakan Anita.


"Kamu kenapa sih? " Kali ini Reno, dia yang sudah tidak tahan dengan sikap Icha sejak semalam.


Marisa yang dikenalnya bukan gadis pendiam yang hanya akan menjawab jika ada pertanyaan. Bukan seperti itu.


Dia akan jadi yang paling heboh apalagi kalau sudah urusan liburan atau menghibur diri.


Marisa yang nekat tak menghiraukannya saat pergi ke bar untuk pesta ulang tahunnya, setahun lalu.


Bukan mereka berempat yang menjerumuskannya, melainkan teman-temannya yang lain. Yang tidak ada disini. Yang sudah Marisa tinggalkan sejak ia tahu bahwa niatannya hanya untuk menghancurkan reputasi Marisa sebagai mahasiswi teladan.


"Gak apa-apa. Ayo katanya lari pagi. "


Ia pun kini beranjak meninggalkan keempat temannya yang masih menatapnya bingung. Marisa berganti pakaian lalu mengambil sepatu.Memakainya di hadapan mereka.


Marisa menggerakkan halis saat melihat Shintia, Anita ,Hendri dan Reno yang masih tak bergeming.


"Ayo! "


"Kenapa jadi dia yang paling bersemangat? " bisik Hendri, entah pada siapa pertanyaan itu ia tujukan.

__ADS_1


"Entahlah ,ayo! " Shintia menggedikkan bahu sama tidak mengertinya dengan Hendri.


Kelima-nya melangkah keluar Villa. Berlari kecil menyusuri jalan setapak.


Hingga sekitar dua puluh meter kemudian sampailah di jalan utama.


Dan disana pula mobil mereka berada. Terparkir di garasi villa. Cukup jauh dari tempat mereka menginap.


"Pagi ini semoga saja aku bertemu dengan pria kurang ajar itu. Seenaknya saja pergi tanpa minta maaf. " bisik hati Marisa masih saja jengkel dengan kejadian kemarin.


Beberapa kilometer tak terasa mereka tempuh. Berlari kecil menyusuri jalan pedesaan yang asri.


Di tengah jalan Marisa tertegun begitu melihat seorang pemuda yang menabraknya kemarin.


"Cowok itu~" Marisa menunjuk arah dimana dia berada.


Pemuda berpakaian muslim, dengan koko dan sarung juga peci bertengger di kepalanya. Pemandangan pagi yang menyejukkan.


Tampan, rupawan dan lagi sholeh.


Tunggu !


Berbeda sekali dengan yang kemarin.


"Eh iya, tapi kok beda ya? " Anita ikut terheran.


Tanpa banyak bicara lagi, Marisa berlari menghampiri pemuda itu .Dia yang ternyata hendak memarkirkan motor gede-nya di halaman masjid.


"Tunggu Cha, jangan gegabah mungkin aja bukan dia. " ucap Shintia memperingatkan.


"Dia tidak akan lolos dariku hanya karena pakaiannya yang berbeda. "


Dengan emosi Marisa mendatangi pemuda itu. Meraih dan menarik kerah baju bagian belakannya hingga dia berbalik menghadap Marisa.


Wajah Marisa terlihat memerah, entah karena marah,kesal, atau mungkin juga ia mengakui jika pemuda di hadapannya itu sangatlah tampan.


"Eh ada apa nih? " Dia tersentak kaget.


"Apa, apa! " Marisa bertolak pinggang,


" Kemarin kau lari setelah menabrak ku, dan kau lupa caranya meminta maaf. Biar aku ajarkan kepada mu cara meminta maaf yang baik. " cerocos Marisa tanpa mempedulikan lawan bicaranya yang tengah kebingungan.


"Apa ini maksudnya. Teteh siapa datang-datang langsung marah ?"


ucap pemuda itu menatap heran gadis di depannya.


Sementara Marisa hanya berdecak tak percaya. Ada orang yang berbuat salah kemarin sore, belum ada dua puluh empat jam tapi dia lupa. Pura-pura tidak mengenalnya.


"Wah wah hebat sekali ya kau ini. Heum !" Marisa melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jangan kau pikir dengan pakaian sok alim mu begini aku tidak akan mengenali mu. Kau laki-laki yang sama yang menabrakku di perkebunan teh kemarin sore. Kau pergi tanpa meminta maaf. " gadis itu dengan beraninya mendorong pemuda itu.

__ADS_1


Walaupun begitu tubuh tinggi tegapnya tak tergoyahkan.


__ADS_2