Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
86.Ameera bertemu Nando (Part 2)


__ADS_3

Keluh Ameera menceritakan apa yang terjadi setelah kepergiannya.


Nando terdiam sejenak mendengarkan ucapan Ameera.


"Padahal kakak nitip surat ke Rudi,dia gak ngasih surat itu sama Kakak kamu ya?" Tanya Nando.


Erik hanya terdiam mendengarkan perbincangan mereka berdua,sambil menikmati camilan dan minumannya,sesekali ia melirik pada pria bernama Nando.


Pria yang baru ia temui hari ini bahkan mengenal Rudi.


Nando yang terlihat lebih dewasa darinya,namun masih di bawah Tuan mudanya, Rudi. Terlihat mapan dan sukses dari caranya berpakaian.


Walau masih kerenan Haris.begitu pikirannya menerawang.


"Surat?" Ameera terlihat memikirkan sesuatu."Tunggu...!" Ia kembali mengingat-ingat.


"Kak Nando nitip surat ke kak Rudi?"


Tanyanya kemudian.


"Iya"


"Jangan-jangan" Ameera terkejut dengan ingatannya sendiri.


"Apa?" Nando sama kaget nya.


"Kamu tahu sesuatu?"


"Surat yang kak Rudi titip ke aku,iya surat itu..." Ameera menghela nafas berat.


"Surat itu?"


"Surat itu keburu di ambil ibu sebelum sampai ke tangan kak Divya.Ah aku pikir itu bukan dari kak Nando,Maaf ya kak?" Ameera menyesali apa yang terjadi,semua salahnya.Seandainya saja surat itu sampai ke tangan Divya mungkin tidak akan terjadi seperti ini.


Tidak akan terjadi perjodohan ini.


Entah kakaknya bahagia atau tidak.Atau pura-pura bahagia.Gadis polos itu merasa bersalah.


Dulu Ameera masih sangat kecil untuk mengerti semuanya.


Ia menurut saja pada ibunya ketika ibu mengatakan jika Divya tidak boleh tahu tentang surat itu.


Terjawab sudah kemana gerangan surat itu berlabuh,Divya yang awalnya menuduh Rudi menyembunyikan itu semua ternyata dia tidak bersalah justru adiknya lah yang menerimanya dari tangan Rudi,namun ibu merampasnya.Jelas divya tidak akan menerima itu jika sudah di tangan ibu Memangnya mau mengharapkan apa.


Tau sendiri bagaimana ibu,kan?


Bagaimana ia menentang hubungannya dengan pria ini,pria yang selalu ibu rendahkan derajatnya.


"Sudahlah Meera gak perlu merasa bersalah,Kakak mungkin memang tidak berjodoh dengan kakakmu" Nando menundukkan wajahnya,menyembunyikan penyesalannya.


"Kakak sama sekali gak berusaha menghubungi kami,kan? Kakak pergi kemana?" Pertanyaan Ameera selanjutnya,dijawab panjang lebar hingga tak terasa waktu beranjak senja.


Ameera melangkah gontay di samping Erik,pikirannya terus menerawang tentang bagaimana kehidupan kakaknya sekarang.


Ia tidak pernah tahu kakak perempuan- nya itu bahagia atau tidak,mengingat bahwa dia harus menikah dengan laki-laki asing seperti Tuan Haris.


Tampan ? memang benar.


Kaya? sudah pasti.


Tapi semua itu tidak bisa dijadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang dalam menjalani sebuah ikatan suci pernikahan.

__ADS_1


***


Nando merantau ke kota ini


untuk bekerja.


Kinerjanya di perusahaan terbilang bagus meski ia belum lulus kuliah.


Sampai Presdir perusahaan tempatnya bekerja,Wiryawan


selalu membangga-banggakan dirinya.


Lalu tak lama berselang ia di angkat anak oleh pemilik perusahaan itu karena menolongnya dari kebangkrutan dan juga menyelamatkannya dari serangan jantung.


Setahun kemudian Nando di biayai kuliah di luar negri.Setelah itu selang dua tahun kemudian Wiryawan ayah angkatnya meninggal dunia.


Nando sempat pulang bahkan berusaha menemui Divya.Namun,ternyata dia dan keluarganya sudah lama pindah.


Bahkan ia tidak tahu jika saat itu ibu Nika sudah meninggal,dan keluarga mereka bangkrut.


Nando kehilangan jejaknya.Ia juga tidak punya keberanian jika harus menemui Rudi dan menanyakan keberadaan Divya.


