Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 18


__ADS_3

Happy reading guys...


Siapkan tisu buat kalian yang baperan. Ok!


Dan jangan benci Haz, please.


Di akhir bab jangan lupa tinggalkan jejak.


Tarik nafas ,Senyum. Mulai !!!


***********************************


Marisa melajukan mobilnya begitu cepat. Tangannya mencengkram kemudi dengan kuat. Airmata terus menetes walau ia menghapusnya berulang kali.


" Tidakkah dia bisa menghargai sedikit saja perasaanku. Haz, kenapa? Kenapa, Haz!! " Marisa berteriak dan memukul kemudi berulang -ulang.


Terus merutuki diri. Bodoh !


"Lo bodoh Marisa ! Lo ****! " ia menggeram kesal.


Laju mobilnya entah mengarah kemana. Tak ada arah yang ia tuju. Matanya mulai terlihat sembab, hidung dan wajahnya memerah.


Tangan serta kaki yang gemetar. Tak sanggup lagi Marisa menginjak pedal gasnya. Laju mobil semakin lama semakin memelan dan akhirnya berhenti di sebuah taman. Ia turun dan dengan kesal menendang ban mobilnya sendiri. Bahkan Marisa menarik kerudung yang ia kenakan. Tangisnya kembali menggema seiring kepergian cahaya matahari yang mulai bersembunyi. Di balik pepohonan, di balik awan. Semakin tenggelam.


Marisa butuh sandaran . Sekedar berbagi apa yang ia rasakan. Jika dulu ia akan dengan senang hati melepas kekasihnya pergi. Atau jika ia menangis pun tak pernah sesakit seperti kali ini. Dulu, ada yang bisa ia andalkan .Yang selalu bersedia untuk meminjamkannya bahu. Melepas kepedihan.


Reno !


Haruskah sekarang Marisa setuju dengan permintaan ayahnya.


Tidak !


"Haz, pernah bilang ke teteh ,kan. Kalau semua itu harus didasari niat yang kuat. Niat yang datangnya dari dalam hati kita sendiri. Tanpa paksaan dari orang lain. Niatkan karena Allah , teh. "


Perkataan Hazlan itu benar, membuat


Marisa meremas serta melempar kerudung di dalam genggamannya ke atas mobil.


Ia yang belum sepenuhnya ikhlas memakai itu. Hanya untuk Hazlan.


Agar dia terkesan.


Marisa yang dulu sedikit tomboy namun manja. Kini ia rapuh, bagai kaca yang tergores, bagai gelas yang terlempar, pecah dan berserak.


"Dasar perawan tua. Buruan nikah, ntar-ntar gue langkahi baru nyaho. Kak! "


Bayangan itu mengolok-ngoloknya.


"Sampe kapan sih mau nunggu si itu siapa? Eum. Haz, Hazlan yang gak jelas. Dia tuh masih bocah,Kak !


Lo yakin gitu kalau dia juga suka sama lo ? "


Kata-kata Leo terus berputar di memori otaknya. Mencibir dan mengejeknya.

__ADS_1


Marisa berjalan, masuk ke dalam taman yang sepi. Sunyi, senyap. Semua orang seakan tengah bersembunyi dari luapan amarahnya. Pergi ,tanpa ada satu pun yang peduli.


"Cha, gue ingetin ya, lo itu jangan terlalu baper kalau jalan sama mereka. Gue tahu lo idaman para brondong. Ya secara muka lo baby face banget gitu. Tapi gue gak mau kalau mereka cuma manfaatin lo doang. Jadi please gak usah pake hati sama mereka- mereka itu. Ok! " Anita juga, dia sudah acap kali memperingatkan Marisa.


"Aku butuh kamu sekarang, Nita! Kamu dimana? " tangis Marisa yang meraung-raung pun hanya terdengar oleh gemercik air mancur di taman.


Hingga ia ambruk dan terduduk.


Sesaat ia hanya menunduk dalam. Malu rasanya menghadapi kenyataan. Harusnya Marisa sadar saat pemuda itu mulai menghindari-nya . Tapi,mengapa ia justru terus berpikir positif.


Hazlan sedang kuliah. Menimba ilmu di sana. Ia tidak mungkin mengingkari perkataannya sendiri. Hazlan akan kembali, membawa rindu beserta restu. Mengikatnya dalam ikatan janji suci.


Nyata itu semua hanya angan-angan belaka. Keyakinan Marisa mengingkari hatinya sendiri. Hingga ia hilang kepercayaan bahkan kepada dirinya sendiri.


Untuk kesekian kali, bodoh !


Hanya kata itu yang pantas meneriaki -nya ,sekarang.


