Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 16


__ADS_3

Berdiri di sini dengan kaki gemetar.


Marisa gelisah. Apa yang akan ia katakan nanti. Kembali menengok pintu keluar para penumpang pesawat. Masih belum terlihat dia datang.


Sekilas Marisa melirik Fadlan di sampingnya. Pemuda yang selalu ada untuknya. Membuat hari-harinya terasa indah.


Fadlan Mahesa Yunus.


Teringat empat tahun lalu, saat ia untuk pertama kalinya bertemu. Moment yang menjengkelkan itu.


Marisa tersenyum malu saat ia mengira Hazlan itu Fadlan, memukul motornya di halaman masjid. Meneriakinya di depan pesantren.


Lalu, dengan santainya Fadlan keluar sambil bersiul tanpa menghiraukan keberadaan orang-orang yang ia lewati saat itu. Bahkan ia tersenyum geli ketika melihat Marisa kebingungan mendapati dua wajah yang sama.


Belum lagi saat Marisa kabur dari Villa. Menyodorkan minuman itu. Rokok dan tatapan serta senyumnya yang menyeringai.


Marisa selalu bergidik ketika mengingatnya.


Tidak pernah ia menyangka,


Fadlan yang menyebalkan bisa sebaik ini sekarang.


Di mulai ketika Marisa bertemu dengannya di toko buku. Keduanya saling bertukar nomor ponsel .


Lalu, mengantar keberangkatan Hazlan di bandara menuju Kairo. Candaannya di depan Hazlan saat itu, sukses membuat wajahnya merona.


Setelah itu dua bulan lamanya ia tidak lagi bertemu. Sesekali Marisa menelponnya. Atau Fadlan ada mengirim chat ke nomornya.


Masih terasa canggung.


Atau bahkan berdebat kecil, seperti itulah mereka tidak pernah akur.


Dua bulan tidak berjumpa, sampai insiden itu terjadi. Perkelahian ,antara Fadlan dengan


Leo !


Adik Marisa sendiri. Keduanya diseret keluar bar dalam keadaan sama-sama babak belur. Aroma amis darah bercampur dengan bau alkohol. Beberapa teman mereka membawanya ke rumah sakit dimana dokter Marisa bekerja di sana.


Tengah malam. Marisa sedang melaksanakan tugas piketnya malam itu, satu minggu sekali seperti biasa .


Dua buah brankar dorong melewatinya ketika baru saja Marisa keluar dari ruangan salah satu pasiennya. Untuk pemeriksaan.


Kedua orang di atas benda berjalan itu, Marisa mengenalnya. Tidak sulit bagi Marisa mengenali mereka meski sama-sama lebam dan berlumur darah.


Di belakang dua brankar ada dua kumpulan anak-anak berandal.


Kedua belah pihak sama-sama bersitegang. Marisa menghampiri salah satu kelompok.


Keempat sahabat Leo, mereka tahu siapa yang tengah berjalan mendekati dengan tangan merogoh kantung white coat -Nya.


Dia kakak dari sahabatnya sendiri.


" Kak Icha.Kakak disini, eum itu~"


salah satu dari mereka menyapa Marisa dengan gugup. Takut jika amarah yang akan mereka dapat.


" Kalian ini, " telujuk Marisa menunding.

__ADS_1


"Leo ribut lagi ? Apa masalah kalian? Gak ada kapoknya ya. " Marisa melotot tajam.


Ada kekesalan terpancar di wajahnya. Ini bukan kali pertama adiknya terlibat perkelahian. Sejak SMU dan sekarang, baru dua bulan menyandang status mahasiswa mereka kembali berulah.


Saat Marisa tengah meluapkan kekesalannya pada anak-anak berandalan itu, seorang suster datang menghampirinya.


"Permisi dok, " ucap si perawat.


" Ya! " Marisa menoleh dan menyahuti.


"Dokter, tolong bantu pasien yang tadi baru saja masuk ,dok. Itu tuan Leo. " ucap suster itu lagi.


Pasien yang baru masuk memang adiknya .Suster itu saja sudah hafal. Dan memang tidak ada dokter lain yang menganggur selain dirinya.


"Kalian semua bubar. Ingat jangan ada yang ribut atau bertengkar ! Langsung pulang ke rumah." Ultimatum Marisa sebelum ia beranjak pergi.


Marisa berjalan menuju ruang IGD.


Dua bocah ingusan itu pasiennya malam ini.


Dengan kesal ia membersihkan darah yang mengucur di pelipis Leo.


