Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 17


__ADS_3

Bandara


"Apa kau sudah berubah haluan,


dokter? "


Marisa menggelengkan kepala, meminta agar Fadlan berhenti menggodanya seperti itu.


"Gue gak berubah haluan,enak aja! "


akhirnya keluar juga suara,itu yang Fadlan tunggu karena sedari tadi dia hanya termenung.


"Lagian apa maknanya berubah haluan. "


Marisa bersungut-sungut.


"Kenapa kalau nunggu seseorang itu rasanya lama ?" bahkan Marisa melempar pertanyaan pada dirinya sendiri.


"Sama! " Namun, Fadlan disana menyahuti.


"Main sama aja, sama apanya ?" solot Marisa menoleh dan mengerucutkan bibirnya. Hal yang sukses membuat Fadlan menahan senyum.


"Ya sama, emang kalau nunggu seseorang buat menyadari hatinya itu lama, dan bikin pegel. "


Entah mengapa jawabannya justru melenceng jauh. Menyadari hati, dahi Marisa sampai mengkerut mendengar itu. Belum lagi kata 'pegel' yang disebutkannya dengan penuh arti.


" Ish, " Marisa mendesis sebal melihat Fadlan yang justru terkekeh.


"Pulang aja ,yuk ! Hazlan gak jadi balik kayaknya. " canda Fadlan.


"Eh ! Kok pulang, tunggu sebentar lagi. Itu buka tulisannya nanti Hazlan gak bisa lihat kita disini ! " rengek Marisa meminta Fadlan merentangkan lagi kertas bertuliskan nama Hazlan di tangannya.


"Yaelah, pake ginian segala. Muka gue sama dia tuh sama. Masa iya dia gak ngeliat ,gue disini paling


tinggi . " Fadlan dengan menilik sekekeliling berujar bangga.


"Gak usah bawa -bawa soal tinggi badan deh, nyindir gue. "


Marisa memberenggut kesal.Apalah daya Ia yang tinggi badannya hanya sebatas bahu Fadlan.


"Hahaha iya iya sorry. " tangan Fadlan terulur begitu saja menyentuh puncak kepala Marisa. Hal itu yang sudah beberapa kali terjadi. Walaupun kesal entah kenapa Marisa suka diperlakukan seperti itu. Ia akan selalu mengulas senyum setelahnya.

__ADS_1


Penantian panjang Marisa akhirnya membuahkan hasil. Dia yang ditunggu-tunggu datang juga. Hazlan berlenggang dengan gagahnya mendorong troli berisi barang bawaan,dengan sebelah tangannya.


Bak model yang berjalan di atas red karpet, begitu gagah dan mempesona.


Diakah wajah yang selama ini Marisa rindukan?


Tapi, wajah yang sama juga selalu menghiasi hari-harinya. Entahlah.


Hanya Hazlan nama yang terdengar indah baginya.


Pemuda gagah , sholeh, berjubah putih lengkap dengan aksesori di kepalanya yang tak pernah tertinggal.Terkesan tampan bak pangeran raja .


Ia mendekat begitu melihat kembarannya berdiri di antara para penyambut penumpang. Mereka yang juga menunggu kedatangan keluarga mereka masing-masing.


Haz berjalan menghampiri Fadlan. Dengan langkah terkesan ragu, ia mendekat.


Tersenyum menatap saudara kembarnya lalu menoleh sekilas gadis di sampingnya yang kini nampak anggun dengan hijabnya. Dia lah Marisa. Haz, apa yang akan dikatakan pada Marisa.


Sementara ia tidak sendiri saat ini.


Seiring langkahnya maju diikuti sepasang kaki yang memburu di belakangnya.


Marisa mencoba menilik siapa yang bersama Haz, seorang gadis bersembunyi di balik tubuh tinggi Hazlan. Wajahnya masih tak bisa dikenali dengan jelas. Semakin mereka mendekat, gadis itu terlihat manis dengan kerudung dan pakaian syar'i-nya. Entah kenapa ada desir memanas di rongga dada Marisa. Pikiran serta tindakkannya tak sejalan. Ia hanya mampu terdiam mematung sambil terus melapalkan mantra dalam benaknya.


Kalau dia saja temannya lalu Marisa siapa. Siapa Marisa yang bahkan tak pernah mendapat kabar darinya. Selain dari cerita Fadlan. Jika Marisa saja tertegun melihat itu, pun dengan saudara kembarnya.


Fadlan sama halnya, ia menatap tak percaya sang adik kembar datang dengan seorang wanita. Lalu, harapan apa yang dia berikan pada Marisa .


