
Malam yang tak bisa dilupakan haris seumur hidupnya.bertindak kasar terhadap seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.
kecemburuan membutakan nya.
walau dalam benaknya ia masih bertanya-tanya.benarkah ini karena cemburu?
atau karena penolakan Divya malam itu membuat nya tersinggung.entahlah yang jelas dia tak dapat mengendalikan emosinya.saat mendapati Divya pergi bersama pria lain,terlebih pria itu Nando,pria yang pernah dekat dengannya dimasa lalu.
"Satu hal yang harus kamu tahu suamiku.tidak ada yang menyentuh ku selain dirimu.belum pernah ada yang melakukan itu padaku.aku tidak pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar teman,dengan pria manapun" tersenyum getir Divya dibalik punggung Haris,mengingat masa lalu nya.
"Kau yang pertama buatku,yang menyentuh ku.aku mungkin sudah bermimpi jika mengharapkan itu darimu" semakin mengeratkan pelukannya.
Haris memegang tangan Divya,membuka pelukannya dan berbalik menatapnya.
mencari kejujuran dimata gadis itu.
"Sungguh...?"
Sungguh aku yang pertama menyentuh mu.batin Haris.
Gadis itu mengangguk yakin.
Selama ini Divya memang kerap dekat dengan banyak pria,namun di antara mereka hanyalah teman satu sekolah atau satu kampus.tidak lebih.
bahkan dengan Nando sekalipun,ia tidak pernah menjalin hubungan special.
__ADS_1
"Dia..." Belum haris melanjutkan ucapannya.
Divya sudah menyela,mengerti arah pembicaraan yang di maksud suaminya itu.
"Aku belum sempat cerita soal dia,Nando baru datang dari luar negri kemarin.."
"Jangan pernah sebut namanya lagi" haris mengacungkan telunjuknya di depan wajah divya.
"kau pulang larut malam aku tidak punya kesempatan untuk bicarakan masalah itu...dan tadi malah kita bertemu di restauran" Divya menunduk.
"Kau masih mengingatnya? masih mencintai nya?" tanya haris lirih,menatap lekat istrinya itu.
"tidak.." Divya menggelengkan kepala.
"Lalu apa alasan mu menolak ku,Heum...?" kali ini tangan Haris mengusap sisa airmata di pipi Divya.
ia memilih menunjukkan sesuatu yang ia bawa bersama pakaian gantinya itu,sesuatu yang ia sembunyikan.
sesuatu yang mampu membuat haris menahan senyum,menggelengkan kepalanya dengan bodoh.
"Ok...mandi sana,bersihkan dirimu!" ia tertawa.
"Tidak mau...!" jawab Divya nada bicaranya sudah dia setting terdengar semanja mungkin.
"Hei...kenapa?" haris bertanya heran melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak mau...kau sudah kasar padaku,minta maaf ,ayo minta maaf...!" perintahnya agar Haris meminta maaf.
"Haha...merajuk rupanya.baiklah baiklah...maafkan aku...sayang"
Deg. ketika tangan nya menyentuh rambut Divya,gadis itu merasa malu.wajahnya terlihat merona merah.
"Kau tidak mengatakannya malam itu.dan membuatku cemburu buta begini sekarang"
"Kau yang pergi begitu saja setelah..." Divya tidak melanjutkan kata-katanya ia mengusap pipi yang di tampar haris malam itu.
"Astaga...maafkan aku" haris mengusap pipi Divya lembut.
"Masih sakit tahu" Divya cemberut
"Yang benar saja" bantah Haris tersenyum tak percaya melihat tingkah menggemaskan istrinya,cemberut nya itu membuat ia terlihat cantik dimata Haris.
"iya...memang masih sakit..disini..." tulunjuk Divya menunjuk Dadanya.
"Disini" Haris mengikuti arah telunjuk istrinya itu sambil tergelak."sini biar aku periksa" timpalnya menggoda,dengan tatapan mata yang sulit di deskripsikan lewat kata-kata.
"Ah tidak mau,aku mau mandi" Divya menepis tangan itu sambil tersenyum malu.ia melangkah ke kamar mandi.
"Hei,sini aku periksa " Haris mengusap tengkuknya beberapa kali,tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
Divya mengatakan sesuatu sebelum ia masuk kedalam kamar mandi.kata-kata telak yang membuat Haris berpikir keras demi mencerna maksud dari perkataan istrinya itu.
__ADS_1
bersambung....