
Divya sudah duduk di kursi belakang bersama Haris.
Rudi yang berada di belakang kemudi,bersama Ameera di sebelahnya.
Ya, gadis itu merengek tadi di parkiran,minta supaya bisa pulang bersama kakak ipar.
Sudah akrab rupanya,remaja iseng ini malah sengaja bergelayut manja di lengan Haris , agar bisa satu mobil bersamanya membuat Divya sampai geleng kepala dengan tingkahnya.
Alhasil Dimas pulang berdua bersama Mang Udin.
Sudah keluar area pemakaman.
Menembus ramainya jalanan menuju Ibu kota.
"Sayang" Menyandarkan kepalanya di bahu Haris.Setelah sekian menit terduduk dalam diam,hening,sunyi. Seperti terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Heum" tangan kirinya sudah di pinggang Divya,memberi istrinya kenyamanan yang teramat .Walau jawaban yang keluar dari mulutnya terbilang acuh.
"Kenapa ? kenapa kau tidak bilang kalau Marisa itu sudah meninggal" Ragu sebenarnya.
"Maaf...aku.." seakan tak kuasa hendak menjawab apa,ia ragu jika alasannya akan mudah diterima Divya.
Sementara itu Divya yang mengerti dengan keraguan suaminya hanya bisa menepuk pelan dada Haris,mencoba menenangkan jiwanya yang mungkin masih berduka.Ia paham jika kehilangan orang terkasih sangatlah menyakitkan.
Seperti saat ia harus kehilangan Ibu dan juga Ayahnya.
Begitu menyakitkan.
Rasa sakit yang tak bisa hilang dengan mudah,tidak bisa hilang dengan cepat.
Justru semakin lama semakin terasa perih.Dan pasti itu pula yang dirasakan Haris.
"Aku mengerti" lantas mendongak menatapnya yang masih tak bergeming.
Rudi terdiam mendengarkan.
Ameera gadis manja itu sedang asik bermain ponsel ,sesekali tersenyum menatap layar benda pipih itu.
Ada yang ingin aku ceritakan pada ka Divya tapi bagaimana caranya ya? Ameera melirik sejenak aktifitas apa yang terjadi di belakangnya.
Lalu mengalihkan pandangannya pada Rudi "Kak" bisiknya.
"Apa?!"
"Ke rumah kakak ipar dulu atau kerumah paman?" tanya Ameera kembali berbisik.
Rudi hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu.seperti mengatakan 'entahlah'.
Memilih bertanya pada Haris
"Tuan,kita ..."
"Haris !" menyela ucapan Rudi.
"Sudah ku bilang berapa kali,panggil aku Haris.Kau bukan sekedar sekertaris ku sekarang"
"Ya iya masih sama plus supir pribadi mu juga kan" bergurau dibumbui gelak tawa.
"Kakak ipar" masih dengan nada datar.
__ADS_1
Divya hanya mampu menahan tawanya,melihat tingkah kedua pria itu.
"Hahaha. baiklah Haris adik iparku begitu?!" candanya lagi.
" Jadi bagaimana kita langsung ke rumahmu atau ke rumah orangtuaku mengantar Ameera?"
"Kau tidak lihat ! Adik iparku merengut begitu,minta diantar pulang" Haris menjawabnya sembari melihat Ameera yang sedang menatap kaca dashboard penuh harap .
Ke rumah Paman dulu please,aku masih mau ngobrol sama kak Divy. tak lupa sambil komat kamit baca mantra dalam hatinya.
"Hahaha. " kali ini tawa Divya yang terdengar paling keras.
"Ok,Kau dengar apa kata kakak ipar jelekmu itu,jadi kita ke rumah Paman dulu,Ameera sayang"
" Hentikan wajah memelasmu itu!" Rudi kembali tertawa.
"Hei,kau ! kurang ajar ! sudah bak pangeran dari negri dongeng begini kau bilang jelek" menepuk bahu Rudi kesal.
"Ameera adik iparku sayang ,kakak ganteng kan?" mencondongkan wajahnya kedepan meminta pendapat adik iparnya.
"Iya kak,kakak ganteng" mengacungkan dua jempol kearah samping, "Banget"
"Tuh kan,tos dulu dong" mengangkat telapak tangannya demi adu tos dengan Ameera,seranya menjulurkan lidah ke arah Rudi.
