
Setelah satu rahasia besar terbongkar jangan lupakan pria bernama Pranando Wiryawan.Bagaimana keadaannya sekarang?
Ia tengah berdiri di depan sebuah ruangan ber-skat kaca.
Dilihatnya sosok kecil tergerak-gerak di dalam kotak inkubator,dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuh mungilnya.
Miris,melihat bayi yang masih suci itu harus berjuang demi hidup yang lebih panjang.
"Melodi anakku sayang maafkan ayah, nak"
Lirih suara si ganteng Pranando dengan mengulas senyum getir di bibir.
Pranando,bersumpah demi apapun ia menyadari segala kekeliruannya meski sedikit terlambat.
Melangkah gontay dan duduk tertunduk di kursi depan ruangan tempat Melodi sang putri di rawat.
Sudah tiga hari ini bahkan ia mengabaikan pekerjaannya.
Fokus menemani buah hati melawan kesakitan,dan mungkin itu tak dapat menutupi rasa bersalahnya.
"Bos ! Di sini ternyata !"
Suara yang terdengar tak asing menyapanya.
"Hai...Ada apa? Ada masalah di kantor?"
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Nando pada gadis yang masih berdiri di sampingnya,adalah tentang pekerjaan.
"No ! Sama sekali ,semua baik-baik saja"
Syukurlah kalau semua baik-baik saja.
Ku pikir ada masalah serius sampai kau harus datang menemui ku di rumah sakit seperti ini. Batin Nando.
"Saya tadi ke rumah bos,nyonya bilang anda di sini "
Apa Pranando boleh menilai,sumpah senyum gadis itu selalu menyejukkan.
Entah sejak kapan tapi dia suka.
Suka melihat senyuman itu.
Ia terduduk di samping Nando,setelah pria itu melirik kursi kosong di sebelahnya.
"Bagaimana keadaan Melodi?"
Bahkan ia selalu memperhatikan hal sekecil apapun.Gadis itu tahu semua yang menimpa bosnya semua kehendak Tuhan,ia senang walau hanya menjadi tempat curhatan untuk sang bos, CEO di tempatnya bekerja.
Setelah untuk beberapa detik mereka terdiam.
"Seperti yang kau lihat" Tersenyum hampa. " Terimakasih" Menatap gadis di sampingnya, lekat.
"Untuk?"
"Selalu ada untukku" Meraih jemari,mengenggamnya erat.
"Raisa ! Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada di sisiku selama ini" Sekretaris Nando juga sahabat Divya itu tersenyum tulus.
"Terimakasih"
"Tidak masalah ,aku senang bisa membantu" Menepuk tangan Nando.
Sejak hari itu ,hari dimana harga dirinya sebagai laki-laki terasa diinjak-injak,Raisa lah yang selalu ada untuknya.
__ADS_1
Selama ia terpuruk,Raisa meng handle segala urusan kantor.
Beberapa pekan Pranando absen dari kantor, ia sering datang ke rumah Wiryawan untuk sekedar memberikan berkas yang harus laki-laki itu periksa.
Kedekatan mereka mungkin sedikit meningkat dari hanya sekedar bos dan sekretaris.
"Kau sudah makan,bos ?" Raisa kembali memulai pembicaraan.
" Masih saja"
"Apa?" Tak paham.
"Memanggilku bos" Tersenyum.
"Lalu ?,kau bos ku,kan?" Tersenyum malu,lantas menunduk.
"Panggil nama, bisa?"
Raisa menggelengkan kepala.
"Aku lebih suka panggil kamu bos"
"Ok ! Terserah ,setidaknya kita ...aku kamu"
Aku ,kamu sudah cukup,perhatian kamu selama ini .Terima kasih ,Raisa.
Alur cerita hidup dimulai ketika kita terlahir ke dunia.Bagaimana kita menata masa kecil penuh suka cita,beranjak remaja di warnai bumbu asmara.Lalu dewasa dengan segala problematika.
Hidup diawali dengan sebuah tangisan kecil,itu makna jika manusia harus selalu siap menghadapi tangisan yang lebih dari sekedar tangisan seorang bayi.
Bahkan orang bodoh pun tahu,yang pertama kali bayi lakukan saat lahir ke dunia adalah menangis,bukan tertawa.
