Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Mantannya Ayah


__ADS_3

Marisa nama gadis yang berhasil menaklukkan kerasnya hati tuan muda.


"Tunggu -tunggu ! Marisa? "


Icha sampe melongo saat mendengar bahwa nama mantan kekasih ayahnya itu nama yang sama dengan dirinya.


"Gimana bisa namanya di pakai jadi nama aku. Bunda? " Icha menatap bunda Divya, serius.


"Iya bun, bunda gak cemburu gituh? "


Leo ikut menimpali.


"Enggak dong masa bunda cemburu sih sama kakak bunda sendiri. " ucap Divya.


"What !! Kakaknya bunda? Jadi ayah gak dapetin kakaknya lari ke adiknya gituh. "


Icha yang menanggapi kenyataan itu semakin heran.


Divya nampak terkekeh,


"Kalian tanya sendiri sama ayah


kalian, "


Skenario perjodohan yang ayah Ibrahim buat, nyata mempertemukan Divya dengan kehidupan yang tidak biasa. Rumit, berliku.


Bahagia? Namun juga perih.


Perih karena banyak hal yang terungkap setelah pernikahan itu terjadi.


Menyesal ? Entahlah tapi bagi Divya, ia tak mampu lari dari kenyataan ataupun dari perasaan.


"Semoga kalian tidak mengalami hidup serumit bunda, " gumam hati Divya.


Sekelebat bayangan selalu menghantui-nya. Bahkan di usianya yang sudah setengah abad, rasa takut itu masih ada.


Divya mendengarnya. Mendengar apa yang Rahma katakan saat itu.


" Bunda ! Bunda kok bisa nikah sama mantan kekasihnya kakak bunda sendiri gimana ceritanya, ayo dong. Ayah gak mau cerita tuh! Dia sekarang dimana?


Tante Marisa?


Kenapa aku di kasih nama dia? "


Rengekan serta rentetan pertanyaan Marisa yang menuntut jawaban.


"Wajah dia seperti apa bunda, mirip bunda gak? "


Tak kalah nyaring suara Leo juga menunggu jawaban.


Haris menggeleng. Kedua anaknya malah membahas masa lalu dirinya setelah sebelumnya menanyakan perihal opa mereka.


Meladeni dua remaja ini memang tak ada habisnya.


"Mirip, mirip banget tanya ayah , katanya tante Marisa itu cantik. "

__ADS_1


ucap Divya mulai dengan jawabannya.


"Kok katanya sih bun? " Icha semakin dibuat bingung, lihat saja dahinya yang mengkerut kini semakin dalam.


"Itu karena bunda kalian tidak tahu soal Marisa-nya ayah. " senyum Haris menyiratkan ada makna dibalik kata 'Marisa-nya ayah'.


Divya tidak peduli akan hal itu sekarang.


Dan Haris pun menceritakan segalanya. Bagaimana ia bertemu Marisa-nya, hingga perpisahan itu terjadi. Hanya satu yang Haris tutupi yaitu siapa penyebab ia kehilangan wanita itu.


Bagaimanapun Haris tidak ingin kedua anak remaja-nya itu berpikiran buruk tentang Oma-nya sendiri.


"Jadi tante Marisa itu udah gak ada. Eum ayah pasti sedih banget ." Icha tertegun menatap ayahnya. Bisa ia rasakan jika beliau begitu kehilangan.


"Dan bunda baru tahu kalau tante Marisa itu kakak bunda setelah dia gak ada."


Serupa dengan Marisa, Leo menatap haru bundanya.


"Aduh ini kenapa kalian jadi melow gini sih, " Divya menyeka sudut matanya yang menggenang.


" Kalian mau lihat gimana tante Marisa kan, mau tahu wajahnya? "


imbuhnya tersenyum mengusir kesedihan.


"Kan katanya mirip bunda, "


"Tante Marisa jauh lebih cantik, kalau kalian mau tahu, lihat di ruang gallery ayah. Ada satu fotonya tersimpan di laci nakas di pojok ruangan. "


ucap Divya memberitahukan jika masih tersimpan satu foto Marisa kakak kandungnya disana.


Begitu penasarannya ingin melihat wanita pertama di hati sang ayah.


Ah tidak, bukan Marisa wanita pertama bagi Haris karena nyata-nya Haris mengenal Divya saat wanita itu masih berusia dua tahun.


Masih di tempat yang sama Haris mengernyit heran. Ia berusaha membuang semua kenangan .Walau sulit dan dia memaksakan kehendaknya untuk tetap menyimpan satu foto tanpa Divya tahu.


