Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kepulangan Haris


__ADS_3

Perjalanan panjang di lalui Divya seorang diri tanpa Haris di sampingnya.


Namun,kebahagiaan pun kembali datang ketika Haris terbangun dari koma-nya,tak henti Divya berucap syukur.


Hari itu ,satu minggu sebelum Haris datang menemui nya di Swiss.


Rahma sang ibu mertua memang menelponnya.


Memberi kabar jika Haris sudah siuman.


Divya tak kuasa menahan kebahagiaan saat itu,


rasanya ingin sekali segera kembali ke tanah air.


Akan tetapi Rudi terus membuatnya sibuk dengan berbagai pekerjaan.


Rudi berjanji akan mengajaknya pulang setelah semua selesai.


Namun ia tak menyangka jika Haris sendiri datang menemuinya.


Ia bahkan terkejut ketika Pranando justru menariknya ke atas podium ketika baru saja Divya ingin berlari memeluk Haris.


***


Sore ini


Sebuah mobil mewah keluar dari area parkir Bandara.Merangsek menerobos jalanan yang lengang.


Sepi ?


Entah ini biasa atau memang ada hal lain,jalanan ini terasa agak sepi,hanya beberapa kendaraan saja terlihat melintas.


Marisa bersikukuh ingin duduk di bangku depan,di samping sang sopir.


"Ok,boleh ! Tapi pakai sabuk pengaman mu "


Ultimatum khas ibu-ibu yang sayang akan keselamatan anak-anaknya pun terus berulang keluar dari mulut Divya.


"Bunda "


"Jangan menengok ke belakang sayang bahaya !"


Lagi Divya memperingatkan putrinya yang keras kepala itu.


"Bundaa !"


"Apa sih ,Ca ?"


Divya dongkol juga ketika Marisa terus merengek.


"Nanti mampir please,Ica laper "


Gadis cerewet itu mengatupkan telapak tangannya menatap cermin dashboard dengan mata mengerjap-ngerjap penuh harap.


"Makan di rumah saja sayang,tadi Oma nelpon katanya udah siapin makanan banyak buat Ica,ya ? Gak usah makan di luar"


Kata-kata bunda memutuskan semua harapan Marisa.Ia kembali tertunduk lesu.Sementara Haris terkekeh geli melihat tingkah putrinya.


Perjalanan dari Bandara menuju rumah biasanya dapat ditempuh selama empat puluh lima menit,atau mungkin bisa satu jam.Namun berhubung jalan sedikit sepi kemungkinan tak sampai setengah jam pun mereka sudah tiba di kediaman Santoso.


Rasa lelah dan kantuk seakan menyeruak hingga Haris terlelap begitu saja menyandarkan kepalanya di bahu Divya.


Divya dengan senyum mengembang di bibirnya mengusap lembut kepala Haris,menyisir rambut dia dengan jari-jari lentiknya.

__ADS_1


"Bunda !"


"Shuutt"


Isyarat tangan Divya membuat Marisa mengurungkan diri untuk membuka suara lagi.Dia melirik ke arah Ayahnya yang tertidur pulas.


"Ohoo benar-benar pemalas ayah ku ini"


Gerutu Marisa dengan memanyunkan bibirnya.


Sesampainya di rumah semua orang sudah ada disana menyambut kedatangan Haris,Divya dan Marisa.


Bocah kecil nan manis itu berjingkrak girang,ia lari ke pelukan Santoso dan juga Rahma.


"Oma,opa !!" teriaknya,berlari sambil membawa boneka kesayangannya.


"Hai,cucu Oma yang cantik"


Rahma tak kuasa menahan rindu,ia memeluk serta menggendong Marisa.


"Uh cucu Oma makin berat ya"


"Iya Oma ,Oma tahu bunda selalu saja menyuruhku makan ini dan itu padahal aku sudah kekenyangan,bunda malah marah-marah kalau aku menolak"


Cerocos bocah ajaib itu mengadu pada sang nenek.


"Oh begitu ya,ya sudah Ica gak usah makan hari ini,langsung masuk kamar terus tidur ya"


balas Divya,menggoda putrinya.


"Ah tidak-tidak hari ini aku mau makan yang banyak,lapar Oma tadi Ica minta berhenti dulu di resto bunda gak mau padahal aku lapar.Lapaaar sekali "


Marisa dengan tingkahnya memegangi perut ratanya sambil merengek.


"Ya ampun anak ini"


Tunggu ! Belum sempat Divya menyapa semua yang ada disini Marisa sudah kembali bersuara.


