
"Hari ini aku akan tetap pergi ke kantor walaupun bukan sebagai presdir"
Saat Divya mengatakan itu sambil membelakangi Haris yang tengah terpaku menatap punggungnya .Divya berbalik menghadap Haris begitu kalimat terakhirnya ia ucapkan.
"Lalu ?"
Haris menanggapinya datar.Setelah menyisir rambutnya ia memberikan Divya tugas seperti biasanya yaitu memasang dasi.
"Aku bakal jadi Personal Assistant ,boleh dong ?"
Divya dengan sigap memasangkan dasi di leher suami payah-nya itu.
Suami yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Wah ,kalau seperti ini aku bakal di awasi dua puluh empat jam "
ia pun terkekeh.
"Kenapa ? Keberatan?" tanya Divya.
Menepuk pundak Haris tanda selesai sudah tugas mulia-nya.
"Tidak ! Sama sekali tidak,justru aku kesenengan" jawab Haris tergelak.
Divya yang mendengar hal itu hanya menanggapinya acuh, pura-pura cuek lantas melangkahkan kaki keluar kamar menuju ruang makan.
Setelah selesai sarapan mereka pun pamit berangkat ke kantor.
Meski harus menghadapi kerewelan Marisa terlebih dahulu. Gadis kecil itu tidak ingin ayah dan bunda-nya meninggalkannya setiap hari.
Jika dulu Divya terpaksa mengurangi waktu bersama anaknya itu seharusnya sekarang tidak. Namun begitu Divya juga mempertimbangkan kesehatan Haris hingga ia merasa perlu menemani Haris di kantor untuk beberapa hari lagi.
Kesibukan Divya menyita banyak waktu, tidak terasa ini sudah berjalan selama Tiga Bulan sejak ia memutuskan untuk menjadi Personal assistant bagi Haris.
Bukan menemani Haris untuk beberapa hari seperti yang ia niatkan di awal keputusannya.
Dimas pun sama ia tetap berdiri mendampingi Kakak dan kakak ipar nya sampai saat ini.
Selama tiga bulan semua berjalan lancar. Tak ada masalah apapun. Pekerjaan semuanya baik-baik saja.
Ameera sudah lulus kuliah dan wisuda, begitu pun Marisa sudah mulai masul Play Group pekan depan.
Suatu pagi di kantor, Divya tengah mempersiapkan untuk meeting siang nanti.
Namun, sepertinya ada masalah lain yang membuat Haris memanggil ia dan juga Dimas.
"Ada apa sayang ? "
Begitu Divya masuk Haris tengah memegang berkas di tangannya.
Wajah marah dan gelisahnya nampak jelas tergambar.
"Tuan memanggil kami, apa ada masalah? "
tanya Dimas, memanggil kakak iparnya dengan sebutan tuan seperti biasanya selama berada di kantor.
"Ini dokumen apa,coba jelaskan! "
Divya dan Dimas saling bersitatap, harán campur bingung.
Keduanya lantas menerima itu, bersama-sama membaca dokumen yang di maksud Haris.
"Ini proyek yang di Bogor itu, kan? "
Pertanyaan itu di tunjukkan kepada adiknya.
"Iya mungkin, ini enam bulan yang lalu,Kak"
Dokumen itu menunjukkan detail kerjasama perusahaan dengan kontraktor pembangunan.
"Dari tanggalnya ini pas aku nikah, aku gak tahu soal ini kak" ucap Dimas lagi.
__ADS_1
Melirik kakak dan kakak iparnya bergantian.
"Kenapa kalian ini malah pada bisik-bisik! " ucap Haris merebut berkas itu dari tangan keduanya.
Divya mengingat kembali tentang kontrak kerjasama itu, seingatnya dia sudah menandatangani enam bulan lalu. Dan seharusnya sudah ada kabar mengenai kelangsungan pembangunan itu dengan target 75% selama setengah tahun ini. Ya itulah yang Haris pertanyakan, mengapa belum ada kabar hingga saat ini.
"Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Siapa yang kau percaya memegang proyek sebesar ini?
Jawab! "
"Oh ya ampun apa begini sikap kakak ipar yang sebenarnya jika sedang marah, menyeramkan! " bisik hati Dimas.
"I-itu eum~"
"Sayang aku~"
Divya mulai merasa ini semua kesalahan nya, ia ingat sesuatu sekarang. Dirinya saat itu tengah sibuk mengurus pernikahan Dimas yang mendadak hingga ia tidak memperhatikan pekerjaan nya, bahkan untuk proyek besar seperti ini ia tidak meminta saran atau pendapat orang lain.
Jika biasanya Divya akan selalu bertanya kepada Rudi atau Santoso terlebih dahulu, untuk pertama kalinya ia tidak melakukan itu.
"Pak Andri! "
Refleks Divya menyebut nama itu ketika Haris kembali mendelik.
"Andri? "
"Ya ayah-nya Luna, kau ingat? "
"Dia!! "
Ekspresi wajah Haris seketika berubah pias, seperti ada tamparan keras di wajahnya ketika nama itu di sebut.
Andri sosok ayahanda Luna wanita yang meninggal di London dan jenazahnya yang di bawa Haris ke tanah air.
"Kenapa sayang?"
Haris tertunduk, ia mengurut kening merasakan penat di kepalanya.
Sementara Divya yang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya melirik Dimas, saling bersitatap melempar pertanyaan dalam diam.
