Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 13


__ADS_3

Marisa mengambil buku-bukunya yang berserak di lantai, saat seseorang di hadapannya mendehem dan memanggilnya 'Teteh Icha' membuat wajahnya berbinar.


"Haz~Lan !" dengan suara memelan, seketika wajah Marisa berubah menjadi muram saat dia melihat seseorang di hadapannya bukanlah orang yang ia harapkan.


"Fadlan, kau ! " Marisa mengangkat telunjuknya ke udara. Menuding wajah Fadlan.


" Kenapa? Kelihatannya kecewa banget bukan Hazlan yang ada di hadapanmu, bu dokter "


halis Fadlan terangkat naik.


" Eh ,bukan gitu maksud gue. Sorry !"


Marisa tersadar ia berada disana untuk mencari adiknya.


"Anna! " gumamnya.


"Anna? " Fadlan mengulang nama yang Marisa sebutkan.


Ia panik mencari adiknya itu. Dan terus memanggil-manggil nama Anna.


Fadlan mengikutinya dari belakang, ikut juga mencari walaupun ia tidak tahu seperti apa Anna itu.


" Lo cari siapa sih sebenarnya? " tanya Fadlan kemudian saat ia merasa lelah sudah berputar -putar dan berteriak namun yang dicarinya entah dimana.


" Hai. " suara menyebalkan itu akhirnya terdengar.


"Anna !! " Marisa menggeram kesal.


"Darimana aja kamu, bikin aku pusing tahu ! Kalau ilang gimana? Kamu mau aku digantung ayah ya ! " bentak Marisa sambil menjewer telinga adiknya.


"Aw sakit, " Anna menepis tangan kakaknya.


Fadlan yang melihat itupun membela gadis kecil bernama Anna itu. Merasa ada yang membela Anna pun menghampiri Fadlan dan bersembunyi di balik punggungnya.


"Tolong, tolong aku ! Selamatkan aku dari monster itu,kak ." rengeknya di belakang Fadlan.


"Iya ,iya, tenang ada kakak ganteng disini ." ucap Fadlan dengan terkekeh.


"Hei !" Marisa melotot tajam.


Ia berusaha meraih Anna dengan merentangkan tangannya.


"Tunggu, tunggu ini anak lo? " Sama halnya dengan yang dilakukan Marisa,Fadlan pun merentangkan kedua tangannya menghalangi Marisa.


Hingga mereka terlihat seperti sedang berpelukan.


"Hei, " Marisa menepis tangan Fadlan yang menyentuh bahunya.


" Dia bukan anakku ,enak saja !! "


"Haha iya benar kak, dia ibuku, ibuku yang kejam. " mendengar pengakuan Anna semua orang yang melintas pun menoleh dan saling berbisik.


"Eh , Anna jangan aneh-aneh deh. "


"Bohong semuanya, dia adikku. "


kali ini Marisa benar-benar menarik Anna, dan membawa ke pelukannya, memegang kedua pundak anak itu di hadapannya.


" Dasar anak nakal, kalau begini kakak gak mau antar kamu kemana-mana. Bikin malu tahu ! "


Marisa mencubit kedua pipinya gemas.


" Jadi adik manis ini adiknya dokter cantik ya? " Fadlan menangkup sebelah pipi Anna.


" Haha iya kak, tapi lebih pantas jadi anaknya sih. Habis kak Icha kelihatan tua. " ia menjulurkan lidah meledek kakaknya.


"Eh ! "

__ADS_1


Marisa memegangi sisi wajahnya sendiri.


Fadlan tergelak melihat hal itu. Dan Anna terkekeh geli.


"Kakak pacarnya kak Icha ya? " celetuk Anna,membuat Marisa dan Fadlan sontak saling melempar tatapan.


"Bukan, " ~ " Calon ! "


Serentak keduanya menjawab dengan jawaban yang berbeda.


"Oh calon ya? " Anna mengangguk-angguk. Sementara Marisa mengibaskan tangannya ,


menyangkal .


Setelah perdebatan kecil diantara mereka.


Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari toko buku, berjalan beriringan menuju Stand makanan.


"Jadi, Haz berangkat besok? "


"Heum, " jawab Fadlan sambil mengunyah makanannya.


"Lo ngapain disini? "


Apa masalahnya jika Fadlan ada di Jakarta. Tidak.


Di toko buku. Marisa pikir pemuda seperti Fadlan tidak punya alasan untuk ada di toko buku. Ia yang terbiasa di pinggir jalan dengan minuman dan kartu gaplehnya.


"Lo pikir gue gak ada kerjaan selain nongkrong di pinggir jalan. Atau ikutan balap liar, Hah? "


Tahu apa yang Marisa pikirkan.


Dia ini peramal ya.


Marisa melengos.


"Gue kan udah mau masuk kuliah juga."


Bahkan ini sudah toko ke empat yang Fadlan kunjungi, nihil tak satupun yang menjualnya. Hingga ia putus asa.


" Buku apa sih? Coba lihat! " Fadlan menunjukkan foto buku yang ia maksud.


"Buku ini? " gumam Marisa.


"Aku seperti pernah melihat, " ucapnya lagi membuat wajah Fadlan berbinar.


Marisa mengingat -ingat dimana ia pernah melihat buku tersebut.


