
Sore itu gadis bernama Laras datang ke Indonesia,dari bandara ia langsung menuju apartemen milik Rahma.
Ya Rahma memintanya untuk tinggal di sana,mengingat gadis itu tak memiliki tempat tinggal lagi di Jakarta.
Rumah satu-satunya milik keluarga Laras sudah di alihkan kepada kakaknya Antonio dan kini Istri juga anak Antonio yang menempati rumah tersebut.
"Hai sayang ! Anak Mama sudah pulang"
Sapa Mama Rahma begitu Haris datang,ia baru saja pulang dari kantor bersama Rudi.
"Hai,Mam !"
Jawab Haris dengan wajah datar dan acuh.Mengingat sikap Mama-nya pun begitu terhadap Marisa membuat Haris tak ingin berbasa basi ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Rudi pulang setelah sedikit mengobrol dengan Rahma.Lalu Rahma beranjak ke kamar Haris.
Mengetuk benda coklat menjulang itu berkali-kali.
"Haris buka pintunya sayang"
"Ris !"
"Ayolah Mama minta maaf sayang"
"Haris !!"
Masih tak terdengar jawaban.
"Ok kita makan malam ajak Marisa kesini ya ?"
Mendengar hal itu,pintu tiba-tiba saja terbuka lebar. Haris sudah berdiri disana dengan tatapan sedikit berbinar.
Mama masuk dan duduk di sofa,begitu juga Haris ikut duduk setelah ia menutup pintu.
"Jemput Marisa kesini kita makan malam bersama,tapi~"
"Tapi apa !"
Timpal Haris sedikit curiga.
"Ajak Laras juga,ia baru datang dari Amrik, jemput dia dulu baru setelah itu jemput Marisa"
Sejenak Haris berpikir,lalu mengiyakan permintaan Mama-nya tanpa curiga.
Mengingat Laras yang sudah seperti adik baginya tak sampai membuat Haris menebak apapun yang akan dilakukan Mama selain mengenalkan Marisa pada gadis itu.
Dengan semangat Haris langsung meluncur ke tempat dimana Laras menginap,Apartement milik keluarganya.Di sanalah gadis itu berada.
Sejenak Haris berdiri,ia sebenarnya tahu Passcord-nya tapi apa sopan masuk begitu saja tanpa permisi sementara di dalam sana ada seorang wanita.
Alhasih setelah ia cukup lama berdiri,Haris memutuskan untuk memencet bel di samping pintu.
Sekian detik kemudian muncul seorang gadis cantik berambut panjang,lurus hampir menyentuh pinggang,kulit putih dengan manik hitam tersenyum menyambut kedatangannya.
Berjingjit meraih leher Haris dan memeluknya erat .
"Kakak aku kangen"
Ucap gadis itu dibarengi sikap manjanya
yang tidak pernah berubah.
__ADS_1
"Iya,iya lepas dulu ini,kakak gak bisa nafas"
Haris berusaha melepas tautan lengan gadis itu di lehernya sambil akting terbatuk karena sesak nafas.
"Hahaha iya habis aku tuh kangen sama kak Haris tahu !"
"Ayo masuk dulu kak !"
Ajaknya menarik tangan Haris masuk kedalam Apartemen .
Sesampainya di dalam Ia masih saja bergelayut manja di pundak Haris, gadis itu menyandarkan kepala di bahunya dan itu membuat Haris risih.
"Laras ! Ini apa sih,udah dong lepas"
Haris menggertak serta sedikit mendorong menjauhkan gadis bernama Laras itu hingga ia mulai terisak.
"Kaaak!" Rengeknya.
"Kakak jahat ih,gak kangen apa sama Laras ?" Jurus cemberut ia tunjukkan.
"Disini gak ada siapa-siapa Kak"
"Justru itu karena gak ada siapa-siapa jangan nempel-nempel kayak tadi !"
Haris masih bisa sedikit menahan emosinya karena Laras itu memang kekanakkan.
"Ya udah ! Kakak mau minum?"
"Gak usah ! Udah buruan siap-siap sana,kita langsung ke rumah Mama ku udah nunggu kamu .Jangan lama-lama !"
"Iya Kak sebentar dong,sabar.Aku mau minum dulu"
Tak hilang akal Laras minum di dekat Haris,dan entah ia sengaja atau tidak saat hendak duduk di samping Pria itu sambil membawa gelas berisi jus di tangannya,ia tersandung.
