Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap25


__ADS_3

Meski dengan berat Marisa meninggalkan pesantren itu saat malam menjelang. Ummi Nara sudah memperingatkan Marisa dan memintanya kembali ke Jakarta esok hari. Namun, Marisa tetap bersikukuh,ia tak ingin berlama-lama di tempat itu. Akan semakin berat bagi Marisa jika ia terus berada di sekitar Fadlan.


Kebaikan pemuda itu selama ini cukup bagi Marisa menyadari jika hadirnya berarti. Sayang, semua itu terlambat ia pahami. Lalu mengapa Fadlan tak pernah mengatakan jika dirinya memiliki perasaan cinta dalam lubuk hatinya untuk Marisa. Ini karena Hazlan ? Tidak, itu semua karena Marisa yang salah. Ia yang terus memikirkan Haz tanpa memahami perasaan Fadlan.


Beberapa hari ke depan hidup Marisa akan berubah. Ia yang memutuskan menikah dengan Reno. Tetapi apa Marisa akan bahagia. Entah takdir apa yang sedang tuhan persiapkan untuknya. Marisa terus melajukan kendaraannya di bawah langit gelap. Waktu sudah pukul 08.00 malam. Di pedesaan yang Marisa lewati sudah sepi. Entah kenapa degup jantungnya semakin kencang. Gelapnya malam sunyinya jalan membuat Marisa merinding.


"Kenapa aku menolak tawaran Ummi menginap tadi, ah aku takut sendirian begini. Aku juga nolak tawaran Fadlan untuk mengantarkan aku, " ucapnya di tengah keheningan.


Hanya deru mobil yang terdengar melaju cukup kencang di jalanan kecil yang nantinya akan tembus ke jalan raya. Marisa tergolong berani ketika harus melewati hutan, jalan yang sepi dan menyeramkan.


Tak berselang lama, sebelum Marisa sampai jalan utama. Ia mendengar suara kendaraan lain. Motor yang melaju sedari tadi mengikutinya. Awalnya Marisa takut, takut jika ada orang yang berniat jahat kepadanya. Mereka yang suka membuntuti pengendara wanita lantas melancarkan aksinya di tempat sepi.


Namun, Marisa dengan berani melirik kaca spion mobilnya,memastikan siapa orang itu sekaligus bisa menghafal jika ada nomor plat seri di kendaraannya.


Akan tetapi begitu melihat motor itu, Marisa tersentak kaget, ia mengenalinya.


Ada Fadlan di sana yang menunggangi kuda besi itu. Ada apa Fadlan menyusulnya. Dia mengikuti Marisa, untuk apa.


Sesaat mobil Marisa berhenti di pinggir jalan yang masih ramai. Ini memang sudah berada di wilayah kota. Jalan raya yang tembus menuju Jakarta selalu dipadati kendaraan. Marisa turun dari mobilnya.


Sementara itu melihat mobil Marisa yang berhenti mendadak, Fadlan pun menghentikan laju kendaraannya. Ia menghampiri Marisa yang tengah berdiri menatapnya.


"Ada apa? Kenapa berhenti, Cha? " tanya Fadlan begitu ia mendapat jarak untuk bicara pada Marisa.


"Kamu ngapain ngikutin aku sih, Lan? " ucap Marisa dengan mengerucutkan bibirnya.


"Mana mungkin aku biarkan kamu pulang sendiri malam-malam begini. Aku khawatir, kalau terjadi apa-apa di jalan maka aku yang akan merasa paling bersalah. Kamu pergi dari rumah kan untuk nemuin aku, " tutur Fadlan mengungkapkan apa yang menjadi alasannya terus mengikuti laju kendaraan Marisa.


Marisa tersenyum kala mendengar kalimat itu, ia begitu terharu. Melihat semua kebaikan Fadlan membuatnya merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia yang menganggap jika cinta itu untuk Hazlan, sementara yang selalu ia lihat justru Fadlan. Mengapa dirinya begitu bodoh hingga tak bisa mengenali perasaannya sendiri.


"Maafkan aku Fadlan." Marisa tertunduk, bulir airmata tak sanggup lagi ia tahan.


"Hei, kenapa menangis. " Dengan sigap tangan Fadlan terulur menghapus jejak airmata di pipi Marisa dan gadis itupun tersenyum.

__ADS_1


"Kamu pantas bahagia dan mendapatkan yang lebih baik dariku. Jadi, tolong berhenti mengkhawatirkan aku, " ucap Marisa yang secara tidak langsung meminta Fadlan untuk tidak mengganggunya atau bahkan menemuinya.


"Aku tahu itu, aku yang tidak pantas bersanding dengan mu, iya kan? " Fadlan cukup tahu diri, ayah Marisa memang sejak awal tidak menyukainya.


" Bukan, bukan begitu. Kau pantas mendapatkan perempuan yang mungkin seusia mu atau lebih


muda. " Marisa tersenyum getir.


