Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Hari pertunangan Ameera


__ADS_3

Hari -hari yang melelahkan tiba, persiapan pertunangan Ameera sudah hampir selesai. Divya tengah menyusun banyak hidangan,ia sampai turun tangan sendiri meski Haris mewanti-wanti untuk tidak terlalu lelah sebab akhir-akhir ini Divya sering mengeluh sakit kepala.


Bukan hanya itu staminanya juga sedang kurang fit padahal nafsu makannya meningkat dua kali lipat.


Malam ini malam yang begitu special sebab malam ini malam dimana Divya akan menyaksikan seseorang yang meminta adiknya untuk di jadikannya sebagai pendamping hidup.


Hampir sama seperti ketika mempersiapkan pernikahan Dimas bedanya Ameera memulai dengan acara pertunangan sementara Dimas tidak,pernikahannya terkesan mendadak.


Semua berjalan lancar, acara sederhana yang di hadiri beberapa kerabat terdekat ini menambah suasana ceria,Ameera dan Erik terlihat begitu serasi. Pasangan sempurna, si perempuan yang cantik dan si pria yang tampan.


Erik terlebih dahulu menyematkan cincin di jari manis Ameera, suara riuh tepuk tangan mengiringi prosesi itu, begitupun sebaliknya saat Ameera menyematkan cincin di jari manis Erik dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Tepuk tangan kembali ramai tatkala Erik mencium punggung tangan Ameera.


Haris tertegun menatap semua itu, pikiran dan rasa bersalahnya terhadap Divya semakin menguat ,selama ini ia tak pernah memberikan Divya hal semacam itu.


Justru sebaliknya dia menyakiti wanita itu di awal pernikahan mereka,dengan tidak menganggapnya ada.


"Ah syukur alhamdulillah semuanya sudah beres, tinggal persiapan pernikahan pekan depan"


Saat ini Divya tengah duduk berdua dengan Dimas,rencananya membujuk sang adik mulai ia lancarkan.


"Setelah Ameera menikah, kau pindah kesini ya, Dim"


Saat baru saja Dimas hendak menjawab


Adara datang membawa minuman.


"Iya kak, Dara sih mau saja.Tapi~"


"Tapi apa Ra? " tanya Divya.


"Tapi kak Dimas nya yang gak mau, gak tau deh kenapa"


Adara nampak memberenggut, dia tidak berbohong memang selama ini Dimas-lah yang selalu menolak pindah ke rumah bibinya ini.


" Kenapa Dim, istri mu sudah setuju loh"


"Bukan begitu kak, Mama-nya Dara kan lagi sakit mana mungkin kita pindah ninggalin orangtua Adara, mereka butuh kami kak."


"Tapi bibi juga bakal sendiri di rumah apa kamu gak kasian"


bujuk Divya lagi.


"Ya sudah nanti aku pikir-pikir dulu gimana baiknya" jawab Dimas.


Tanpa banyak membantah lagi Dimas terdiam di samping Adara, dia menikmati minuman dan sebatang rokok.


"Kamu tuh gak bisa apa berhenti merokok! " sewot Divya saat melihat adiknya yang tidak bisa terlepas dari kebiasaan buruknya itu.


"Apa sih kak, bawel deh. Istri ku saja gak pernah protes. " timpal Dimas.


Walaupun begitu Divya tetap merasa bahagia karena kini Dimas sepertinya sudah bisa menerima pernikahannya.


Dia sudah mau tersenyum saat bersama Adara, Dimas juga menyebutnya sebagai isteri.


mendengarhal itu tentu saja mengembangkan senyum di bibir Divya tiada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang yang ia sayangi hidup rukun.


Naif! Padahal dulu dia sendiri lah yang lebih sering menyembunyikan kesedihan dari adik-adiknya.


Sekarang seakan merasa bersalah jika ia tidak bisa memahami kedua adiknya.


Sesaat Divya menatap jauh, dua anak manusia yang tengah bercengkrama sambil tertawa bahagia mempelihatkan jari satu sama lain, jari manis yang telah tersemat cincin pengikat hubungan.


Divya beralih melihat putri kecilnya yang tengah berlarian kejar-kejaran dengan seorang anak laki-laki,Marisa dan Arjuna mereka tumbuh bersama.


"Apa seperti itu aku dan Haris dulu, aku tidak begitu mengingatnya" gumam Divya.


Sesaat kemudian ia hendak beranjak dari tempatnya terduduk, namun rasa pening di kepalanya semakin menjadi ia pun jatuh lunglai tepat di pangkuan Haris yang datang tepat waktu disana.

__ADS_1


Sudah seperti kebiasaan Haris yang panik jika melihat keadaan Divya begini. Ia berteriak memanggil semua orang.


Malam itu juga Divya di bawa ke rumah sakit. Sesampainya di sana Divya di periksa di ruang UGD.


Haris menunggu di luar dengab gelisah.


Mulutnya sama sekali tidak bisa berhenti mengoceh.


Istrinya terlalu lelah, sudah ia katakan untuk menjaga diri. Jangan mengerjakan apapun sendiri. Istri keras kepala.


Mama Rahma yang menenangkannya pun terkena semprot, belum lagi Rudi.


