
Satu minggu sudah waktu yang dilalui Marisa dan keempat temannya. Hari -hari yang seharusnya mereka lewati dengan bahagia nyata-nya tidak terjadi. Marisa asik sendiri dengan kedekatannya bersama Hazlan Mahesa Yunus. Putra pemilik pesantren di daerah puncak tak jauh dari Villa milik keluarga Santoso.
Haz,kini ia tahu siapa wanita yang tengah dekat dengannya. Putri pemilik perusahaan besar di daerah Ibukota. Pemilik Villa yang besar pula, dengan hamparan kebun teh di sepanjang jalan menuju pesantren tempat ia tinggal.
Belum lagi kenyataan jika tuan Haris Santoso, ayahanda Marisa adalah penyumbang terbesar di pesantren ini.
Dekat. Dalam kata lain bukan berarti mereka pacaran. Haz, yang mana usianya empat tahun lebih muda,ia mana punya keberanian untuk memikirkan hal itu. Belum lagi statusnya yang berada di bawah Marisa.
Setiap hari. Hampir setiap saat Marisa selalu datang ke tempat dimana Haz mengajar. Ia ikut pula belajar tentang agama. Banyak mempelajari tentang ilmu fiqih, sejarah islam dan lain sebagainya.
Seakan ia lupa akan tugasnya sebagai dokter di rumah sakit yang sudah lebih dari lima hari ia tinggalkan. Jika saja bukan putri pemilik gedung rumah sakit itu, entah bagaimana nasib dari pekerjaan Marisa saat ini.
Keempat temannya sudah membujuk Marisa agar segera kembali ke Jakarta. Namun, apa yang mereka dapatkan? Hanya penolakan. Marisa bersikukuh ingin tetap tinggal dua sampai tiga hari lagi.
Selama satu pekan pula hubungan persahabatan antara Anita dan Reno dipertaruhkan.
Benarkah jika tidak ada persahabatan yang abadi bagi laki-laki dan perempuan ? Salah satu darinya akan ada yang mengkhianati dengan memendam rasa yang tak seharusnya.
***
Konflik
Malam ini setelah Marisa datang dari pesantren. Ia masuk langsung ke dalam kamar, mandi dan berganti pakaian.
Marisa keluar lagi dengan pakaian ala rumah, yang sedikit banyak menonjolkan bagian tubuhnya. Berbeda dengan saat ia pergi menemui Haz, pria berondong itu. Pakaian serba tertutup bahkan memakai selendang di kepalanya.
"Lo yang bener aja Cha, pake baju~" Shintia menahan tawa.
"Kenapa? Orang udah biasanya
juga. " dengus Marisa mengerucutkan bibirnya.
"Bukan, bukan gitu maksud aku tuh~" Lagi-lagi Shintia terbahak.
"~Tadi yang masuk kamar siapa ya. Pake kerudungan gituh ? Kembaran kamu ya ,Cha ? Mirip mirip Haz~lan sama siapa satunya, sayang ?"
dengan nada mengolok ,Shintia menanyakan si kembar Hazlan, Fadlan.
"Fadlan, sayang." ucap Hendri ikut terkekeh.
"Iya itu tadi kembar muslimah ku namanya, Markisa PUASS LO PADA !!! "
HAHAHA.
Serentak Shintia dan Hendri terbahak hebat. Sementara Anita hanya terkekeh kecil dan Reno, dia hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
" Tunggu tunggu ! " Shintia belum sepenuhnya normal, ia masih menahan tawa .
"Markisa itu bukannya nama buah ya? Haha,"
suara tawa-nya terdengar tercekat-cekat.
"Hahaha. " Hendri lagi lagi terbahak dengan kepala mengangguk-angguk, mengiyakan pertanyaan kekasihnya.
"Rese banget sih ! "
Marisa melempar bantal sofa ke arah mereka. Lantasi ia menempelkan telunjuknya di bibir dengan isyarat halis terangkat naik, menunjuk Anita dan Reno yang sudah beberapa hari ini nampak berbeda.
"Kenapa? " ia bertanya tanpa suara. Marisa yang selama ini tidak terlalu memerhatikan kedua sahabatnya itu.
Shintia yang mendapat pertanyaan itu hanya menggedikkan bahu.
Ia dan Hendri saling menatap, bingung .
Dengan inisiatifnya Shintia menarik tangan Anita masuk ke dalam kamar.
Mengajaknya bicara berdua disana.
"Kamu kenapa sih, Nit? " tanya Shintia begitu ia menutup pintu kamar.
