
"Haris apa kau bersedia jika ku minta kau menemui Laras sebentar saja? "
"Selama dia tidak berbahaya "
Haris pun melangkah setelah ia yakin jika Laras mulai tenang saat ini. Sudah dua tahun gadis itu di tempat ini setelah sebelumnya menjalani hukuman selama dua tahun.
Saat penangkapannya menyisakan luka dan tamparan keras di wajah kedua orangtua Laras bagaimana pun sang ayah merupakan salah satu orang terpandang di negara asalnya.
Namun,dua tahun Laras di penjara ia tak pernah mendapati sekalipun mereka itu menengoknya. Hanya Intan yang selalu ada untuk gadis malang itu.
Tak lama berselang Laras mendapati kabar jika ayahnya juga di tahan karena kasus korupsi .Sang ibu yang tak kuat menanggung malu pun rela mengakhiri hidupnya sendiri.
Hancur sudah segalanya, Intan terus menjerit histeris mendengar kabar itu. Ia jadi sering marah-marah lalu menangis kemudian tertawa sendiri.
Pihak kepolisian memindahkannya ketempat ini untuk mendapatkan perawatan. Dan sekali lagi hanya Intan yang ada bersamanya.
"Jika mungkin maafkanlah dia, Ris" pinta Intan.
Saat Haris sudah berdiri di hadapan Laras yang tertunduk tanpa sepatah katapun ia ucapkan. Intan mengangguk meyakinkan Haris.
"Laras " panggil Haris pelan.
Gadis itu mendongak dan lantas tertawa melihat sosok tinggi tegap berdiri di hadapannya.
"Kau mengenali ku? " tanya Haris tanpa mengubah posisinya.Tanpa mengubah air mukanya, datar dan tenang.
Laras berdiri, ia berjingkrak sambil bertepuk tangan.
"Haris" gadis itu tergelak.
"Kau Haris? "gadis itu memiringkan kepala.
Menunjuk kasar dada Haris, lantas menangis. Meraung-raung meminta ampun.
"Aku sudah memaafkan mu"
Laras mengusap-ngusap airmatanya kasar. Menatap Haris.
"Aku sudah memaafkan mu, perbaiki diri mu."
Setelah mengatakan itu Haris pun berlalu.
"Tuan! "
jeritan Laras membuat Haris menghentikan langkahnya.
"Maafkan saya tuan " Laras memegangi kaki Haris, bersimpuh.
Haris memegang pundaknya, membantu gadis itu untuk bangun.
Ia mengangguk tanda menerima permintaan maaf Laras.
Dia memeluk Haris erat. Dua pengawal sudah bereaksi, mereka mendekat namun langkahnya terhenti ketika Haris mengangkat tangan ke udara.
Isyarat itu menandakan jika tuan muda tidak merasa keberatan. Biarkan dia menyesali kebodohannya, mungkin dengan memeluk Haris ia akan jauh lebih baik. Meski Haris sama sekali tak membalas pelukannya,ia hanya berdiri tak bergeming.
Pulang dari Rumah sakit jiwa menyisakan tanda tanya di benak Haris, ia kembali bertemu wanita gila yang membawa boneka tadi tengah duduk di sudut pintu, menyebut nama seseorang yang tidak asing di telinga Haris.
Siapakah dia?
Apa Haris salah dengar ?
Sebenarnya siapa wanita itu?
__ADS_1
Saat Haris hendak menghampiri wanita itu dering ponsel menggagalkan niatnya.
Belum lagi wanita itu yang tiba-tiba pergi.
***
Divya tengah gelisah menunggu Haris yang tidak juga datang, hari sudah mulai gelap. Ia sudah menghubungi Haris namun tidak juga menjawab.
Begitu juga saat dia menghubungi Rudi, ia mengatakan jika Haris pergi bersama dokter Intan.
Kemana mereka?
Beberapa detik kemudian Haris datang.
Divya langsung menghambur ke pelukannya.
Haris mencium kening istrinya.
Ia pun menceritakan apa yang baru saja di lihatnya bersama Intan.
Semua terkejut. Selama ini tak ada satupun dari mereka yang mengetahui hal ini. Mereka sama sekali tidak mempedulikan keadaan Laras lagi semenjak ia di ponis pengadilan.
Ironis !
Hidup Laras terpuruk semata karena cintanya kepada tuan muda.
Ia sempat lolos dari hukuman dan lari berlindung di bawah kekuasaan ayahnya.
Namun, ia kembali membawa dendam dan kebencian yang menjerumuskannya .