"Hahaha...sudah sudah kalian ini,kalau sedang berdua memangnya seperti ini ya..hahaha" Divya sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Kenapa sayang?" mendarat lagi ciuman di kening Divya.
"Benarkan aku ganteng? iya kan?"
"Iya Sayang iya" Divya masih tak bisa berhenti tergelak melihat tingkah suaminya.
"Iya Ganteng,tampan ,suamiku" mencubit pipi Haris gemas.
"Kalau tidak adikmu ini tidak akan luluh padaku" mengarah kembali pada Rudi.
"Gantengan mana aku sama Rudi?" pertanyaan yang menjadi dilema jika benar harus di jawab.
Rudi atau Haris ?
Sama sama Tampan. Aaaa siapa ya.siapa ? aku harus jawab apa yang mana?
Bahkan dulu Divya mengidolakan Rudi,ia selalu berharap memiliki pasangan seperti kakak sepupunya itu.
Selain tampan,mapan juga seorang yang penyayang.
Lantas sekarang keadaannya memang nyata,apa yang menjadi do'a terkabul sudah,Rudi dan Haris, sebelas dua belas hampir tak ada bedanya.
"Sayang,pertanyaan apa itu?" memilih menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Berharap suaminya tak lagi menuntut jawaban.
"Kau lihat,istri mu saja ragu.Jelas karena aku juga punya tempat di hatinya" Rudi samakin memanaskan perdebatan di antara mereka.
"Kurang ajar" kembali menuding pundak Rudi.
"Ayo dong sayang,jawab! aku atau Rudi"
"Hei kalian ini seperti anak kecil memperebutkan ibunya,heran deh" mendengus kesal,tapi masih dengan bibir yang menahan tawa.
__ADS_1
Sementara Ameera yang sedari tadi hanya diam memerhatikan ,dengan sesekali mengernyitkan dahi.Aneh,apa begini tingkah asli mereka.kira-kira begitu isi pikirannya.
Hingga akhirnya ia pun tergelak.
"Lihat Ameera saja tertawa melihat kalian berdua"
"Tidak mau jawab? Ok kau terima hukuman mu nanti" Haris merajuk.
"Hei,Kau ini"
"Beraninya dia mengancam begitu,Vy.Hahaha"
Tanpa terasa mereka sudah sampai di pekarangan kediaman Fram .
Perjalanan penuh tawa,suka cita di antara mereka.
Pulang berziarah justru dengan wajah ceria. Haris seakan melupakan kesedihannya yang tadi nampak jelas di wajahnya.
Begitupun Divya dan Ameera.
Memasuki kembali rumah Pamannya,dengan senyum tercetak di bibir keduanya.
Sebenarnya ada hal yang ingin Ameera sampaikan pada Divya kakaknya itu.
Karena itulah sepanjang perjalanan tadi ia terus berharap agar Divya tinggal beberapa saat di rumah paman.
Sedangkan Dimas tadi dia minta diturunkan di jalan,entah dia mau mampir kemana.
Yang akhirnya mang Udin sang sopir itu pulang lebih dulu menuju kediaman Santoso.
"Kak" Sudah di kamar dan hanya berdua.
Haris, Rudi dan Paman berbincang di bawah ditemani juga bibi Rita.
"Ada apa Meera? kau bilang ada yang mau kau katakan" Selidiknya begitu khawatir melihat adiknya yang nampak bimbang.
"Iya Kak,ada dua hal yang ingin aku ceritakan pada kak Divy"
"Pertama tentang kak Dimas"
Divya nampak mengernyitkan dahi.
"Dimas? kenapa sama dia?"
"Kak Dimas sudah mulai jarang di rumah,kadang pulang tengah malam bahkan tidak pulang sama sekali,Meera khawatir" Ameera menggigit bibir ,takut-takut ia mengatakan hal itu.
"Tapi kak jangan bilang kak Dimas aku ngomong ini ke kakak ya please" Mengatupkan kedua tangannya di dada,memasang mimik wajah memohon.
"Iya,tenang saja.Makasih ya Meera udah mau jujur ke kakak." Mengusap lembut kepala adik bungsunya.
"Soal Dimas nanti kakak cari tahu" Imbuhnya.
"Yang kedua apa?"
"eum...itu" Kembali terlihat ragu hendak mengatakan apa.
Ini soal kak Nando Kak,tapi...Meera bingung cara ngomongnya ke kakak.
Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam.
__ADS_1