"Ya! Kamu ~kenapa? "
Melihat Anita yang ragu, ia pun menuntunnya duduk di atas tempat tidur. Menyuruh Anita menarik nafas perlahan sebelum akhirnya ia bicara.
"Reno udah tahu semuanya, Shin ! "
Pengakuan Anita yang sontak membuat Shintia tercengang. Apa yang Reno tahu? Shintia mencoba mencari jawaban dari mata sahabatnya itu. Matanya yang mulai berlinang. Ada tetes bening yang hampir tumpah.
"Reno tahu perasaan aku, dia tahu semuanya. Aku **** ,Shin ! Aku bodoh banget, Shin ! Rasanya ini lebih sakit dari yang aku bayangin sebelumnya. "
Air mata Anita pun tumpah membahasahi pipi. Seiring penuturannya barusan. Entah ada rasa menyesal di benaknya. Lebih baik ia tetap menjadi sahabat Reno daripada harus saling mengacuhkan seperti saat ini. Rasanya lebih menyakitkan.
"Aku menyesal mengakui semuanya, sekarang gimana aku bisa menghadapi Reno. Aku malu. Seminggu ini aku kayak gak muka di depan dia. Aku bener-bener malu Shintia. Aku harus apa? "
Anita terlihat begitu rapuh. Dia yang terbiasa ceria dan paling berisik. Sekarang tidak lagi. Bagaimana bisa dalam satu pekan ini ia tidak menyadari perubahan pada sikapnya. Ini liburan mereka berlima namun,apa yang terjadi?
"Maafin aku Nita, " Shintia menghamburkan tubuhnya memeluk Anita.
"Maaf karena aku gak bisa ngerti perasaan kamu. Maaf karena aku sama Hendri malah asik berdua ,gak mikirin kamu, Nita.Ya Allah, sahabat macam apa aku ini. "
Begitu ia merasa bersalah atas apa yang Anita alami. Dia tahu bagaimana selama ini Anita memendam rasa. Ia tahu namun tak bisa membantunya karena di sisi lain Reno justru sangat mencintai Marisa. Shintia takut akan merusak persahabatan mereka jika ia membantu Anita menyatakan perasaannya itu.
__ADS_1
"Gak ,Shin.Aku yang salah gak seharusnya aku ngomong gitu ke dia, gak seharusnya aku menyatakan perasaan ke Reno. "
Dan tanpa mereka sadari Marisa ada di sana,di depan pintu dan mendengarkannya.
" Masalah perasaan yang kalian bahas. Lalu apa masalahnya.Kenapa kalian bingung gini sih?"
Marisa menyerobot masuk dengan berbagai pendapatnya.
"Kamu udah nyatain perasaan kamu ke dia, kan? Terus apalagi? Reno belum ngasih jawaban. Itu yang bikin kamu sedih. Iya? "
Jika itu yang membuat Anita sedih maka jawabannya ada pada Marisa .Dengan menarik paksa Anita ia keluar dan menghampiri Reno.
Baik Reno maupun Hendri nampak tercengang melihat apa yang dilakukan Marisa. Menyeret Anita yang sudah banjir air mata,disusul Shintia yang panik di belakangnya.
" Ren ! " bentak Marisa tiba-tiba.
Ia sudah melepas cengkraman tangannya di lengan Anita.
"Aku kecewa sama kamu ! "
Marisa benar-benar terlihat emosi. Tapi apa masalahnya hingga ia begitu kesal kepada Reno.
Apa mungkin Marisa juga menyukai Reno. Karena itu dia marah.
Batin Shintia, serupa dengan apa yang dipikirkan Hendri maupun Anita.
Anita yang membelalak melihat Marisa sangat sangat emosi.
"Cha, bukan gitu! " Anita mencoba menghentikan apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.
" Gue kecewa sama lo,Ren !" kali ini ia bahkan lebih mempertegas kekecewaannya.
"Kecewa, iya tapi apa?" Reno menatap bingung.
"Apa salah ku ?"
Ia melempar pandangan dingin ke arah Anita,seakan mempertanyakan jika kemarahan Marisa ada hubungannya dengan air mata di wajah gadis itu.
" Kamu nih gimana sih, ada cewek yang nyatain perasaan sama kamu, kamu cuekin aja gitu? " kali ini Marisa terdengar santai. Sudah tidak ada kemarahan lagi di setiap kata-katanya.
Namun, apa yang terjadi. Tangis Anita semakin pecah, ia terus menggelengkan kepala agar Marisa tidak terus membahas hal itu di depan Reno atau semuanya akan hancur.
Cinta dan persahabatan.
Keduanya itu yang akan dipertaruhkan.
__ADS_1