Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kecelakaan Marisa


__ADS_3

Haris membujuk Marisa yang masih terdiam mematung tanpa sepatah katapun.


Hanya bahu Marisa yang terlihat bergerak seiring deru nafas yang terdengar lebih cepat,seakan menahan emosi yang ada pada dirinya.


"Sayang,aku bisa jelasin ini.Kamu dengerin aku dulu ya"


Bujuk Haris lagi.


"Laras ! Jelaskan kesalahpahaman ini sekarang"


Gertaknya pada Laras yang malah disambut seringai penuh kemenangan.


"Mau jelasin apalagi sayangku,sudah jelaskan semuanya,dia sudah melihatnya sendiri" Laras berdiri di hadapan Marisa dengan sebelah halisnya terangkat,melecehkan.


Plakk.


Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis licik itu.


Ia mengusap pipinya dengan senyum miring. Sementara Marisa berbalik dan mendelik ke arah Haris sudut matanya berlinang ,tatapannya nanar.


"Sayang"


Haris menyentuh bahu Marisa.


"Puas !"


Marisa menepisnya kasar.


"Ini yang ingin kau tunjukkan padaku !"


Menuding Haris dengan telunjuknya.


Lalu pergi begitu saja meninggalkan Haris,ia berlari memasuki lift.


Sementara Haris,setelah ia mengenakan pakaian yang ia raih dari paperbag dengan tergesa menyusul Marisa yang sudah tidak ada di baseman dia sudah pergi dengan mengendarai mobil pemberian Haris.


Dihari Anniversary mereka beberapa waktu lalu Haris memberinya hadiah sebuah mobil.


Meski Marisa menolak keras Haris tetap memaksanya agar menerima pemberiannya itu.


Mendengar semua itu tentu saja membuat darah Rahma semakin mendidih hingga puncaknya ia meminta Laras untuk datang membantunya memisahkan Haris dari Marisa.


"Ah sial !!" Haris menendang udara dengan kesalnya.


Dia bahkan melupakan kunci mobil dan ponsel disaat seperti ini,benar-benar SIAL !


Kembali naik ke apartemen dengan tergesa,menendang pintu yang masih sedikit terbuka.


Menyeret Laras dari sofa.


Membentak dan meneriakinya dengan emosi.


"Datang kesini,urus gadis sialan ini !"


Titahnya dalam satu panggilan,entah siapa yang dia hubungi lewat sambungan telpon.


Lantas Haris langsung meraih dompet dan kunci mobilnya.

__ADS_1


Ia melajukan kendaraannya dengan sangat sangat gila,bahkan menerobos lampu lalu lintas yang sudah berubah warna merah begitu saja.


Betapa hancurnya semua harapan Haris ketika di depan sana ia terjebak kemacetan,bukan ! Bukan itu yang membuatnya kehilangan harapan melainkan penyebab dari kemacetan yang terjadi ialah adanya sebuah mobil yang mengalami kecelakaan di depan sana,mobil dengan nomor plat seri yang sangat ia hapal.Terang saja Haris yang membelinya dan memberikan mobil itu kepada kekasihnya,Marisa.


Marisa sudah dalam keadaan mengkhawatirkan,terjepit badan mobil dan kehilangan banyak darah.


Ia segera di evakuasi dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Haris menemani Marisa di dalam ambulance.Ia terus menghubungi siapa saja yang bisa membantunya saat ini.


Dengan mengerahkan seluruh anak buahnya semua urusan bisa ia bereskan lebih cepat.


Beberapa menahan Laras,yang lainnya mencaru tahu penyebab kecelakaan.


"Permisi tuan!"


Seorang ajudan mendekati Haris saat ia menatap wanita malang itu di balik kaca ruangan ICU sebuah rumah sakit.Dengan segala peralatan penyangga kehidupan.


Marisa,akhir dari luka hatinya kini ia terbaring lemah di dalam sana.


"Ya ! Katakan !"


Hanya menjawabnya datar.Sang Ajudan mengerti apa yang ingin tuannya dengar.


Sekali ia menghela nafas.


"Polisi menemukan peluru di ban mobil Nona"


Terlihat rahangnya mulai mengeras.


"Siapa?"


"Heum"


Haris menggerakkan tangannya menandakan jika ia sudah cukup puas dengan laporan ajudannya itu.


"Bagaiman Rud !"


Kini ponsel sudah berada di telinga Haris.


"Beres tuan,nona Laras sudah ditahan pihak kepolisian ".


Suara di sebrang sana menyahut.


