Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 12


__ADS_3

Lagi pula ini baru beberapa hari untuk Marisa bisa menyadari perasaannya.


Mengenal pria bukan seperti memilih baju di lemari walaupun harus mengacak-ngacaknya terlebih dahulu tapi akhirnya kita akan memakai apa yang ada meski tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.


Berbeda, pria bukanlah baju. Bayangkan saja jika kalian memaksakan kehendak. Cinta yang bukan pada pilihannya. Akan ada dua kemungkinan, bertahan walau sakit atau hancur.


Pun dengan Reno, seperti itulah dia juga berpikir. Tak ingin memaksakan Marisa dan tidak pula bisa menerima Anita.


Biarkan semua berjalan dengan alurnya sendiri .Alur kehidupan yang sudah tuhan gariskan. Jika berjodoh maka tak satupun bisa mengelak.


Andai Marisa tahu seperti apa perjalanan panjang ayah dan bundanya.


Cinta yang rumit. Lebih rumit dari kisahnya saat ini. Berdua mengalahkan ego. Mengalahkan dendam dan menciptakan kebahagiaan.


"Aku mana berani mengatakan perasaan ku sama kamu, Cha. Aku cukup tahu diri. " Marisa mendesah, mengingat perkataan Reno semalam. Langkahnya gontay menuju ruang makan.


Sarapan pagi terhidang. Marisa sudah cukup kenyang menerima omelan ayah semalam. Dan sekarang, makanan di meja terhidang lengkap dengan tatapan ayah Haris yang menusuk jantung.


Menghela nafas berat. Rasanya hati ini begitu rapuh. Ada perasaan aneh setiap kali mengingat wajah itu. Ia buru-buru menepis. Menyadarkan diri dimana ia berada sekarang. Bukan Villa maupun pesantren. Tapi rumah.


Rumah tempatnya tinggal selama ini.


Bagai burung kembali pada sangkarnya. Ia hanya akan melompat turun naik.


Seperti Marisa selama ini, naik turun tangga. Keluar pun harus dengan izin. Tanpa semua itu sia-sia.


"Kau sudah menyadari kesalahan mu sekarang? "


Benar saja itulah sarapan pertama nya. Pertanyaan yang menohok. Marisa hanya mampu mengangguk.


" Untuk sementara jangan berhubungan lagi dengan Reno. Dia sudah mulai bekerja di tempat ayah. Biarkan dia membuktikan kemampuan nya. "


Kenapa Reno yang dibahas. Marisa tidak punya keluhan tentang dirinya.


Atau ayah Haris tengah mengujinya,karena hanya dengan Reno lah dirinya bisa bebas kemana saja.


Jika Reno yang meminta maka memohon izin pada ayah adalah hal yang mudah.


" Ayah kenapa bahas kak Reno. Kak Icha lagi suka sama si kembar. Bukan Reno! "


seloroh Leo yang sedari tadi asik sendiri dengan sarapan pagi di hadapannya. Dan ponsel di tangan kirinya.


"Diam kamu ! Simpan posel mu !" Haris menggeram. Divya menggelengkan kepala menatap apa yang dilakukan putranya.


Bermain ponsel di meja makan salah satu yang diharamkan di rumah ini.


Mengapa putranya masih saja tidak mengidahkan hal itu.


"Sorry! " Leo memberenggut. Kekey adik bungsu nya menjulurkan lidah. Meledeknya .


Tak ada yang Haris katakan lagi setelah itu. Ia sudah selesai dengan sarapan nya. Melangkah menuju mobilnya.


Sudah ada supir yang menunggu.


Divya mengantar nya hingga pintu mobil.


"Nasehati putri mu untuk fokus dengan tugas dan profesinya !"


Itu yang dikatakan Haris sebelum ia berlalu. Masuk dan duduk di kursi belakang. Menyandarkan punggungnya dengan helaan nafas berat.

__ADS_1


Membuka galeri di ponselnya. Foto orangtua nya di sana tersenyum manis.


"Beginikah yang dirasakan kalian ketika aku dulu membangkang. " gumam Haris menerawang masa kelam.


"Haruskah perjodohan kembali terulang? " ia menutup segala lamunannya. Mengembalikan ponsel itu ke dalam saku jasnya.


***


Marisa memulai hari lagi. Disinilah dia berada. Kursi kebanggaan nya. Cita-cita yang ia gapai dengan segenap hati.


Hari-hari ia lalui dengan penuh suka cita. Menepis segala keresahan dalam benaknya. Hampir satu minggu berlalu.


Haz, nama salah satu kontak di ponsel -nya. Ia menatap lurus. Tiba-tiba ia teringat akan sosok-nya.


