Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kebiasaan Aneh


__ADS_3

Dua hari sebelumnya .


Divya berada di dalam kamar mandi saat Haris masih terlelap.


Berlama-lama merasakan hangatnya air di badtub pagi hari seperti ini membuat tubuhnya terasa rileks.


Entah kenapa Divya sering merasa cepat lelah akhir-akhir ini.


Haris terbangun dari tidurnya dan mendapati sisi sebelah kasur yang kosong,kemana dia sepagi ini.


Dengan malas Haris membuka mata, duduk sebentar sampai ia mendengar suara gemercik air.


Haris mendekati pintu, mengetuknya perlahan. Memanggil nama istrinya.


"Kamu di dalam sayang"


Dengan malas ia menyandarkan tubuhnya di pintu.


"Iya,aku lagi mandi" jawab Divya setengah berteriak.


"Masih lama gak? "


Suara Haris bahkan masih terdengar serak.


"Sebentar lagi "


Divya mematikan kran air dan bergegas memakai handuk.


"Yah kirain masih lama, aku mau ikut mandi bareng ka~"


"~MU ! "


Haris tersentak kaget begitu pintu kamar mandi itu terbuka, ia hampir jatuh menimpa Divya. Untung saja Haris sigap menahan, ia memegang pinggang Divya yang bahkan hanya menutup tubuhnya dengan handuk.


" Kamu mau menggoda ku sayang "


Posisi mereka masih saling menempel satu sama lain .


Sampai akhirnya Divya perlahan mendorong tubuh kekar Haris.


"Isshh"


Divya mendesis .Ada apa dengan tuan muda-nya?


"Orang habis mandi di bilang menggoda" Divya bersungut-sungut.


Ia lantas melangkah keluar. Haris yang hendak mengikutinya ia dorong agar kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Sekalian mandi ngapain keluar lagi"


Divya terkekeh melihat Haris memberenggut.


Sementara Haris membersihkan diri,seperti biasa Divya bersiap dengan pakaian formalnya.


Haris keluar tanda ia telah selesai dengan ritual mandi-nya.


"Kamu mau kemana sayang? "


tanya Haris begitu masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


" Mau kemana ? Kantor lah kemana lagi"


jawab Divya.


"Gak usah ! Kamu bilang kamu sakit, capek,pusing.Istirahat aja di rumah ya? Atau kita ke dokter"


"Eh aku udah gak apa-apa kok, udah sehat udah mendingan, bener deh"


Divya meyakinkan suaminya yang suka tiba-tiba panik itu.


Ia menempelkan tangan Haris di dahi dan lehernya bergantian agar Haris yakin jika dirinya baik-baik saja.


"Gak usah ke kantor aku bilang. Di rumah aja istirahat. Kamu juga harus ke rumah tante Rita, kan? Nanti kalau sudah lebih baik kamu ke rumah tante Rita nya diantar sopir. Ok! "


"Iya, iya ok! Aku gak ngantor hari ini"


Walaupun dengan wajah di tekuk akhirnya Divya menuruti apa yang dikatakan Haris. Mereka pun turun ke lantai bawah menuju meja makan.


Sarapan pagi ini sudah terhidang nasi goreng ala Chef andalan di rumah ini. Jangan tanyakan lagi rasanya sudah pasti sangat enak sebab juru masak di sini sudah standart koki resto atau hotel bintang lima.


Divya menghabiskan sarapannya dalam sekejap, tidak seperti biasanya ia terlihat begitu rakus. Haris sampai menatap heran. Bukan hanya itu Divya yang tidak suka minum susu di pagi hari juga terlihat aneh ketika meminta pelayan membuatkannya segelas susu hangat.


Tuan besar serta istrinya juga saling melempar pandangan penuh tanda tanya. Divya menggerakkan halis sambil menenggak segelas susu putih hangat ketika suaminya menatap dia tanpa berkedip sedikitpun.


"Bukankah itu aneh sayang? "


Haris meletakkan sendok dan meraih gelas berisi air putih setelah Divya selesai menghabiskan susu hangatnya.


Memberikan air putih itu pada istrinya.


"Aneh? Apanya yang aneh? "


"Minum susu hangat pagi-pagi begini bukan kebiasaan mu"


ucap Haris kembali menyendok nasi goreng. Mengunyahnya perlahan.