"Kenapa ?" Divya menatap lurus dimana Haris tengah bertanya dalam diam.


"Kau tahu? " Haris menjawab tanpa mengubah air muka-nya.


"Tentu saja aku tahu. Kau sering datang kesana dan menceritakan apapun padanya. " Divya pun memilih memalingkan wajahnya.


"Temani mereka, ini waktu yang baik untuk mu lebih mengenal kedua putra putri kita." ucap Divya.


Ia melangkah meraih foto almarhum Mama dan Papa mertuanya .


Sedangkan Haris keluar kamar menyusul Icha dan Leo ke ruang galeri.


Divya benar. Haris tak memiliki banyak waktu bersama anak-anaknya.


Ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Dan hanya di akhir pekan seperti inilah ia bisa menghabiskan waktu dengan anak-anaknya.


"Aku rela kalaupun harus menjadi Marisa di hati Haris putra kalian,asalkan dia tidak mengkhianati ku. Pengorbanan ku hingga detik ini tidak sedikit. Aku tidak akan pernah menyesali semuanya. Tidak ada yang perlu Mama khawatirkan tentang aku. Jerat cinta Haris tidak akan mampu melepas benang merah di kaki ku yang sudah aku ikat sendiri. Asalkan Haris tetap bernyawa dengan jiwanya, bukan seperti mayat hidup yang kejam dan seenaknya"


Bulir airmata pun menetes seiring gumaman pelan Divya di hadapan foto kedua mertua -nya.

__ADS_1


***


Hari itu seperti biasa Icha sudah standby di halaman parkir sebuah gedung sekolah.


Gedung yang begitu besar ini di huni ribuan siswa siswi dari mulai anak-anak Playgroup ,Taman kanak-kanak. Sekolah Dasar hingga SMP.


Masih berdiri di depan mobilnya, dengan asik mendengarkan musik melalui earphone. Lima belas menit pertama Marisa masih nampak santai.


Memanggut-manggutkan kepala seiring irama musik yang hanya ia sendiri yang mendengarkannya.


Ia bahkan tidak menggubris meski sayup-sayup terdengar suara berisik di tengah para ibu-ibu yang tengah sama -sama menunggu buah hati mereka.


"Lihat tuh, bu ibu ! Ibu jaman milenial mah begitu, tuh ! Jemput anak dengerin musik, joged-joged sendiri. Mana pakaiannya kurang bahan ,iya kan ? Ya ampun gimana anak anak mau pada punya etika kalau orang tuanya modelan begitu? "


celetuk salah satu dari kumpulan para emak pencari dosa.


Peng-gibah tak punya moral.


"Iya sih, tapi memangnya itu siapa ? Mau jemput anaknya gitu kesini.Keliatannya masih gadis. "


Satu diantaranya meragukan status Marisa.


"Eh jangan ketipu penampilan dong bu. Anak jaman sekarang tuh ya begitu. Walaupun sudah punya anak mereka lebih mentingin penampilan daripada ngurus anak sama suami"


Ibu yang tadi bicara seenak jidat pun kembali tersulut.


Dua puluh menit sudah Icha menunggu namun yang ia tunggu masih juga belum keluar.


Marisa bukan tak mendengar apa yang di katakan kerumunan ibu-ibu itu. Hanya saja ia malas kalau harus ribut dengan mereka.


"Euuh nih anak mana sih, gak keluar-keluar heran deh," gerutu Icha sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


Baik Marisa dan kedua adiknya memang sama-sama sekolah di tempat biasa. Bukan sekolah Internasional seperti para kalangan pejabat atau orang kaya sekelas orangtuanya.


Haris sengaja menyekolahkan ketiga anaknya di sekolah negri agar mereka bisa berbaur dengan kalangan menengah.


Malam itupun Icha menceritakan kejadian setiap ia menjemput adiknya kepada sang bunda.


Berbaring di pangkuan bunda seperti ini, di elus kepala. Bercanda dan bercengkerama.


Sesaat setelah makan malam duduk berdua di sofa ruang tengah.


"Cha bunda mau tanya, "


Tanpa menghentikan aktivitas tangannya yang terus mengusap lembut kepala sang putri.


"Tanya apa bun? "


" Kamu beneran emang pacaran sama brondong ?" dengan berbisik ria Divya terkekeh sendiri dengan pertanyaan -nya.


"Bunda nih, " Marisa refleks terduduk dan meraih ponselnya di atas meja.


" Nih bunda lihat sendiri ! Siapa yang di kira Leo pacarnya aku. "


Dan betapa Divya langsung tergelak begitu yang ia lihat foto keponakannya sendiri.

__ADS_1


Rio !


__ADS_2