"Hei, kenapa menelpon kak Rudi? "
Divya tidak mengerti apa yang di pikirkan Haris, dengan seenaknya ia meminta Rudi menyelesaikan apa yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
"Kenapa? "
Haris justru balik bertanya.
"Ya karena itu bukan urusannya, kan? Dia pasti sibuk sayang"
"Dan, dan aku masih belum mengerti ada apa dengan pak Andri sampai kau semarah ini sayang,bukankah kau mengenalnya? "
"Kau juga memberikan satu perusahaan pada pria itu, dia berhasil membangun perusahaan kecil itu dengan sangat baik"
Divya dengan perasaan berkecamuk terus mengekor di belakang Haris yang dengan gelisah ia mondar mandir di dalam ruangannya itu.
"Batalkan semua agenda ku hari ini. Tidak ada meeting apapun sampai urusan ini selesai"
ucap Haris masih dengan nada emosi.
"Kau dengar itu, Dimas! Lakukan apa yang kakak ipar mu katakan"
sentak Divya pada adiknya.
Ia seakan tengah melemparkan kekesalan pada Dimas.
"Rasanya aku ingin menenggelamkan tubuhku di danau saja mendengar dia mengoceh terasa panas seluruh badanku ini, Tuhan. Kepala ku juga mulai berdenyut"
gerutu Divya memanyunkan bibirnya.
Sementara itu Dimas keluar, ia memerintah jajaran staf sekretaris untuk membatalkan seluruh jadwal tuan muda.
__ADS_1
"Batalkan semua jadwal tuan muda hari ini. Dia sedang tidak ingin di ganggu siapapun! "
Dimas memberi komando pada seluruh pegawai ,mereka yang menerima perintah itu justru saling memandang penuh tanya,ada diantaranya yang menggerakkan halis bertanya tanpa suara. Mengerutkan dahi penuh kebingungan,menggedikkan bahu tanda tidak tahu.
Setelah mengumumkan itu Dimas kembali keruangannya sambil terus menggerutu.
"Kakak ipar marah-marah tidak jelas, Kakak ku sendiri melemparkan kekesalan pada ku.
Ah dua orang itu kenapa ya? "
Walapun dalam keadaan genting seperti ini Dimas merasa tidak harus semuanya terkena imbas, terlebih dia tidak tahu apa-apa.
"Nasib kakak ku seperti itu ya? Kasian sekali kalau tuan muda selalu dalam keadaan mood nya yang kurang baik.
Kena semprot setiap hari"
Dimas membuka kembali laptop-nya .Mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan sekarang, daripada pusing memikirkan apa yang terjadi di ruang presdir radi lebih baik menyibukan diri.
Tanpa ia sadari Divya sudah berdiri di ambang pintu, mendengar semua ocehannya.
"Tidak terlalu buruk nasib ku, Dim"
"Haah"
Dimas mendongak mendengar suara kakaknya yang semakin mendekat.
"Kakak ipar kamu itu panikan orangnya, tapi setelah dia tenang semua akan baik-baik saja. "
Divya tersenyum dan lantas menarik kursi di depan meja kerja Dimas.
"Dia hanya terlalu khawatir, dan ini kesalahan kakak. "
"Memangnya kenapa sih kak? Kenapa sana proyeknya? Terus kenapa juga sama Pak Andri itu? "
Menurut Dimas kakak iparnya terlihat marah ketika tahu yang memegang proyek besarnya pria bernama Andri.
Dimas pernah mendengar nama itu, namun ia tak pernah bertemu sekalipun dengannya.
"Kakak sendiri belum tahu dia kenapa"
"Terus"
" Ya terus kita tunggu kak Rudi, Haris maksud kakak tuan muda baru akan cerita kalau dia ada"
Dimas malah tertawa melihat wajah kakaknya yang takut sekaligus kesal.
Bahkan sekarang ia memanggil suaminya kembali dengan sebutan 'Tuan muda'.
"Malah ketawa! "
sewot Divya begitu melihat adiknya malah menertawakannya.
"Ya habis lucu aja kak"
"Apanya yang lucu sih, nasib kakak gak buruk-buruk amat kok, cuman lagi apes aja. Kakak ipar kamu itu baik cuman kalau lagi marah udah kayak monster apalagi kalau cemburu "
cerocos Divya mengadukan sikap suaminya kepada Dimas.
"Hahaha" Dimaa tergelak lagi.
"Tapi masih beruntung aku dari pada Adara,entah bagaimana nasib gadis itu setelah menikah dengan mu"
balasan Divya untuk adiknya yang malah tertawa bahagia.
" Eeh malah bawa-bawa Adara, enak aja aku bisa kok bahagiain dia kakak tenang aja aku udah belajar seperti hidup kakak, cintai gadis itu. Dia kelihatan nya gadis baik-baik. Kelihatan nya! "
"Tapi memang kenyataan nya" gumam Dimas tersenyum seakan melihat bayangan istrinya di depan mata.
"Udah kakak balik gih tenangkan monster menyeramkan itu atau kalau tidak dia akan mengamuk disini karena cemburu buta padaku"
"Issh kepedean banget kamu"
__ADS_1
"Hahaha"
Tanpa banyak mengoceh lagi Divya pun kembali keruangan Haris, dan ia bertemu Rudi tepat di pintu masuk.