Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Langit London


__ADS_3

"Jalan-jalan jalan-jalan...Yeaah" Berjingkrak sendiri ,kegirangan di depan cermin.Mengeringkan lalu menyisir rambutnya.


Haris menatapnya dari sofa berdecak melihat tingkah lucu istrinya yang seperti anak kecil.


"Hei sayang kau mau jalan-jalan atau mau disana saja menatap bayanganmu sampai malam?" Haris melirik jam di pergelangan tangannya sudah pukul 11.00 waktu setempat.


"Hahaha iya iya sayangku,lama ya? Maaf" Sok imut


"Sebentar ! "


"Heum" Memangku dagu dengan sebelah tangannya di pinggiran sofa.


Memandang ponsel sejenak ketika terdengar notifikasi tanda pesan masuk.


"Sayang,rambutku dibiarkan tergerai atau di kuncir" Tanya Divya meminta pendapat Haris.


"Biarkan saja.Begitu lebih bagus jangan dikuncir aku tidak suka " Jawab Haris tegas,ia memang lebih suka melihat rambut indah Divya terurai tanpa diikat.


"Ah pasti panas, kan? kita mau jalan-jalan kemana? Rambutnya aku kuncir saja ya?" Ujung-ujungnya ambil keputusan sendiri, lantas untuk apa bertanya.


"Astagaaa...terserah lah" Haris sudah menyerah menghadapi makhluk aneh bernama perempuan.


Menjengkelkan.


Ia merebahkan diri di atas sofa,memejamkan mata.


Lebih baik pura-pura tidur saja.Pikirnya.


"Hahaha" Divya tergelak puas.


"Ayo berangkat !"Sudah menarik tangan Haris,memaksanya bangun dari posisi berbaring.


***


Puas berkeliling menyusuri jalanan kota London inggris,meski di bawah terik matahari tak menyurutkan semangat Divya.


Pergi makan siang dan berbelanja,mereka berdua menuju sebuah cafe,waktu menunjukkan saat ini sudah lewat tengah hari, menikmati secangkir kopi sebelum kembali ke hotel tempat mereka menginap sepertinya menyenangkan.


Haris sudah duduk berhadapan dengan istrinya yang terlihat ceria.


Ia tersenyum menatap.


"Kenapa?" Tanya Divya yang heran melihat suaminya tiba-tiba tersenyum dengan mata tak berkedip memandangi nya.


"Gak"


"gak apa-apa sayang,kamu seneng?"Haris menggenggam tangan Divya di atas meja,erat.


Divya tersenyum lantas menganggukkan kepala.Tanda jika dia memang benar-benar menikmati harinya.


"Sayang" Sambil menunggu dua cangkir kopi yang baru saja ia pesan datang Haris kembali mengajak Divya bercengkrama.


"Heum,apa sayangku?"


"Sayang memangnya kalau wanita hamil itu aneh-aneh ya permintaannya?" Pertanyaan yang sontak membuat dahi istrinya mengkerut heran,kedua alis bertaut,tanda tak paham dengan apa yang dibicarakan suaminya itu.


"Maksud aku Shila" Sambung Haris memperjelas maksud pertanyaannya.

__ADS_1


Shila istri sekertaris sekaligus kakak iparnya sekarang memang sedang mengalami yang namanya ngidam.


Pagi tadi Rudi mengeluhkan banyak permintaan Shila dan ngidamnya yang aneh-aneh.Dan hal itu pula yang menjadi alasan keduanya tidak jadi ikut berbulan madu ke Bali seperti yang direncanakan sebelumnya.


"Owh...itu" Sejenak Divya menjeda kalimatnya saat pesanan kopi datang terhidang di hadapan mereka .


"Ya tergantung sayang,setahu aku setiap kehamilan itu berbeda-beda" Lalu iya menyeruput es kopi sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.


Divya memang pecinta drink coffee.


Ia tidak begitu menyukai kopi panas.


Lain halnya dengan Haris yang lebih menyukai kopi dengan seduhan air panas ,menyeruputnya sampai tandas selagi masih hangat.


"Memangnya kenapa sama mba Shila?"


Tanya Divya kemudian.


"Kata kakak kamu dia mintanya yang aneh-aneh" Jawab Haris.


"Kamu kalau hamil jangan kayak gitu ya?"


Tegas Haris mengancam.


Uhuk uhukk... Divya yang sedang menikmati minumnya pun sampai tersedak.


"Hei pelan-pelan" Haris mengusap lembut punggung Divya.