Semua ia salahkan. Sebegitu cemasnya Haris pada Divya.Ia terlihat kacau sebelum akhirnya dokter keluar ruangan.


Apa yang terjadi pada isterinya?


Mengapa ia pingsan ?


Rasa takut terulang kejadian beberapa tahun lalu mengusik akal sehatnya,membutakan pikirannya.


Panikan penyakit lama Haris yang tidak bisa ia hilangkan begitu saja. Rasa cintanya yang terlalu besar membuat Haris selalu takut kehilangan.


"Bagaimana keadaan Divya dok? "


Rudi mengambil alih posisi Haris yang hendak bertanya, sebelum tuan muda itu melewati batas dan mencengkeram kerah kemeja dokter yang menangani adiknya.


"Nyonya baik-baik saja"


Belum dokter melanjutkan perkataannya Haris mendelik seakan sedang meremehkan kinerja dokter.


Bagaimana dia bisa mengatakan isterinya baik-baik saja padahal jelas jelas dia pingsan tadi.


"Begini "


Sejenak dokter melirik raut wajah gelisah tuan Haris, ia paham hanya dari sorot matanya.


"Tuan akan segera menjadi ayah untuk anak kedua kalian"


"Selamat tuan "


dokter itu pun tersenyum .


Haris masih mematung, mimpi kah ia?


Hamil? Apa itu yang dokter katakan.


Belum Haris beranjak dokter Intan keluar dari ruangan UGD ruang dimana Divya di periksa.


Dokter Intan membantu mengecek tekanan darah. Sementara dokter yang tadi keluar beliau itu dokter spesialis kandungan.


"Ris! "


Intan menepuk bahu Haris yang masih terdiam dengan sudut bibirnya yang nampak tersenyum.


Bola matanya membulat sempurna.


Bibirnya berucap hamil meski tak mengeluarkan suara.


"Kau ini ! Tadi panik begitu tahu isteri mu hamil malah seperti orang kesambet,bengong"


Intan menahan tawa.


"Masuk sana temui Divya! Bila perlu cium dan peluk dia"


ucap Intan menggoda Haris.


Haris pun tersadar, ah ia mengerjap kecil. Mengumpulkan nyawa-nya yang seakan pergi saat mendengar berita bahagia ini. Ini bukan mimpi

__ADS_1


"Akan aku lakukan itu,akan aku


lakukan! "


Haris mengangkat telunjuk tanda ia benar-benar akan melakukan apa yang Intan katakan.


Semuanya bisa bernafas lega sekarang.


Rudi sampai menggelengkan kepala melihat tingkah Haris.


Saking paniknya semua ikut, bahkan Erik dan orangtuanya pun ada.Mereka menyaksikan tingkah Haris yang bisa dikatakan Over,khawatir yang berlebihan . Tapi mungkin mereka akan berpikir bwtapa beruntungnya Divya memiliki suami sebegitu mencintainya hingga sepanik itu.


Ya itu yang akan orang pikirkan,berbwda dengan mereka yang sudah tahu sifat Haris. Pria itu menjengkelkan. Menyusahkan semua orang.


Haris mendapat senyuman saat ia masuk, namun sedetik kemudian Divya menyentuh telinganya.


Menarik dan memelintirnya tidak terlalu keras tapi sukses membuat Haris meringis kesakitan dengan tatapan penuh tanda tanya.


Dia tidak sedang mengidam ingin menjewerku kan, kata Rudi perempuan hamil itu merepotkan, keinginannya selalu tak terduga dan di luar nalar.


Apa itu yang sedang terjadi pada isterinya saat ini. Isi pikiran Haris menerawang.


"Kenapa? Kau mau bertanya kenapa aku menjewer mu,iya ? "


"Kau membentak Mama kan tadi? "


"I iya memang, tapi itu karena aku khawatir sama kamu sayang"


lirih Haris sambil mengusap telinganya yang cukup terasa perih dan panas.


"Minta maaf sana! "


Divya memalingkan wajahnya ketika Haris hendak mencium keningnya.


"Ah nanti saja "


Haris enggan, ia justru memeluk Divya erat.


"Sekarang! "


Sedikit penekanan agar Haris mengerti.


Pria ini memang ngeyel kalau tidak di peringatkan seperti itu.


"Ok ok. Sekarang "


Haris berlari menuju pintu, di saat yang sama Mama berniat masuk untuk melihat bagaimana keadaan menantunya.


Belum sempat Haris meminta maaf, Mama Rahma sudah menarik telinganya.


Telinga sebelahnya tadi masih sakit dan sekarang satu telinganya pun harus mendapat perlakuan yang sama.


"Anak nakal! Kau sudah membentakku tadi, sekarang kau menghalangi ku untuk menemui putri ku"


Rahma bertolak pinggang dengan tangan sebelah masih di telinga Haris.


"Minggir! "


"Yeah Mama justru Haris aku keluar untuk minta maaf "


"Oh ya! "


"Sakit "


Haris mengusap lagi telinganya begitu Mama melepaskannya, ia merangsek masuk menemui putri kesayangannya.


"Aku seperti di anak tirikan di sini"

__ADS_1


Keluh Haris, di susul tepukan di pundaknya dari Rudi sambil tersenyum menahan tawa.


Hal yang sama juga di lakukan Papa Santoso.


__ADS_2