"Besok kau sudah akan berangkat,Haz."


Sudah dua hari tidak ada kabar darinya.


Membuat Marisa kembali resah.


"Kenapa tidak mengabari ku"


gumamnya terus termenung.


tok. tok. tok


Suara itu, mau tak mau Marisa teralihkan. Menatap benda putih menjulang itu. Mempersilahkan siapapun yang ada di luar sana untuk segera masuk.


Gadis kecil bersorak girang. Marisa pikir itu pasien berikutnya. Tapi bukan.


Kekey yang kini tersenyum di hadapannya. Memamerkan deretan gigi putihnya.


"Kau! " Marisa sontak berdiri dengan malas.


Marisa mengerucutkan bibirnya.


Sebal.


"Ayo jalan! " tanpa mendengar jawaban sang kakak,Kekey membalikkan badan. Lalu berjalan kembali menuju pintu.


"Main ayo aja. Ayo kemana? "


Marisa mendesah malas.


"Bunda bilang kau akan menemani ku ke toko buku siang ini. Kak! " Kekey bicara tanpa melihat kakaknya yang kini tengah memutar bola mata jengah.


Marisa pikir setelah menjadi dokter, tugasnya mengantar adiknya itu sudah selesai. Ternyata tidak.


"Memangnya bunda kemana? "


"Hei tunggu! Key, kakak belum selasai bicara. " Marisa mengejar adik nya yang langsung lari begitu saja.


"Setidaknya biarkan kakak siap-siap dulu. Kakak sedang bekerja disini, bukan sedang main. "


ucap Marisa dengan langkah memburu.


Ia bahkan tidak sempat mengambil tas maupun melepas seragam kedokterannya.


"Kau tidak lihat jam, Kak? Ini sudah waktunya istirahat siang. Lagi pula ku lihat tadi kerja mu hanya melamun

__ADS_1


saja. "


cerocos bocah enam tahun itu.


"Anak ini. " Marisa menggeram kesal.


Melirik jam di pergelangan tangannya. Memang jam istirahat.


Sampai di parkiran sudah ada supir yang menunggu nya di depan mobil milik bunda nya.


Marisa menghela nafas memburu. Langkah kakinya saat mengejar Kekey sang adik membuat nafasnya tersenggal.


"Kekey! " Lagi ia menggeram.


"Panggil aku Anna ! Usia ku sudah enam tahun panggilan itu membosankan. "


Gadis kecil menggemaskan sekaligus menyebalkan itu berbalik, mengangkat jari ke udara menunjuk nunjuk.


"Iya iya Anna, Anna ku sayang. Sekarang kau yang bayar jika mau membeli buku ! "


Marisa bertolak pinggang tak kalah garang.


"Kenapa? "


"Karena kakak tidak membawa tas. Kau bahkan tidak mengizinkan ku mengambilnya. " ucap Marisa.


"Heum begitu ya? Balik lagi sana ! "


Anak ini !!!


Dengan pasrah Marisa pun kembali ke dalam rumah sakit, mengambil tas dan ponselnya yang ia tinggalkan di ruangannya.


"Dasar bocah! Aku sudah mengkhawatirkannya karena dia tiba-tiba lari begitu saja. Tapi ternyata dia hanya mengerjaiku,awas kau ya!! "


Marisa pun bursungut-sungut sebal.


Saat hendak kembali ke parkiran di saat yang sama bundanya mengirim pesan.


"Icha sayang, ada Anna ketempat kamu? Bunda sudah akan mengajaknya ke toko buku, tapi dia ingin pergi bersama mu. Jadi antar dia ya. Dia tidak merepotkan mu kan? "


Itu yang diketikkan bunda melalui chat nya.


"Anak itu berbohong lagi. "


Marisa dengan pasrah menuruti keinginan adik bungsunya.


Mobil yang membawanya sampai di toko buku langganan Marisa.


Di dalam toko buku cukup ramai pengunjung. Kekey atau dia yang maunya dipanggil Anna sibuk berlarian kesana kemari tidak mengidahkan peraturan yang ada.


Tidak boleh berisik. Tidak boleh mengundang keributan. Nyata nya membuat Marisa semakin jengkel.


Ia berlari mengejar Anna di lorong rak buku yang menjulang tinggi. Saat fokus Marisa hanya pada Anna ia tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah sibuk mencari buku.


Brukk


Buku yang di pegangnya pun jatuh berserak, bertumpuk dengan buku milik seseorang yang ia tabrak.


Marisa mengambil buku-bukunya,itu buku yang ia carikan untuk Anna.

__ADS_1


Seseorang di hadapannya mendehem dan memanggilnya.


"Teteh Icha! "


__ADS_2