Buku fiqih yang sudah tidak diterbitkan lagi. Jika mungkin ada yang menjualnya pun akan sangat jarang.


"Kamar Opa! " seru Marisa begitu ingatannya yakin pernah melihat buku itu.


Ia bergegas pamit pulang. Meninggalkan Fadlan yang masih mematung . Membawa serta Anna hingga ke dalam mobil.


Mobil melaju cepat. Dan begitu sampai Marisa langsung melesat menuju kamar Opa Santoso. Mencari buku itu di rak yang berdiri tegak di pojok ruangan.


Nafas Marisa memburu dan Huft ia menarik nafas lega begitu mendapati apa yang ia cari.


***


Keesokan harinya Marisa meluncur menuju bandara dimana Hazlan akan berangkat menuju Kairo, Mesir.


Ia berputar -putar mengelilingi bandara. Mencari keberadaan Hazlan diantara ratusan penumpang.


"Hazlan ! " ia berteriak memanggil nama itu.


Sampai saat ia hampir putus asa. Seseorang muncul di hadapannya. Dialah yang Marisa cari, Hazlan.

__ADS_1


Ia berbinar hingga refleks hampir memeluknya jika saja Marisa tidak langsung mengingat seperti apa laki-laki di hadapannya itu.


" Ada apa, kamu cari aku? "


Tidak terdengar seperti biasanya, Hazlan memanggilnya dengan sebutan 'kamu' . Marisa mengernyit bingung.


"Ah syukurlah. Aku pikir kau sudah berangkat tadi,Haz."


"Masih dua puluh menit'an lagi pesawat ku lepas landas, ada apa? Fadlan bilang kamu mau bertemu denganku. "


Eh? Kapan Marisa mengatakan itu padanya. Dasar Fadlan. Marisa merutuki kembaran Haz itu. Perkataannya membuat wajah Marisa merona merah .


Malu.


" Aku~ aku kesini untuk, " Marisa merongoh tas nya.


"Ini ," ia menyodorkan buku yang sedang diinginkan Haz.


"Buku ini, " Haz menerimanya dengan senang.


"Aku tahu dari Fadlan kalau kamu lagi pengen buku itu. Makanya aku kesini. "


Tidak pernah seumur hidup Marisa mendekati laki-laki lebih dulu. Ah malu nya! Jika biasanya mereka yang akan lebih dulu mengejar-ngejar Marisa. Kali ini seperti nya akan berbeda.


Pemuda yang usianya lebih muda ini berhasil mencuri hati seorang Marisa .


" Iya dia bilang sudah banyak toko yang dia kunjungi tapi buku ini tidak ada. Lalu kenapa teteh punya bukunya ?"


Ah kenapa teteh lagi manggilnya. Ayolah Haz, terkesan tua aku disini. Lihat semua yang lewat menatap bingung, kan jadinya.


" Jangan berkecil hati Marisa ! " ucapnya pada diri sendiri.


"Hah apa? " Haz seperti mendengar Marisa mengatakan sesuatu.


"Eh nggak! Gak apa-apa. Itu buku punya almarhum Opa aku. Udah agak sedikit lusuh sih, karena kan itu buku lama.Tapi lumayan lah masih bisa dibaca. Udah, berangkat gih nanti ketinggalan pesawat loh !" titah Marisa meminta Haz segera naik ke pesawat.


Tidak lama kemudian umi Nara dan abi Yunus juga ada disana bersama Fadlan.


Marisa nampak malu-malu. Ia dengan gugup menyalami kedua orangtua si kembar Hazlan dan Fadlan itu.


"Haz! " panggil Marisa lagi ketika Hazlan hendak meninggalkan tempat.


Marisa menghampiri nya dan mengatakan sesuatu.


" Semoga kuliah mu lancar ya, sukses dan jadi ulama yang hebat. " sepenggal doa dan harapan Marisa ucapkan tepat di hadapan Haz. Membuat pemuda itu mengulas senyum.


Seakan meleleh hati Marisa melihat senyuman itu ,hingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Fadlan dengan senangnya menghampiri lalu merangkul pundak Hazlan.


"Kau mau aku berbuat apa sebelum kau pergi ke negri orang? " ucapnya.


"Apa?" Haz bingung.


"Kakak cantik ini akan menunggu mu hingga kau pulang nanti. Beri dia kepastian atau aku yang akan membuatnya jatuh cinta, Haz." canda Fadlan.


Tentu saja itu membuat Marisa tersenyum malu.


Apalagi Umi dan Abinya ada disana.


Mereka tengah menggeleng-gelengkan kepala menatap tingkah kedua putranya.


"Hei. Aku bercanda lagi,serius amat. Tenang aku yang akan jaga calon adik iparku ini. "


Fadlan mengangkat tangannya, mengajak Hazlan melakukan 'tos' 'adu tinju' seperti yang sering ia lakukan dengannya.


Begitu Haz mengalihkan tinjunya kehadapan Marisa, gadis itu terkejut.

__ADS_1


Haz yang mengerti itupun meletakkan buku sebagai pembatas kedua tangan mereka agar Marisa tidak sungkan melakukannya.


"Bukan muhrim, " ucapnya sambil terkekeh.


__ADS_2