Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 24


__ADS_3

Sampilah Marisa di taman belakang, semula langkahnya begitu yakin. Entah mengapa ia kini ragu, melihat dua punggung pria duduk di sana membelakanginya. Walaupun dengan ragu, akhirnya Marisa berdiri tepat di belakang Fadlan. Betapa terkejutnya ia ketika baru saja hendak menepuk bahu Fadlan laki-laki dengan suara khasnya yang cenderung berat itu bicara.


" Untuk apa datang ke tempat ini? " suara dari balik punggung itu seakan bicara padanya, Marisa terkejut .


"Dia tahu aku di sini? " dengan gugup ia menoleh kanan kiri memastikan jika Fadlan bicara pada orang lain. Namun, di tempat ini hanya ada mereka bertiga.


Mungkin dia bicara pada saudara kembarnya, pikir Marisa melirik Hazlan di sampingnya.


"Marisa, " nama itu terdengar indah ketika dia menyebutnya. Wanita yang tengah berdiri dalam keterkejutan pun sontak menjawab 'Ya'.


"Dia benar-benar tahu aku di sini? Dia ini peramal atau apa? " bisik hati Marisa.


Baik Fadlan maupun Hazlan berdiri bersamaan menghadap Marisa yang tengah bingung. Apalagi yang bisa Marisa katakan melihat dua sosok sama ada di hadapannya. Sadarkah ia akan hatinya? Marisa mengulas senyum. Sumpah demi apapun senyuman itu adalah senyuman terindah bagi si kembar Fadlan dan Hazlan.


"K-kau tahu aku di sini? " ucap Marisa setelah kembali tersadar dari rasa terkejutnya.


"Aku bahkan bisa merasakan kehadiran mu, meski dari jarak beberapa meter. "


Terdengar seperti lawakan tetapi ia menyebutkan itu dengan begitu serius.


"Wah benarkah ? Hebat dong kalau begitu . " Marisa mengapresiasi dengan kembali mengulas senyum.


Ia melirik sekilas Hazlan yang ikut pula tersenyum. Lalu, mengalihkan kembali pandangannya pada Fadlan.


" Kenapa? Kenapa pergi? " tanya Marisa. Batinnya mengatakan


" tidak bisakah kau pergi dari tempat ini, Haz. Aku mau bicara dengan kakakmu. "


Lagi-lagi Marisa melirik risih pada Hazlan yang masih terpaku menatapnya.


"Bisa tolong minta waktu, aku mau bicara dengan Fadlan. BERDUA ! " ucap Marisa mempertegas kerisihannya mengenai kehadiran Haz di tempat itu.


"Ah i -iya, maaf !" Haz tersadar dari sihir yang Marisa tanamkan lewat sebuah senyuman. Ia mengakui betapa ukhti Marisa begitu cantik dengan kerudung yang menghiasi kepalanya itu.


" Itu kerudung pertama Ummi, jadi Fadlan sudah memberikan itu padanya. Lantas mengapa ia memakainya jika tidak menerima Fadlan? "


Hazlan melangkah meninggalkan keduanya di taman belakang pesantren. Berharap tak terjadi apapun selain perdamaian di antara keduanya. Haz tahu ini semua kesalahannya yang harus hadir di tengah-tengah mereka. Seandainya Haz meyakinkan Marisa sedari awal mungkin wanita itu kini telah bersanding sebagai kakak iparnya.


"Kau mau menikah kan? " Fadlan kembali duduk di bangku tadi, memunggungi lagi Marisa di belakangnya.

__ADS_1


"Kamu tega Fadlan, " Marisa beralih kehadapan Fadlan melempar buket bunga yang ia bawa dalam gendongan tangan ke pangkuannya. Laki-laki itu sontak mendongak.


" Berikan dengan benar ! " perintah Marisa hanya menyisakan gurat bingung di wajah Fadlan. Ia yang kembali berdiri berhadapan dengan Marisa.


" Kau buang itu di tempat sampah kan? Apa maksud semua ini? Teganya, aku sampai harus memungut kerudung dan bunga mawar dari tempat kotor itu. " Fadlan kini tersadar jika Marisa memakai apa yang hendak ia berikan.


"Jangan tanya bagaimana aku tahu semua ini !" Marisa bisa menebak isi pikiran Fadlan. Dia yang akan menanyakan bagaimana dirinya bisa menemukan semua barang yang dibuangnya tanpa rasa belas kasihan.


"Ini~"


"Jangan pula bilang kalau semua ini bukan milikmu! " sergah Marisa memotong perkataan Fadlan.