"Ayah ku yang pemalas,dia tadi tidur di mobil.Menyandarkan kepala di bahu bunda,merepotkan saja"


"Ica sayang,sudah ya ! Kamu lapar, kan ? Makan gih sana !"


ucap Divya,memahami tingkah putrinya yang tidak akan berhenti kalau dia sudah mulai bicara.


Sore ini mereka berkumpul,keluarga besar Santoso serta Rudi.Ameera dan bibi Rita juga turut serta meski minus Fram dan Dimas namun suasana masih terasa sempurna.


Ditambah kehadiran dokter Intan dan kedua anaknya.Darren dan Amanda.


Dokter Intan datang bergabung untuk makan malam bersama.


Seperti yang di ketahui Intan sudah seperti anak bagi Santoso dan Rahma,begitupun Haris yang menganggapnya bukan sekedar teman melainkan sudah seperti saudara.


"Jadi ini Amanda ?"


tanya Haris menyambut uluran tangan putri bungsu Intan.


"Iya Papa,ini aku Amanda.Papa gimana kabarnya ,sehat?"


jawab Amanda.


"Alhamdulillah Papa sehat sayang"


"Kamu sudah besar ya,anak Papa sudah gadis sekarang.Makin cantik"

__ADS_1


ucap Haris lagi merentangkan tangannya agar Amanda masuk kepelukannya


Intan !


Wanita tangguh dengan sekelumit masalah hidup.Menjadi single parent di usianya yang masih sangat muda.


Intan ! Sebelumnya kisah hidup wanita itu memang tak pernah terkuak.


Ia menikah dengan seorang anak pengusaha paling berpengaruh di Amerika.Ayah mertuanya berasal dari sana, mereka menatap di Amerika setelah putri bungsunya terlibat masalah dengan Haris.


Antonio ! Suami Intan adalah kakak dari Laras.Ia meninggal karena kecelakaan.Dan yang paling menyedihkan dan membuat Intan marah , Antonio mengalami kecelakaan bersama wanita selingkuhan nya.


Saat itu Intan sedang mengandung anak keduanya,Amanda.


Gadis kecil yang memanggil Haris dengan sebutan Papa,kini dia tumbuh menjadi gadis cantik dan juga cerdas.


"Gimana liburan kalian,Ris ? Apa Marisa mengganggu kalian?"


Pertanyaan Rudi itu sensitif mengarah kemana,entahlah dia mengucapkan nya sambil tersenyum menahan tawa begitu.


"Tidak! Tidak perlu ditanyakan lagi maksudku"


Lantas semua orang tergelak mendengar jawaban Haris.


Setelah beristirahat sejenak,mereka pun melanjutkan acara makan malam bersama.Keluarga besar ini nampak begitu kompak dan bahagia.Namun,satu hal di benak Haris.


Dimana Om Fram berada?


Beliau tidak ada disini.


"Tante"


Haris membuka pembicaraan di meja makan,ia baru menyadari ketidak hadiran Fram disana.


"Ya !"


Rita yang mengerti panggilan Haris ditunjukkan kepadanya pun mendongak.


Rita yang sedari tadi terdiam,wajah cantiknya terlihat mendung.Belum lagi saat bertemu Haris untuk pertama kalinya setelah ia koma,Rita menangis di pelukan Haris saat itu.


Apa yang wanita ini rasakan?


Beliau seakan menyembunyikan sesuatu.Lagi ! Haris belum bertemu Fram sejak ia siuman.


Yang Haris pikirkan,mungkin Fram sedang dalam kondisi sibuk hingga tak ada waktu menjenguknya,ia berniat menemuinya setelah bertemu Divya terlebih dahulu.


"Om Fram dimana,tante? Aku tidak melihatnya.Dua minggu lalu juga tante kesini sendiri"


Semua terdiam mendengar pertanyaan Haris.Semua saling memandang satu sama lain,seakan silih bertanya lewat tatapan mereka.


"Ada apa?"


"Kenapa semuanya diam seperti ini?"


"Sepertinya banyak yang aku lewatkan"


Haris lagi lagi merasa heran,pandangannya mengitari mereka yang terdiam semuanya secara serentak menghentikan suapan.


"Om Fram~"


Rita melirik Rahma dan juga Santoso sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Fram~ "

__ADS_1


Disini Santoso mulai mengeluarkan suara,ia merasa bahwa dirinya lah yang lebih berkewajiban menjawab pertanyaan Haris.


Saat ini Rita bahkan sudah mulai berkaca-kaca.


__ADS_2