"Ya ampun ,Laras ! Kau ! Aku sudah rapih begini kamu buat ~"
"Kau segaja ya ?"
"Enggak Kak ,enggak ! Beneran gak sengaja Kakak maaf"
Laras kembali berdrama seolah-olah menyesali perbuatannya.
Mengelap kemeja Haris dengan tisu seadanya,bibir gadia itu tersungging membentuk seringai licik.
"Kakak ganti baju gih ! Ada baju kakakkan disini?"
Saran Laras yang di sambut delikan tajam dari Haris.
"Ih jangan gitu Kak ! Laras kan udah minta maaf,gak sengaja"
Nada suaranya sumpah bikin kesel siapapun yang mendengar,nada suara dibuat-buat seperti itu semakin membuat Haris merasa jengkel.Dengan satu tarikan nafas ia menggertak gadis di hadapannya.
"Itu masalahnya Laras ! Gak ada bajuku disini"
"Loh inikan Appartement kamu Kak?"
"Ya tapi aku gak tinggal disini,Laras!"
"Ya udah kita pesen baju baru biar di antar kesini susah amat,atau gak pelayan di rumah kakak,kan banyak,suruh aja mereka antar baju"
"Bisa,kan?"
__ADS_1
Rentet Laras mengutarakan ide yang ada di otaknya.Seakan semua mudah saja dilakukan,sementara jarak rumah ke Apartemen saja satu jam,lalu apa Haris harus bertelanjang selama itu.
Gadis gila !
"Pesankan aku baju,cepat !"
Perintah Haris kemudian ia melempar sejumlah uang ke hadapan Laras.
"Yang bisa kirim cepat,ngerti !"
"Iya,Kak". Laras dengan senyum penuh kemenangan meraih ponsel,ia menelpon seseorang untuk mengantar baju kemeja serta celana untuk Haris.
Sementara itu Haris yang kesal dengan tubuh lengket mandi jus,ia lantas meninggalkan Laras masuk kedalam kamar.Membasuh tubuh tegapnya di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bel pintu yang berbunyi namun Laras tak segera membuka pintu itu.
Ia malah berbaring di sofa dengan rambut acak-acakan,kemeja yang ia kenakan pun sengaja ia buka beberapa kencingnya.
"Laras itu buka pintu ! Mungkin bajuku datang"
Haris teriak dari kamar .
Laras sama sekali tak menanggapi ucapan Haris,sampai akhirnya dia sendiri keluar hanya dengan memakai celana boxernya.
Ia berjalan membuka pintu Apartemen namun seseorang yang dilihatnya membuat ia terperanjak kaget.
"Marisa,sayang ! Kamu disini ?"
"Hai, aku disuruh Mama anterin baju kamu sayang"
Jawab marisa sambil merangsek masuk.
"Mama?". Haris masih melongo,dengan gugup ia berusaha mencerna apa yang baru saja di lihatnya.Marisa ada disini,dengan situasi yang tidak baik pastilah dia akan salah paham.
Mencegahnya masuk juga tidak mungkin.
"Iya aku disuruh Mama,katanya kamu mau nginep disini tapi gak bawa baju ganti makanya aku kesini,ini ba-ju-nya"
Brakk paperbag di tangan Marisa pun terjatuh kala melihat sosok wanita setengah tertidur di atas sofa dengan rambut berantakan dan baju yang terbuka.
"Siapa sayang?" Ucap wanita itu memiringkan tubuhnya dengan tangan kanan menyangga kepala.
Marisa menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang?" Gumamnya dengan bibir bergetar menahan amarah serta rasa sedih,kecewa yang bercampur jadi satu.
Haris pun tak kalah kaget,ia melotot begitu Laras memanggilnya sayang.
"Laras !"
"Sayang kamu dengerin aku dulu"
Haris membujuk Marisa yang masih terdiam mematung tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
epilog
"Beres tante,tugasku berjalan dengan baik.Haris sedang mandi sekarang.Tante gimana sudah tante suruh wanita itu kesini"
Laras sepeninggal Haris yang masuk ke kamar mandi,bukannya memesankan Haris baju ia malah menelpon Rahma.
"Sudah dia dalam perjalanan,kau tunggu saja"
__ADS_1
"Bagus !"