Maka hadapilah dunia meski harus bercucuran air mata.
Sekali lagi setelah hening tercipta,Raisa seakan mencairkan suasana canggung diantara mereka.
Mengajak Nando pergi makan,walau hanya dikantin rumah sakit.Sudah lebih dari cukup,melihat laki-laki itu berantakan ia tidak tega.
Berada di sampingnya adalah hal yang bisa ia lakukan.Setidaknya ia bisa memastikan perutnya terisi walau hanya sesuap nasi.
"Bos"
"Heum..."
Dengan tak memalingkan wajah dari deretan makanan yang Raisa pesan,ia mulai menyuapkan kedalam mulut ,mengunyah hingga nasi goreng hangat sudah bertengger satu sendok di lambungnya.
"Kamu pesen makanan banyak banget,Sa?"
"Ya gak pa-pa,kamu belom makan dari pagi,kan?"
"Dari kemarin sore"
Selorohnya tanpa melihat ekspresi gadis itu yang menganga tak percaya.
"Yang benar saja"
Dengusan sebal nyata terdengar.
Raisa menyeruput es lemon tea di hadapannya,memainkan sedotan itu beberapa kali.Menunggu jawaban.
"Iya"
Dengan mulut penuh ,masih mengunyah makanan.
__ADS_1
"Thanks ya,ini kamu yang bayar,kan?"
Melirik sedikit namun sayang pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik,Nando melepaskan sendok di genggamannya.
"Bercanda,serius amat sih.Nanti aku yang bayar, kan aku yang laper."
Mengulas senyum di bibir.
Dan. Wait !! Apa ini terlalu cepat.Nando bahkan sudah mulai merasa nyaman.Benarkah? Raisa itu sekretarisnya.
Tidak mungkin!
Ia menepis jauh-jauh pikiran itu saat melihat manik bening Raisa.
***
"Tunggu !"
Langkah Nando terhenti ketika mendengar kata itu.
Matanya mengikuti arah tangan Raisa.
Raisa menunjuk jauh ke depan.
"Itukan!"
Tidak perlu berpikir lama untuk Nando tahu siapa seseorang yang gadis itu maksud.Pria berjas yang tengah duduk dengan gelisah di depan sebuah ruangan.
Ia lah orang yang telah mengubur mimpinya dalam-dalam ,merenggut semua yang ia harapkan,yang ia gambarkan. Sesuatu kasat mata bernama Cinta.
"Tuan Haris" Begitu Raisa menyapa.
Haris lantas mendongak melihat siapa gerangan yang menyebut namanya.
Rudi berada di sudut ruangan berlawanan dengan posisi Haris.Menunggu dengan sedikit kekhawatiran yang tergampar di raut wajahnya.
Tidak nampak seperti biasa.
Jika sebelumnya Rudi selalu tenang dengan ekspresi datar di wajahnya,kali ini tidak.Ia menatap Tuannya pilu.
Bagaimana pun Haris masih tanggung jawabnya.Selama ini Rudi menjadi andil di garda terdepan sebagai seseorang yang selalu membantu Haris,sahabatnya sejak kecil.
Mengarungi bahtera kemaksiatan hingga akhirnya berlabuh pada titik kesuksesan.
Santoso begitu juga istrinya,Rahma,sudah menganggapnya seperti anak sendiri dan terlebih lagi sekarang adik sepupunya yang Haris nikahi.
Bagaimana tidak hatinya tak ikut pilu.
Mengulas kembali kejadian tiga tahun yang lalu,saat Haris harus kehilangan wanita yang paling ia cintai.
Terpuruk sampai akhir ia menemukan cintanya kembali.
Gambaran kecemasan nyata terlihat lagi sekarang.
Rudi bisa melihat itu.Walau Haris berusaha menyembunyikannya.
Bukan hanya Raisa ,Pranando juga ia tersentak kaget melihat siapa yang terbaring lemah didalam sana dari balik kaca pintu.
Divya,belum tersadar sepenuhnya setelah rangkaian medis ia jalani.
Masih harus menunggunya tersadar walau begitu ia telah sukses melewati masa kritisnya.
Harapan besar belum terkubur dalam,masih ada setitik harapan yang mungkin saja bisa tercapai .Hanya tinggal sabar disertai do'a yang bisa di lakukan.
__ADS_1