
Insiden itu membuat para pelayat tercengang ,di antara mereka nampak ada yang saling berbisik.
Bagaimanapun selama ini Luna itu dikenal sebagai gadis yang baik dan pintar.
Gadis sholeha
yang rajin mengikuti kajian keagamaan di lingkungannya.
Mereka sampai ada yang tidak percaya jika Luna pulang membawa seorang anak.
Sementara itu ayah Luna yang sedari tadi berusaha meredam emosinya ikut bangkit menghampiri sang istri.
Ia juga merasa tak tahan ingin melayangkan tinju,tangannya mengepal keras.Namun,Divya berusaha menahan dengan mengatakan jika ini tidak benar.
"Om ! Maaf banget,tapi Luna pasti sedih kalau melihat semua ini.Saya mohon tolong jangan membuat suasana semakin kisruh.Om tante tenang ya,saya mengerti perasaan kalian.Tapi Luna sudah cukup menderita,jangan tambah lagi bebannya dengan gunjingan dari mereka." Jelas Divya menenangkan emosi orangtua Luna,matanya mengitari melihat para pelayat yang mulai saling berbisik.
"Dan kamu ! Kalau kau tidak bisa menjadi pasangan yang baik,setidaknya jadilah ayah yang baik" Ucap Divya yang ditujukan kepada Nando.
"Dimana Melodi?" Tanya Nando,akhirnya dia mengingat putrinya itu.
"Kau ingat juga rupanya" Divya tersenyum sinis. " Dia di rumah sakit " Jelasnya singkat.
"Kenapa? Dia sakit?" Tanya Nando lagi.
"Ayah macam apa kau ini, kalau di rumah sakit ya sakit,apalagi ?! Anak sakit saja kau tidak tahu" Haris ikut menimpali pertanyaan bodoh dari Nando.
"Dia mengalami kelainan jantung,apa kau tidak tahu?" Kali ini Divya mulai merasa kesal.
"Kelainan jantung?" Nando pun tercengang.
Tak berselang lama seorang ustad datang,seakan membubarkan keributan yang terjadi di hadapan sang jenazah.
Setelah semua rapih Luna siap di bawa ke pemakaman.
Jerit tangispun kembali memenuhi sudut ruangan.
Divya juga ikut terisak dalam pelukan Haris.
***
Proses pemakaman berlangsung selama dua jam dengan jarak tempuh hanya dua puluh menit dari rumah duka.
Nando ikut masuk kedalam liang lahat demi mengantar Luna ketempat peristirahatannya yang terakhir.
Baginya Luna memang sosok wanita yang baik,jika saja dia lebih melihat hal itu mungkin akan jauh lebih mudah
__ADS_1
bagi Nando menerima Melodi sebagai putri kandungnya.Namun,saat itu ia berpikir jika Melodi akan jadi penghalang niatnya kembali kepada Divya.
Seandainya saja dia tahu jika Divya sudah menikah,maka mungkin dia tidak akan meninggalkan Luna sendiri.
Penyesalan selalu saja datang terlambat.Lihat wajah laki-laki angkuh itu kini berubah mendung,seakan hujan sebentar lagi akan turun.
Setitik airmata tak bisa ia tutupi,menetes di pipinya.
Divya mengakui jika Nando juga sebenarnya baik,walau mungkin dia berubah angkuh karena keadaan.
Dan sekarang waktu mulai beranjak sore,Haris memutuskan untuk langsung pulang bersama rombongannya .
"Divya tunggu !" Suara seseorang memanggil Divya yang sudah hendak masuk kedalam mobil.
Ia menoleh dan melihat Nando berlari menghampirinya.
"Melodi,dia dirawat di rumah sakit mana?" Tanyanya dengan deru nafas terengah-engah.
"Rumah sakit XX" Jawab Divya singkat,lalu masuk dan duduk di kursi penumpang,di samping Haris.
Sebelum mobil melaju ia membuka kaca jendela mobilnya.
"Ingat ! jadilah ayah yang baik,sebelum kau menyesali semuanya" Ucap Divya ,dan mobil pun melaju keluar area pemakaman.
***
"Hey sayang,jangan langsung tiduran begitu dong buka baju mu itu kotor tahu!" Teriak Divya yang melihat tingkah Haris dari ambang pintu.Ia baru saja masuk beberapa menit setelah Haris lebih dulu masuk ke kamar.