Akhirnya itulah yang terjadi.


Ameera terus memikirkan itu sebelum ia memberanikan diri bicara pada kakaknya.


Seperti halnya Nando,Divya juga merasa jika ini adalah takdir.Haris adalah jodohnya.


Jodoh yang di pilih paman,entah atas dasar apa.


Baginya sekarang adalah menjalani hidup bahagia seperti harapan sang Ayah.


berat,ketika mengingat kembali apa yang diceritakan Ameera.


Aku lega jika akhirnya dia bisa menerima kenyataan.


Berusaha memejamkan mata setelah waktu mulai beranjak pagi.


***


Waktu bergulir begitu cepat,setelah rencana bulan madunya ke Bali terpaksa batal lantaran satu hal.


Haris memutuskan membawa Divya berbulan madu ke luar negri, berdua.


London.Kota tujuan mereka.


Tanpa Rudi maupun Shila.


Temarang matahari menyinari pagi di kota London .


Sesosok anak manusia yang baru terbangun dari alam mimpi terlihat menggeliatkan tubuhnya di bawah selimut.


"Pagi sayangku" Satu kecupan mesra di kening Divya membuat raut wajahnya merona merah.


"Hai,kau sudah bangun?"


Bahkan ini masih pagi .


Melirik jam menununjukkan pukul 08.00 waktu setempat.


Tidak biasanya Haris bangun sepagi ini.

__ADS_1


Sudah hari ke lima mereka berada jauh dari keluarga.


"Aku bawa sarapan,kamu mau makan?" Tanya Haris,membelai lembut rambut istrinya yang terurai diatas bantal.


Divya bangun dan terduduk dengan selimut membalut tubuh polosnya.


"Nanti saja,aku mau mandi sayang" Jawabnya tersenyum,


"Kau sudah mandi?" Menggulung rambut asal,matanya melirik sekitaran bantal mencari kemana perginya jepitan rambut yang semalam ia pakai.


"Ini?" Haris menyodorkan benda berwarna hitam itu tepat di hadapannya.


"Aku sudah mandi tadi"


"Ya" Divya tersenyum,meraih itu dan memakainya.


Kenapa sampai ada di bawah?


ah ya dia memang melemparnya semalam.


"Ya sudah kau mau mandi kan? Mandi dulu sana,aku tunggu sarapan.Setelah itu kita jalan-jalan" Titah Haris


"Mau aku gendong ke kamar mandi?" Tanya nya menawarkan diri,seperti biasa.


"Tidak usah sayang aku bisa sendiri"


"Ok !" Tanggapannya singkat kemudian kembali mencium kening Divya sebelum berlalu menuju balkon hotel tempat mereka menginap.


Tempat yang menunjukkan keindahan kota London dari lantai atas kamar tidur mereka.


Sudah terhidang sarapan di meja .


Di samping tempat duduk Haris saat ini,menunggu Divya istrinya itu yang sudah beranjak ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Divya datang dengan memakai handuk yang masih membungkus bagian kepalanya.


"Hai,sayang" Tanpa di minta Divya kini sudah mulai berani mendaratkan kecupan lebih dulu di pipi bahkan bibir Haris.


"Hai,sudah selesai" Meraih pinggang Divya membawa kepangkuannya.


"Heum ..." Menghirup aroma tubuh segar itu,wangi sabun semerbak menerpa indera penciumannya.


"Kenapa sayang?"


"Wangi" Masih sibuk menghirup aroma tubuh istrinya bahkan sampai menciumi lehernya.


"Hei sudah geli tau,ayo katanya sarapan lapar nih"Keluh Divya kemudian.


Melirik makanan di atas meja.


"Hahaha iya iya,ayo" Haris pun melepas tautan tangannya di pinggang Divya.


Mereka berdua menghabiskan sarapan lalu setelah itu bersiap untuk pergi keluar ,jalan-jalan .


Ah bahagia rasanya bisa keluar kamar ini.Bisik hati Divya.


Ia bersorak girang ,terang saja setelah seharian kemarin hanya bisa di dalam kamar,Haris sama sekali tak mengajaknya keluar .


Sebelumnya mereka juga hanya berjalan-jalan sebentar,nonton dan berbelanja itupun Divya membujuknya sedemikian rupa karena untuk bisa mengajak tuan satu ini keluar memang harus memakai jurus tersendiri.Jurus rengekan seperti anak-anak meminta mainan pada orangtuanya.


Ah merepotkan.

__ADS_1


__ADS_2