Ia cukup tahu diri. Jika Hazlan saja bisa melupakannya dan memilih gadis sebaya dengannya lalu mengapa Fadlan harus bertahan dengan perasaannya. Dia juga pantas mendapatkan yang lebih baik.


"Kamu kok ngomongnya gitu, aku sayang sama kamu tulus, Cha. " Fadlan meraih jamari Marisa dan menyakinkannya jika ia begitu mencintai Marisa tanpa melihat perbedaan usia.


"Aku antar kamu ya, aku cuma mau mastiin kalau kamu sampai rumah dengan selamat," tutur Fadlan lagi. Ia menuntun Marisa masuk ke dalam mobil dengan membukakan pintu untuknya.


"Tapi, Lan. " Marisa masih tak bergeming, ia masih berdiri di samping mobilnya.


"Kenapa? Kamu tadu keberatan jika aku mengantarmudan sekarang aku hanya mengikuti mobilmu dengan motor. Aku tidak akan sampai di rumah kamu, Cha. Aku mengantarmu sampai masuk kota Jakarta, setelah itu aku balik lagi


kesini, " tutur Fadlan menyatakan niatan baiknya yang ingin memastikan jika Marisa akan sampai Jakarta dengan aman .


"Betul juga. " Fadlan mengusap tengkuknya sendiri menyadari hal itu.


"Ya sudah sampe pintu tol saja tidak masalah, " ujar Marisa memberenggut kecewa.


"Eeh, ya udah aku yang nyetir ya? " akhirnya Fadlan berubah pikiran juga.


Membuat garis senyum terukir indah di bibir Marisa.


"Senyum, tadi aja nolak, " ledek Fadlan ia menutup kembali pintu kemudi.


"Hehe, " Marisa yang mendapatkan ledekan dari Fadlan hanya memamerkan deretan gigi putihnya, dan juga gingsul yang membuat senyumnya menjadi begitu manis.


"Aku malu sama Ummi," selorohnya dengan wajah super menggemaskan di mata Fadlan.

__ADS_1


Marisa terbilang lebih dewasa usianya, namun sikapnya yang cenderung manja membuat dia terlihat seperti anak SMA bagi seorang Fadlan. Dirinya yang empat tahun lebih muda justru lebih dewasa secara sikap dan pemikiran.


Fadlan menaruh hati pada sosok Marisa dari awal mereka bertemu. Ketidaksengajaannya menabrak gadis itu di kebun teh empat tahun lalu menumbuhkan benih asmara saat ia baru saja berusia 19 tahun.


"Malu kenapa? " tanya ia datar sambil berlalu memarkirkan motornya.


Fadlan menitipkan motor pada seorang teman yang kebetulan memiliki bengkel di jalan tepat di mana mobil Marisa berhenti. Jadi ia hanya mendorongnya sebab tidak terlalu jauh.


"Malu aja kesannya aku nyusul-nyusulin cowok, " ujar Marisa begitu Fadlan kembali dan membukakan pintu untuknya.


"Eum, emang gitu kan biasanya, " ucap Fadlan sedikit bergurau dengan kekehan kecil.


"Enak aja, aku mana pernah nyamperin cowok duluan, " dengus Marisa tidak terima.


"Pernah, " suara Fadlan kembali menggema seakan ia benar-benar tengah mengolok gadis itu.


"Kapan." Marisa nampak mengerlingkan mata tidak suka.


"Waktu Haz di Kairo, kamu sering datang ke pesantren, kan. Buat deketin calon ayah dan ibu mertua. " Fadlan kembali tertawa renyah.


Ia pun mulai menstater mobil Marisa, dan melajukannya pelan.


"Enak aja ! Itu kan beda, Hazlan gak ada di sana waktu itu," protes Marisa.


" Ya, iya Haz gak ada, tapi aku ada. Karena kamu sebenernya cintanya sama aku, iya dong? " masih saja dengan nada bergurau Fadlan tertawa puas.


Marisa hanya menanggapinya dengan senyum malu serta rona wajah yang memerah.


"Kenapa khimarnya dibuka lagi? Kamu cantik pakai itu, Cha." Fadlan menyadari Marisa yang membuka kembali kerudungnya.


"Nanti aku pakai lagi kalau udah beneran siap, kemaren tuh aku pakai hijabnya dengan niat yang salah. Cuman buat bikin Haz kagum. " Marisa mengatakan apa yang selama ini salah dalam hidupnya.


Tiga tahun ia berhijab hanya karena menginginkan pujian dari Hazlan. Namun, apa yang terjadi ia justru harus menelan pil pahit, kekecewaan.

__ADS_1


Sekarang ia kembali sadar rasa kecewanya terhadap Hazlan tidak lebih besar dari rasa kehilangan saat jauh dari Fadlan.


__ADS_2