
Keesokan Harinya Divya memutuskan untuk tetap pergi ke kantor karena merasa kondisinya sudah lebih baik.
Sampai sore hari saat jam kantor sudah selesai Divya masih belum datang,padahal ia berjanji akan mampir ke kantor suaminya itu. dengan gelisah Haris menunggu di ruangan nya.
Ia lantas menyuruh Rudi menghubungi Raisa atau siapapun karena ponsel Divya tidak dapat dihubungi.
Rudi menelpon Raisa,dan mendapat jawaban bahwa adiknya sudah keluar dari satu jam yang lalu bersama bos mereka,Nando.
Untuk meninjau proses pembangunan Apartemen di kawasan xx.
Dengan Emosi yang meluap-luap,Haris mengajak Rudi untuk menyusul mereka.
Sampai di tempat yang di maksud,dengan kawalan ketat dari dua bodyguard nya Haris berhasil melewati penjagaan apartemen yang masih dalam proses penyelesaian itu.
"Jawab aku Vero ,kenapa kau mengkhianati ku seperti ini" Hardik Nando saat berada di dalam apartemen.
Divya yang gelagapan atas tindakan Nando,mulai menyadari bahaya.
Beberapa menit yang lalu ia pamit ke toilet setelah selesai meninjau pekerjaan,Hampir 90% apartemen itu rampung dan siap huni.
Begitu ia kembali ,hanya tinggal mereka berdua dengan pintu apartemen yang tertutup rapat,bahkan mungkin terkunci.
"aku sama sekali tidak pernah mengkhianati siapapun,kau bukan siapa-siapa bagiku,baik dulu ataupun sekarang"
Itu kenyataan nya kan?
"Tapi aku meminta mu untuk menunggu ku bukan,kenapa kau malah sudah menikah dengan orang lain" Nando mulai mendekat ketika Divya hendak meraih tas diatas sebuah sofa.
ia merapatkan tubuhnya hingga tak ada ruang untuk gadis itu menghindar.
__ADS_1
"Menunggu mu ??kau meminta ku menunggumu.Cih..bahkan kau pergi tanpa memberi kabar padaku,kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku"
"Lantas apa Kau bahagia dengan pernikahan mu?"
seketika Haris merasa sangat emosi saat mendengar pertanyaan itu dari balik pintu apartemen.
kalau saja Rudi tidak menahannya,mungkin ia sudah menendang pintu itu dengan kakinya.
Rudi meminta Haris untuk menahan emosinya sejenak demi mendengarkan jawaban Divya.
"Tentu saja aku bahagia,kami saling mencintai,tidak ada alasan untuk kami tidak bahagia, bukan?"jawab Divya tegas,walau kini kakinya sudah mulai bergetar.ia meremas jemarinya sendiri demi menahan jantungnya yang berdegup kencang.
Seringai muncul dibibir lelaki itu,
"kau yakin?"tangannya terulur hendak menyentuh rambut Divya,gadis itu melengos kesamping.membuang pandangannya jauh.tak ingin bersitatap dengan pria asing itu.
karena baginya lelaki dihadapannya bukanlah Nando yang ia kenal dulu.
sekarang Divya benar-benar terpojok.
"minggir,aku harus pulang.pekerjaan ku sudah selesai,kan?" Divya setengah mendorong tubuh kekar Nando.
Sontak pria itu mendelik tajam ,tangannya mencengkram kedua pipi Divya hingga gadis itu mendongak.
dengan secepat kilat ia menyambar bibir ranum gadis pujaan hatinya.
Divya berusaha melepaskan diri,ia meronta-ronta.
menggerak-gerakkan kepalanya.
__ADS_1
Namun kalah tenaga, Nando mendorongnya hingga gadis itu tersungkur diatas sofa.
"Kau...!" teriak Divya.
"Apa sayang? bukankah sudah aku katakan aku mencintaimu...aku mencintai Divya Veronika" sudah mulai melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Cih menjijikkan itu yang kau bilang cinta..?tak ubahnya obsesi...! "
"Kau harus menebus kesalahan mu !" kali ini ia hampir menindih tubuh Divya.
"Aku tidak bersalah atas apapun juga ...lepaskan aku...lepas!!! tolong!!!"
"Teriak saja tidak ada yang akan mendengar mu"
Brukk
disaat bersamaan pintu apartemen terbuka dengan satu kali tendangan.
Rudi dan dua bodyguard nya masuk.
seketika Rudi menarik tubuh Nando.
Pukulan demi pukulan menghujani wajah pria kurang ajar itu.
Tanpa ampun .Dua bodyguard itu memeganginya dari kedua sisi.
Kalau saja Rudi tidak merencanakan sesuatu untuknya mungkin saat ini juga ia sudah menyeretnya kedalam
jeruji besi.
__ADS_1
bersambung