"Bagus ! Usut sampai tuntas!"


"Baik tuan !"


Jawaban terakhir dari Rudi,sekertaris Haris.Pria yang selalu mengekor di belakang Haris,melindungi serta membuat apapun berjalan lancar sesuai keinginannya.


Haris kembali menatap kaca,menampar benda transparan itu dengan tatapan pilu. Bagaimana tidak,disana di depan matanya terbaring tubuh penuh derita,Gadisnya gadis pujaan hatinya yang terluka.


Bagaimana aku menebus kesalahanku sayang ? Bangunlah biarkan aku menjelaskan semuanya,sadarlah sayang.Aku memcintaimu hanya mencintaimu.Tak terasa linangan airmata menetes menyusuri pipi seiring batinnya yang terus memohon agar Marisa segera sadar.Laki-laki tangguh dengan segala kekuasaannya itu tak mampu menahan derai airmata,begitu dalam cintanya hingga begitu besar pula luka di hatinya melihat wanita yang teramat ia cintai harus menderita seperti ini.


Haris mengusap airmatanya kasar.Ia teringat kata-kata Marisa,mengapa ia sampai ada di apartemen itu semua karena ibunya sendiri.


"Mama !"

__ADS_1


"Ini semua ulah Mama " Ucap Haris setengah berteriak.


"Bukankah sudah ibu katakan,rahasiakan status Marisa jika ingin hubungan kalian baik-baik saja.Lihatlah sekarang apa yang terjadi pada putriku"


"Ibu !"


Suara seseorang menyadarkan Haris dari segala emosinya,ibu Inah sudah ada di belakangnya sekarang.


Ibu angkat Marisa datang setelah mendapatkan kabar dari Rudi perihal yang terjadi pada putri angkat yang sudah seperti putri kandungnya sendiri.


"Maafkan saya, Bu. Saya gagal menjaga Marisa"


Ucap Haris pada ibu Inah,disambut senyum getir di bibir wanita paruh baya itu.


"Ini sudah menjadi takdir hidup putriku,kau tidak salah tapi aku yang salah"


"Apa maksud ibu?"


Tanya Haris tidak mengerti apa yang di maksud ibunya Marisa .


"Aku membiarkan putriku dalam bahaya,padahal aku tahu pasti seperti inilah akhirnya"


Menjawab dengan pandangan lurus kedepan,menatap pilu Marisa di depan sana dengan tatapan kosong.


"Seperti ini kejadiannya jika dia dekat dengan iblis bertopeng malaikat.Dulu,Marisa lolos dari kematian dan sekarang dia hampir mendekati kematian,bertahanlah nak.Karena sebentar lagi kau akan tahu siapa orangtua kandungmu"


Lirih bu Inah dalam hatinya.


Sementara Haris mengusap sisa airmata,menghirup udara sebanyak mungkin demi meluangkan rasa sesak di dadanya.


Ia pergi begitu saja meninggalkan ibu Marisa disana bersama beberapa pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga ruangan tempat Marisa di rawat.


"Kabari apapun perkembangan nona !"


Ultimatumnya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


Malam kelam dilaluinya dengan banyak pertanyaan.Mengapa ibunya sendiri tega melakukan semua itu kepadanya.


Mengapa Rahma begitu membenci Marisa setelah ia tahu jika gadis yang dipacarinya setahun lebih ini hanyalah seorang anak angkat.Apa yang sebenarnya di sembunyikan Mama.


Haris melajukan kendaraan di tengah keheningan malam,ia tak tahu mengapa hatinya begitu sakit jika mengingat semua karena ibunya sendiri.


Hingga sampai di rumah emosinya sudah tak bisa ia kendalikan lagi.


Mengamuk dan merusak semua barang yang ada di dekatnya.


Santoso sang ayah yang tidak tahu apa-apa apa itu mencoba melerai putranya.


"Tanyakan itu pada istrimu "


Menuding Rahma dengan telunjuknya yang gemetar penuh amarah.


Rahma mundur beberapa langkah menjauh dari jangkauan Haris,ia tidak tahu jika kejadiannya akan membuat putranya separah ini.


"Tanyakan apa yang dilakukan istrimu"


Haris mencengkram kerah baju Papa Santoso dengan lemah,memukul pelan dadanya sambil terisak.

__ADS_1


Bagaimana mungkin putranya yang tangguh ini bisa terlihat hancur dan kacau begini apa yang tidak ia ketahui.


Santoso lantas mendelik tajam pada Rahma,istrinya.


__ADS_2