Wajahnya memerah, tangannya terkepal. Sedikit saja kata tidak menyenangkan keluar dari mulutnya maka tinju sebagai tanggapan yang akan Fadlan berikan.


Airmata Marisa menggenang, nafasnya memburu hebat. Kaki dan tangannya gemetar dahsyat. Sekujur tubuhnya mamanas tatkala Haz berucap maaf.


" Maaf tapi dia Zahra aku sudah meminangnya di Kairo. " Haz menunduk, ia seakan tak mampun melihat wajah kecewa Marisa.


Brukk


Suara benda jatuh tepat di depan kaki Marisa, tangannya lemah hanya untuk memberi apa yang ia bawa. Kenyataan pahit macam apa yang ia terima.


Tidakkah berarti perkenalan mereka. Walau hanya dua minggu bertemu membuat Marisa berharap banyak.


Benar, dua minggu tiada arti dibandingkan empat tahun. Jelas, laki-laki manapun akan berpaling.

__ADS_1


"Kau bodoh Marisa !!!" kata-kata dari bayangan dirinya seakan tengah mengolok-ngoloknya.


Dengan mata memerah ia menatap jengah, Hazlan yang ia rindukan nyatanya tidak hanya pulang dengan membawa rasa sakit,melainkan membawa pula seorang gadis. Marisa tak ingin terlihat lemah, sorot mata tajamnya melirik gadis itu, Zahra.


"Aku tidak pantas marah karena aku memang bukan siapa-siapa Haz, tapi kata-katanya di telpon membuat ku berharap banyak. " Marisa menghela nafas. Ingin rasanya mengatakan itu. Tapi tidak! Itu hanya akan menambah rasa malu bagi dirinya sendiri . Kata itu hanya keluar di hatinya dan terpancar lewat sorot matanya.


Ia mengusap kasar matanya yang berlinang, lantas menghentakkan kaki lalu pergi meninggalkan tempat dimana ia berdiri tanpa mengidahkan rasa pegal meski lama menunggu. Hanya demi Haz.Hanya demi dia, si pengkhianat !


Langkah kakinya yang memburu. Membuat Marisa tidak menyadari ia telah berpapasan dengan dua wajah yang selama ini ia hormati.


Datang ke pesantren di waktu senggang.


Bahkan sampai menginap segala.


Berbaur dengan santriwati. Belajar mengaji bersama Umi.


Marisa sudah menganggap wanita baik hati itu seperti ibunya sendiri. Ia menangis sepanjang menapaki lantai bandara yang terasa licin. Langkah cepatnya bahkan terasa berat.


Marisa tak lagi menyahut ketika Umi Nara memanggilnya. Mata dan telinganya tertutup kabut kekecewaan.


"Ada apa ini? " tanya Umi Nara begitu ia berdiri di hadapan kedua putranya.


Sementara Fadlan tanpa menjawab atau mengatakan apapun lagi, ia melayangkan kepalan tangannya yang sudah sedari tadi mengeras. Dalam satu pukulan telak membuat Hazlan tersungkur dan darah pun keluar dari sudut bibirnya.


"Tanya saja anak kesayangan Umi ! " teriak Fadlan menuding wajah Hazlan.


Hazlan berlari menyusul Marisa. Di parkiran itu sudah tak ada jejak mobilnya. Kemana dia pergi. Fadlan memanggil ojek, naik dan langsung meminta driver ojek itu menyusul mobil Marisa.


Sudah setengah jalan antara Bandara dan Rumah sakit ,tapi Fadlan masih belum bisa menemukan Marisa.


Ia memutuskan untuk pergi ke tempatnya bekerja, mungkin saja dia ada di sana. Kembali ke rumah sakit dengan membawa luka di hatinya.


Luka yang tidak akan bisa sembuh dengan meminum obat jenis apapun.


"Marisa kamu di mana? " suara khawatir Fadlan terdengar pilu. Ia terus menelisik jalan mencari keberadaan dia. Entah mengapa Fadlan selalu tertarik untuk peduli pada wanita itu.


Sampai di rumah sakit pun ia tetap tak menemukan keberadaannya.


Ia kembali keluar. Motornya yang terparkir di depan.Ya ! Fadlan membawa motor ke tempat itu untuk menjemput Marisa dan pergi ke Bandara mengendarai mobilnya.


Segera ia meluncur kembali, niatnya mencari Marisa begitu kuat. Bahkan sampai ia tidak menghiraukan meski ponselnya terus berdering.

__ADS_1


Ummi dan Abi-nya silih berganti berusaha menghubunginya.


__ADS_2