Divya terseyum ,dalam pikirannya sendiri ia tengah bertanya -tanya mengapa tiba-tiba dirinya menginginkan itu. Satu hal yang tidak pernah ia lakukan. Divya jarang sekali minum susu. Bahkan saat hamil Marisa pun dengan susah payah Mama Rahma membujuknya dibantu oleh mbok Jum.


"Ah mbok Jum aku rindu, apa kabar beliau sekarang " bisik hati Divya kembali teringat mbok Jum.


Sejak Haris di pindahkan perawatannya ke rumah mbok Jum sudah tidak bekerja lagi di rumah ini, ia pulang kampung lantaran usia dan kondisinya yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja.


Haris sudah berkali-kali mencoba menghubungi nomor mbok Jum tapi tak pernah aktif.


Ia ingin sekali mengunjungi pelayan itu, pembantu, pengasuh bahkan ibu angkat bagi Haris. Namun, kesibukannya akhir-akhir ini menyita waktunya bahkan sekedar bermain bersama Marisa putrinya pun ia tak memiliki banyak kesempatan.


"Hei sayang, kenapa? Kau melamun ?"


Haris tidak pernah melihat Divya sepucat ini, wajah piasnya nampak begitu jelas.


"Ah ng~gak sayang, aku~"


"Aku tiba-tiba keinget mbok Jum ya"


Dengan tatapan kosong Divya menatap suami dan mertuanya bergantian.


"Aku juga " timpal Haris polos.


"Heum! " Divya menoleh melihat ekspresi wajah Haris.

__ADS_1


"Ya aku juga kangen sama mbok Jum. Bagaimana kalau kita ke kampungnya ? Kau setuju? "


Haris begitu antusias siapapun yang melihatnya sudah pasti tidak akan sanggup menolak ajakannya, dia terlihat berbinar bahagia walaupun baru sebatas rencana. Sebegitunya kah Haris menyayangi pembantu itu?


"Kalian kesana saja setelah acara lamaran Ameera dan Erik. Kampung mbok Jum tidak jauh dari kediaman orangtua Erik. Pergilah! Jenguk dia"


Santoso pun merasakan betapa putranya merindukan sosok ibu seperti mbok Jum, yang mana selalu ada untuk dirinya setiap saat ketika Haris kecil.


Ia memberi izin untuk Haris menemui wanita itu.


"Tapi kamu gak apa-apa kan sayang wajah mu pucat"


tanya Haris ingin memastikan jika Divya-nya baik-baik saja.


"Iya aku gak apa-apa"


Divya mengulas senyum demi melunturkan rasa cemas di benak suaminya.


"Syukurlah aku pikir, kau~"


"Tidak aku berangkat sekarang ya"


ucap Haris tanpa melanjutkan kalimat sebelumnya.


Hari itu lagi-lagi Haris dibuat bingung karena permintaan Divya yang tiba-tiba menginginkan sesuatu yang tak pernah ia makan sebelumnya.


Bika ambon sejak kapan istrinya menyukai makanan khas kota Medan itu. Setahu Haris Divya justru tidak menyukai makanan Khas yang memakai nama kota lain jauh dari nama kota asal pembuatannya, bagi orang awam mungkin akan mengira bika ambon ya dari kota Ambon.


"Pulang nanti bawakan aku itu. Ok"


ucap Divya ketika Haris masuk ke dalam mobilnya.


"Iya sayang, nanti aku belikan"


Tanpa membantah Haris mengiyakan permintaan Divya.


"Beli di tempat biasa ,di depan kantor mu pasti ada. Biasanya ada"


"Iya sayang iya"


"Cerewet sekali macam wanita ngidam saja"


gerutu Haris


"Eh, atau jangan-jangan "


Spekulasi mendadak muncul di pikiran Haris.


Sore hari ia pulang dan membawakan pesanan istri tercintanya.


Dengan senyum penuh harap Haris mengajak Divya memeriksakan keadaannya. Namun, yang ia terima justru penolakan dari wanita aneh itu.


Keanehan- nya yang menginginkan sesuatu di luar kebiasaan terjawab sudah.


Hari ini dokter menyatakan Divya hamil. usia kandungannya baru empat minggu, masih sangat rentan dan harus bisa menjaganya dengan sangat hati-hati.


Tidak ada makanan selain yang dokter sarankan, tidak ada aktivitas berat. Tetap di rumah seperti tuntutan Haris.


Bahkan jauh sebelum hamil pun memang Divya tidak pernah beraktivitas yang berat-berat sekedar masuk dapur saja sudah di haramkan.

__ADS_1


__ADS_2