" Ya! Ini semua semula memang untuk mu, tapi semua itu tidak penting lagi bagi mu, kau akan menikah dengannya, bukan ? Pergilah dari tempat ini !" dengan lemas Fadlan membanting tubuhnya kembali duduk .


" Kau jatuh cinta pada ku? " tanya Marisa begitu yakin.


Fadlan mendongak.


"Kalau tidak untuk apa semua ini? " Marisa mencegah Fadlan mengelak.


"Mawar merah? " arti dari bunga itu, setiap wanita pasti mengetahuinnya.


"Cha, aku~"


"Aku juga! " ucapan Marisa menambah gurat di kening Fadlan semakin dalam. Apa maksud dari 'aku juga' ia berdiri berhadapan lagi dengan gadis itu.


Tanpa berpikir apapun lagi Marisa menghambur kepelukan Fadlan. Pemuda itu tentu kaget. Ia tak lantas membalas pelukannya, masih dalam keterkejutan mendengar kalimat Marisa berikutnya.


"Aku merasakan sepi saat kau tidak ada Fadlan. Aku sendiri bingung mengapa itu semua terjadi. Mungkinkah sekarang aku menyadari hadirmu penting bagiku. "


Fadlan balas memeluk Marisa erat. Bahkan ia menciumi puncak kepala Marisa yang terhalang kerudung itu.


Gadis ini begitu cantik memakainya.


Tak berselang lama Marisa tersadar, ini di mana dan tidak pantas rasanya berpelukan seperti itu di tempat ini.


Airmata Marisa menetes, membasahi pipi putih nya. Tangan Fadlan dengan sigap terulur menghapus jejak cairan bening itu.


"Jangan menangis? Aku tidak

__ADS_1


pernah sanggup melihat airmata


ini. "


ucapnya, berusaha mengembalikan senyum indah Marisa.


"Aku harus pergi, aku terlambat menyadari semua ini. Sekarang aku harus menuruti permintaan kedua orang tua ku." ucapan Marisa bagai perisai yang menghujam hati Fadlan. Walau ia tahu dari sejak awal namun mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Begitu perih bagai luka yang tersiram air.


Fadlan yang semula mengusap airmata Marisa perlahan menjauhkan tangannya dari wajah gadis itu. Ia sadar tak memiliki hak atas Marisa.


"Tapi, Fadlan. Kau harus percaya bahwa aku ~" Marisa mengigit bibir bawahnya, ragu mengatakan hal ini padanya.


" Aku mencintaimu, Lan." Marisa mendongak memberanikan diri menatap manik Fadlan lekat.


Seketika Fadlan seakan tersengat aliran listrik, tangannya tak kuasa lagi untuk tidak kembali memeluk Marisa. Tidak perduli lingkungan apa tempat ini. Jika Fadlan egois ia tidak akan pernah melepaskan Marisa untuk pergi kemanapun. Hanya dirinya yang berhak. Marisa hanya miliknya.


"Terimakasih untuk mengatakan itu padaku. Tapi, apa kau yakin? Semua ini bukan karena Haz? "


Perlahan Marisa melepaskan diri dari dekapan Fadlan. Ia tersenyum malu. Rona wajahnya yang memerah menandakan hal itu.


"Aku yakin, " Marisa mengangguk.


"Seyakin-yakinnya. Aku salah menganggapmu Hazlan selama ini. Aku sadar bukan dia yang aku cintai, tapi kamu. Kamu Fadlan" ucap Marisa meyakinkan.


"Tapi~"


"Tapi apa lagi, kita belum terlambat, bukan? " Fadlan kembali meraih jari Marisa, mengajaknya menyatukan cinta mereka. Belum ada yang terlambat.


" Aku malu mengakui hal ini, karena itu aku diam. "


"Kau bisa menemukan gadis yang lebih baik dariku. Yang lebih muda dan sholehah tentunya. Bukan aku, " ujarnya meminta Fadlan melupakan semua kenangan yang pernah terjadi di antara mereka .


" Jika aku harus menanggung rasa sakit itu cukup ketika kamu terus memikirkan Hazlan, tidak lagi Marisa! " Fadlan tidak ingin melihat wanita itu bersanding sengan pria lain. Ia tidak akan pernah rela.


"Tapi, Lan. Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Tolong maafkan aku Fadlan. "


Marisa perlahan melepaskan genggaman tangan Fadlan, ia melangkah pergi meninggalkan pemuda itu seorang diri di sana.


"Lalu mengapa kau datang ke tempat ini, menerima bunga serta khimar itu kalau kau menolak ku?" perkataan Fadlan membuat langkah kaki Marisa semakin terasa berat.

__ADS_1


__ADS_2