"Lagi-lagi kamu yang jadi pasien tengah malam, dasar anak nakal. "


Ia menekan-nekan kapas beralkohol itu dengan agak kasar.


Fadlan di brankar sebelah mengernyit heran. Seakan ia tengah bertanya-tanya darimana Marisa mengenal Leo. Pemuda sombong dan sok paling tampan sejagad.


Ya. Ya ! Fadlan tahu dia orang kaya.


"Gue bilangin ayah baru tahu lo ! " amarah Marisa masih belum reda.


Ia terus membersihkan luka di wajah Leo dengan kasar hingga ia meringis kesakitan.


" Aw!! Pelan-pelan dong ,kak. Kasar banget." Leo memberenggut.


"Gue gak mau diurus lo deh, mendingan sama suster. " protesnya lagi.


Marisa memutar bola mata jengah.


"Ya udah nih urus sendiri lukanya, sukur ! " ia melempar kapas itu ke wajah adiknya.


Fadlan seketika tahu siapa yang baru saja ia pukuli di bar. Adu jotos bukan di arena tinju itu membuatnya kembali bertemu dengan Marisa dan masalah baru.


Adik !


"Tuan muda itu adiknya dokter Marisa , mas. "


Itulah penuturan suster yang tengah membalut lukanya dengan perban saat ini.


"Namanya tuan Leo. Ayah-nya yang punya gedung rumah sakit ini. Bertengkar dengannya cuman bakal bikin hidup jadi sengsara .Hati-hati !"


imbuh suster itu mengakhiri tugasnya,membereskan kembali sisa perban dan obat luka .


"Suster sialan, " pekik hati Fadlan, mengumpat.


"Kami juga, " tiba-tiba di tengah lamunannya Marisa melempar lap serbet penuh darah ke pangkuan Fadlan. Membuatnya terhenyak kaget.

__ADS_1


" Setiap kali ketemu sama kamu masalah terus yang terjadi. " Kata-kata itu ia tunjukkan untuk Fadlan.


Dia yang sekarang hanya menggerakkan halisnya saja sebagai perwakilan dari pertanyaannya.


" Kalian ini bertengkar ngeributin apa, hah? " ia sudah berkacak pinggang. Tak lagi mengidahkan etika kesopanan seorang dokter. Tengah malam tidak akan ada yanh berani mengadu. Toh dua anak manusia di hadapannya Marisa kenal. Dua duanya pembuat onar.


" Kakak kenal sama nih bocah? " Leo menuding Fadlan dengan telunjuknya.


Ia menatap tajam.


"Ya itu, eum~"


"Dia Fadlan, " ucapan Marisa terdengar kaku.


"Ya iya emang namanya Fadlan, gue juga tahu itu ,kak."


solot Leo menohok kebodohan kakaknya. Jelas Leo tahu namanya karena memang mereka satu universitas.


Marisa menghela nafas berat.


"Kembarannya Hazlan, "


Barulah setelah itu Leo mengerti. Hazlan pria yang fotonya ia lihat di ponsel sang kakak tiga hari lalu, walau ia hanya melihatnya sekilas.


"Ah iya, kenapa gue baru nyadar dia ~"


Leo menuding wajah Fadlan lagi.


" Ah kurangajar. Jadi ini si kembar. "


Sejak saat itu Marisa lebih sering bertemu lagi dengan Fadlan. Begitu pun Leo. Ia bahkan menceritakan perubahan sikap Fadlan baik padanya atau pada teman-temannya. Entah apa yang sedang pemuda itu coba tunjukkan .


Apa di tulus dengan perubahannya.


Yang Marisa tahu Fadlan sebenarnya memang baik.


Makan siang atau terkadang makan malam bersama mereka lakukan.


Mengantar kemana Marisa ingin pergi. Ke tempat-tempat yang ia sukai. Selalu setia menemani.


Terkadang keduanya hanya mengobrol dan tertawa. Hingga kecanggungan seketika hilang.


Sampai detik ini. Marisa bukan lagi tengah meliriknya ,melainkan menatapnya lama.


"Hei, kenapa? " tanya Fadlan.


Hingga ia tersadar dimana ia berada sekarang .


Bandara.


Yang mana niatnya datang ke tempat ini untuk menjemput Hazlan,kepulangannya dari Kuliah ke tanah air setelah empat tahun berlalu.


" Kau sudah berubah haluan, dokter? "


Marisa hanya mengelengkan kepala.


Meminta agar Fadlan tidak lagi menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2