Fadlan ia berdiri di hadapan wanita yang tengah tertunduk. Seakan tanah dan rumput yang ia pijaki jauh lebih menarik di pandangannya saat ini.


Tangan ia terulur mengusap puncak kepalanya dengan lembut, rambut yang beberapa tahun terakhir tak pernah ia lihat. Selalu tertutup hijab. Kenapa Marisa membukanya sekarang. Hingga sesaat kemudian dia mendongak. Menepis tangan Fadlan.


" Fadlan! " tanpa suara, matanya sukses membulat mendapati keberadaan dia di sini.


Apa yang Fadlan lakukan.


Amarah yang tadi mulai mereda kembali menggebu.


"Lo di sini ,Cha? Gue cariin lo


Fadlan hendak duduk di sebelah Marisa.Namun,ia mengurungkannya begitu Marisa beranjak, berdiri memuggunginya.


" Lo ngapain di sini ? Mau ngetawain gue? " Marisa enggan memperlihatkan wajahnya.


" Gue ? " tunjuk Fadlan pada dirinya sendiri.


"Mana mungkin gue ngetawain lo ,Cha !"


"Gue peduli sama ~"


"Cukup ! " sergah Marisa.


" Lo gak usah so peduli sama gue.Lo udah tahu semua ini sebelumnya, iya kan? " ia meragukan Fadlan.


Marisa tidak ingin mempercayai siapa pun lagi saat ini. Fadlan saudara kandung Haz mana mungkin ia tidak tahu apapun.


Mustahil !


"Tapi gue emang gak tahu apa-apa,


Cha. " Marisa berbalik, menghadap Fadlan dengan tatapan nanar.


"Oh ya ! " Ia tersenyum sinis.

__ADS_1


"Sayangnya gue gak percaya itu. "


Mana mungkin Marisa bisa percaya. Fadlan selama ini menutupi sikap saudara kembarnya itu,kan. Dia tidak mungkin tidak tahu alasan Haz menjauh darinya. Yang tak habis pikir, mengapa Fadlan juga mengkhianat-nya.


"Lo juga jijik kan sama gue. " Marisa kembali tersenyum getir.


" Lo jijik kan sama gue. Terkesan gue gitu yang ngejar-ngejar sodara kembar lo. Gue gak pernah,seumur hidup gue diginiin sama cowok. " Kata-kata Marisa yang penuh penekanan, membuktikan jika ia benar-benar merasa dikhianati.


" Tapi siapa gue ? Gue gak punya hak buat marah. Iya kan. Lo pasti illfeel sekarang. "


"Gak gitu, Cha! " Fadlan mencoba menenangkan Marisa, meredakan amarahnya.


"Satu pukulan gue rasa kurang buat bikin Hazlan menyadari kesalahannya. "


tangan Fadlan lembali terkepal kuat.


Sekilas Marisa dapat melihat jika tangan Fadlan sedikit lebam.


Benarkah ia baru saja menghajar Haz.


Namun, Marisa justru meminta Fadlan pergi.


Mengusirnya tanpa memberi kesempatan lagi untuk Fadlan bisa bicara. Dirinya tidak tahu apa-apa.


Seperti yang ia katakan, Haz hanyaingin fokus kuliah. Untuk sementara waktu, tak ingin siapapun mengganggunya,bahkan Fadlan sekalipun. Ia tidak pernah menyangka jika Haz memilik alasan lain.


Pasrah atas pengusiran Marisa. Fadlan menghubungi Leo. Khawatir Marisa nekat. Ia meminta Leo datang menjemput kakaknya.


Tak berselang lama. Leo datang.


Ia menghampiri kakaknya dengan tergesa. Marisa sudah lebih tenang. Namun, tatapannya kosong menerawang jauh, entah apa yang ia lihat. Sampai ia pun tidak menyadari keberadaan Leo di sana.


"Kak !" sapa Leo. Kakaknya itu mengerjap kecil. Menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.


Tanpa mengatakan apapun Marisa memeluk Leo.


Tubuh kecil Marisa, ia memang benar-benar tidak terlihat seperti seorang kakak.Bahkan dengan adik laki-lakinya saja Marisa masih sering disangka kekasihnya.


Pantas jika banyak pemuda yang menggilainya.


"Kamu bener Leo. " lirih Marisa.


"Heum? " tanda tanya itu membuat dahi Leo mengkerut.


"Ya. Lo bener soal Haz, dia~"


Dia apa?


Apa yang terjadi?


Apa yang Leo belum tahu?


"Dia apa ,kak? " pelukan mereka terlepas. Leo memegang kedua bahu kakaknya. Mencari tahu apa yang telah terjadi lewat sorot matanya.

__ADS_1


Jemari Leo menghapus jejak airmata di pipi Marisa.


__ADS_2