"Aku becanda sayang,gak serius banget kok,hahaha sampe kaget gitu".


"Hahaha..iya iya.Tapi mau kan?" Goda Haris.


"Apa?"


"Hamil !"


"Kalau dipercaya. Perempuan mana sih yang gak mau hamil,terus punya anak" Jawab Divya yakin dirinya memang menginginkan hal itu,lebih-lebih sekarang Haris sudah benar-benar menganggapnya penting.


Bagian dari hidupnya yang akan selalu ia sayang dan selalu ia jaga.


Perhatian dan kasih sayang yang ia rasakan dari Haris sudah lebih dari cukup untuknya yakin menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


Belum lagi sang ibu mertua yang kini memintanya untuk segera memberi cucu sebagai penerus keluarga.


"Ok! usahanya makin rajin kalau gitu" Memegang dagu Divya, mengedipkan sebelah matanya.


Divya yang tahu arah perkataan Haris refleks memukul tangannya.


"Hei!"


"Suttt malu tahu" Menempelkan jari telunjuknya di bibir.Matanya mengitari sekeliling,orang-orang yang tengah duduk menikmati minuman dan makanannya.Ada yang nampak acuh,ada pula yang menatap heran melihat dua insan yang tengah membahas kehamilan itu.


"Hahaha biarin sayang,ini London gak ada yang paham,tenang saja" Haris malah tergelak senang.


"Eh,tidak ada jaminan mereka tidak paham bahasa Indonesia,kan?" Melotot kesal.


"Hahaha" Tergelak lagi kan,dasar.

__ADS_1


"Sayang aku ke toilet sebentar ya" Setelah puas tertawa dia kebelet pipis mungkin.


"Iya pergi sana!" Divya mendengus.


"Eh!" Haris yang sudah hendak melangkah pun berhenti.


Membalikkan kembali badannya menghadap ke arah Divya.Istrinya itu nampak pias.Apa dia marah? mungkin saja kan,Haris memang gampang emosi.Tapi tidak,justru ia mendaratkan kecupan di kening Divya.


"Jangan kamana-mana,tunggu aku disini.Ok! Jangan nakal" Satu kedipan mata disertai ultimatumnya kemudian.


Membuat Divya menggeleng-gelengkan kepala.


Iya iya memangnya kau pikir aku mau kemana.


Menjawabnya dengan tersenyum.


Sepeninggal Haris ke toilet,seorang waiters datang menghampiri.


Waiters itu memang sedari tadi memerhatikan mereka berdua.


Dengan berpura-pura membereskan,dan mengelap beberapa meja di samping tempat duduk Divya dan juga Haris.


"Permisi !" Waiters itu mulai mendekati.


"Ya" Jawab Divya heran,ia tidak memanggilnya kan.


"Maaf nona,nona Veronika bukan ya ?"Tanya waiters yang kira-kira seusianya itu ragu.


Divya tidak langsung menjawab.Ia mengerutkan keningnya mengingat wajah wanita di hadapannya.Bertanya heran dalam benaknya.


Mengapa dia tahu namaku?


"Eh salah ya,maaf nona" Waiters itu merasa jika dirinya salah ketika menatap Divya yang hanya diam bahkan tidak menjawab sama sekali.


"Sekali lagi saya minta maaf,nona.Saya mungkin salah orang"Menganggukkan kepalanya sopan.


"Saya permisi,maaf menganggu waktu nona"


Ia sudah akan beranjak pergi.Namun,tiba-tiba Divya memanggilnya.


"Kamu siapa? bisa bahasa Indonesia,apa kamu dari Indonesia?" Tanya Divya sambil menatap lekat perempuan itu.Wajahnya memang terlihat seperti orang asia,Indonesia tepatnya.


"I iya nona" Waiters itu nampak gugup.


"Dari mana kau tahu namaku? apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Divya heran.


Dia merasa tak pernah melihat atau bahkan mengenal wanita yang memakai seragam waiters itu.


"Mungkin tidak nona.Tapi,saya cukup mengenal anda,itupun jika benar anda nona Veronika yang sama seperti yang selalu sahabat saya ceritakan" Jelas wanita itu panjang lebar.


"Sahabat?" Mengerutkan dahi lagi.


"Siapa?" Menggigit bibir bawahnya sendiri,semakin membingungkan.


"Baik,duduklah !" Perintahnya pada wanita itu untuk duduk ditempat duduk Haris.


Namun si waiters itu menolak ia lebih memilih untuk tetap berdiri.

__ADS_1


__ADS_2