Sudah bisakah kini Haris bernafas lega. Tidak ! Berita tentang pembunuhan mantan pengasuhnya masih tetap bergulir .Entah sampai kapan.
Sampai pelaku berhasil di tangkap dan di penjarakan.
Hingga detik ini belum ada titik terang.
***
Hari-hari bergulir seperti biasa,gosip dan pemberitaan mengenai Haris mengiringi setiap langkah dan pergerakan-nya.
Walau begitu Haris selalu bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Penyelidikan tetap berjalan hingga detik ini.
Bukan tuan muda Haris Santoso namanya jika pamornya harus tenggelam begitu saja hanya dengan satu pemberitaan.
Dulu saat semua mengaganggap Haris memiliki hubungan skandal antara Marisa dan Laras saja bisa ia atasi dengan mudah. Apalagi sekarang yang hanya menghadapi pengecut yang bisanya mengancam.
Dan bersembunyi.
Pengawalan ketat tetap di lakukan pada seluruh keluarganya, Marisa kecil juga untuk sementara waktu tidak lagi bersekolah.Sampai situasi kembali aman.
Hari ini Rudi menemui Haris di kantor atas permintaannya.
Entah apa yang akan dibahasnya kali ini.
Sesampainya di ruangan,Haris sudah menunggunya duduk bersandar di kursi kebesarannya.
"Ada yang ingin kau bahas? "
tanya Rudi begitu Dimas membukakan pintu untuknya.
Haris tersenyum miring. Ia berjalan mendekati Rudi.
__ADS_1
"Pembahasan " Haris melempar ponsel ke atas sofa.
"Pembahasan yang sangat penting,SANGAT PENTING tuan Rudi !"
Haris seperti sedang kesal.Ia melonggarkan dasi bahkan membuka kancing teratasnya.
"Kau tahu apa yang ingin aku bahas disini sekarang"
Haris menggulung lengan kemejanya. Ia semakin mendekati tempat dimana Rudi kini terduduk, ia masih santai meski tahu Haris sedang kesal terhadap dirinya.
"Kebodohan mu ! " Haris mencengkram kerah baju Rudi,memaksanya berdiri.
"Ada apa, Ris ?"
Rudi masih bisa tenang meski Haris tidak juga melepaskan pegangan tangannya di kerah baju.
"Kebodohan mu, kelalaian mu ! Kau masih belum mengerti juga ?"
Dimas yang sedari tadi memerhatikan pun ikut tersentak melihat kedua orang di hadapannya tiba-tiba bersitegang dan hampir adu jotos.
Dimas hendak melerai keduanya namun Rudi memberi isyarat agar dirinya
tetap diam.
Haris melepas cengkraman di leher Rudi, menyentakkan tubuh kekarnya hingga ia mundur dua langkah ke belakang.
"Jelaskan padaku ada apa ini
sebenarnya? "
Rudi bertanya lagi, ia memegang kerah kemeja merapihkannya kembali.
"Ternyata hengkang dari sampingku membuat insting mu lemah, Rud"
Haris kembali tersenyum miring.
Sementara Rudi yang disindirnya
hanya mengernyit tak mengerti .
"Aku masih tidak mengerti, coba jelaskan ini,Dimas kau tahu kenapa kakak ipar mu ini tiba-tiba marah? "
Rudi melempar pertanyaan kepada Dimas yang nampak tegang.
"Kenapa kau malah bertanya pada Dimas. Kau masih belum mengerti juga, apa perlu ku layangkan pukulan agar kau menyadari kesalahan mu ?"
"Aku sudah mengirim utusan untuk mengecek appartemen di Bogor.
Sudah selesai dan terjual ,tapi mana? Sampai saat ini tidak ada laporan dari pria brengsek itu"
Haris mulai tersulut lagi ketika menyebut pria brengsek, pria yang dimaksudnya itu tak lain ialah pak Andri.
"Kau bilang pria itu sudah berubah, bukan? Berubah menjadi lebih buruk. "
Ia terlihat begitu marah, sampai melempar berkas ke hadapan Rudi.
Berkas penjualan appartemen milik Santoso Group.
"Semua uangnya masuk ke rekening itu, kau lihat! "
Haris menunjuk kasar tulisan yang tertera di berkas tersebut. Ada nomor serta nama pemilik rekening atas nama Andri.
Jadi untuk kesekian kalinya pria itu membodohi Haris.
__ADS_1
Dan menyebut ini sebagai kebodohan Rudi.
"Kau masih mau menyangkal. Atas semua kebodohan mu !" sentak Haris.