"Buka baju? Kau ini ya baru kemaren malam kita absen sudah minta jatah" Ujar Haris menggoda Divya.
Apa sih. Divya mendengus,ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Tuh kan beneran mau minta jatah,wah...wah...wah sampe di kunci begitu pintunya" Haris semakin berdecak menggoda istrinya itu.
Lihat pipinya itu sudah merah seperti udah rebus ! Entah karena malu digoda seperti itu ataukah ia kesal dengan tingkah suaminya.
Pikiran liar Haris mulai tersetting ketika melihat Divya melepas cardigan menyisakan kaos tipis tak berlengan,memperlihatkan pangkal tangannya yang putih mulus.
Apalagi jika melihat ke depan sana belahan dari dua buah sintal yang terangkat naik turun seiring deru nafasnya,siapapun nyaris tak bisa menelan salivanya sendiri.
"Sayang hentikan menggoda ku seperti itu !" Ucap Divya lagi kembali mendengus kesal.
"Hey,siapa yang menggoda,kau kan yang menggoda ku. Lihat itu !" Jawab Haris terbangun dari posisinya yang tadi terduduk di pinggir tempat tidur sambil memerhatikan Divya membuka sepatu serta bajunya.
Ia sudah berdiri,mengusap tengkuknya dan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Divya.
__ADS_1
"Isshh" Divya mendorong tubuh kekar itu perlahan.
"Kau menyuruhku buka baju kan?" Satu persatu Haris membuka kancing kemejanya.Dengan tatapan yang ah sulit diartikan.
"Ya maksud aku ganti baju sayang,jangan langsung tiduran, kan kotor bajunya,bau lagi" Seru Divya menutup hidungnya.
"Bau? Tapi suka,heum...?!" Cubitan gemas di pipi Divya,di susul gerakan tangannya yang menyambar pinggang.
"Hahaha sudah hentikan geli" Gelak tawa tercipta seketika.Haris menggendong tubuh Divya naik ke atas tempat tidur ,tangan nakalnya yang menari-nari di pinggang ramping Divya menimbulkan sensasi yang membuatnya tak bisa berhenti tertawa.
"Stop sayang hentikan ! Please,aku mau mandi" Ucap Divya lagi.
"Kangen" Haris memeluk erat seakan tak mau Divya beranjak.
"Aku mau mandi sayang" Pinta Divya lagi berusaha melepaskan diri.
"Cium" Haris sudah menyodorkan pipi kirinya ke hadapan bibir Divya .
"Isshh apa sih, manja.Tidak mau !"
"Ya sudah gak bakal aku lepasin kalau gak mau cium" Rengek Haris.
"Iya ok.Satu kali" Telunjuknya mengudara.
"Tidak mau , maunya tiga kali" Tiga jari Haris mengudara.
"Ok tiga kali,jangan minta nambah!" Ancam Divya ,dia sudah sangat paham dengan kelakuan suaminya itu.Haris kalau sudah dituruti permintaannya justru semakin bertambah.
"Ok!" Satu kecupan mendarat di pipi kiri,lalu yang kedua di pipi kanan,dan yang ketiga ciuman di bibir yang berujung menjadi lumatan.
Dasar Tuan Haris.
epilog.
"Kalian sudah pulang? Bagaimana liburannya,menyenangkan?" Tanya Rahma begitu Haris juga Divya masuk kedalam rumah.
"Mama pikir kalian baru akan pulang besok" Imbuh Rahma.
"Iya ma,Haris capek ke kamar dulu ya" Haris berlalu menaiki tangga ia tak ingin membahas apapun malam ini,ia sudah lelah dengan semua masalahnya hari ini.
"Anak itu kalau ditanya langsung saja menghindar" Keluh mama Rahma.
Sementara itu Divya hanya tersenyum melihat interaksi antara ibu dan anak itu.
"Kami memang lelah Ma,Pa.Baru pulang dari pemakaman" Ucap Divya beranjak duduk di sofa,dimana tuan Santoso dan istrinya sedang asik menonton televisi.
__ADS_1
Ia menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka di London sampai kembali ke Indonesia,dan jenazah Luna selesai disemayamkan .
Semua Divya ceritakan tanpa terkecuali.