
Menanggapi keputusan Reno, Marisa merasa lega. Dia laki-laki yang baik dan pantas mendapatkan yang terbaik akan tetapi yang terbaik untuknya itu bukanlah dirinya. Entah perasaan ini benar ataukah salah. Namun, bagi Marisa hanya ada Fadlan saat ini.
Ia pun meraih ponsel saat Reno keluar dari kamarnya, mendial nomor seseorang yang baru beberapa jam lalu bercumbu dengannya di dalam mobil walaupun semua tak sempat terjadi lebih dari sekedar ciuman.
Entah apa yang Reno katakan kepada Haris dan Divya. Apa pula yang ia pikirkan tentang Marisa. Reno pasti menilai jika Marisa telah menyerahkan dirinya pada pemuda itu. Belum sempat ia menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, Reno justru sudah memilih mundur. Sekarang yang jelas kedua orang tuanya merestuinya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Memilih cinta yang ia miliki kepada siapapun itu yang jelas bisa membuatnya bahagia. Bagi Haris kebahagiaan putrinya lah yang paling utama. Begitupun Divya sang ibunda.
"Kamu yakin sayang, Fadlan pilihanmu?"
Sekali lagi bunda Divya ingin memastikan keteguhan hati Marisa.
"Bukan karena dia saudara kembar Haz?"
"Ingat, nak. Bunda punya cerita masa lalu Ayahmu. Kamu ingat tante Marisa?"
tanya Divya pada Marisa 'Icha' yang merebahkan kepalanya dengan nyaman di pangkuannya.
"Ya. Kakak kandung Bunda, kan?"
"Iya, dia mirip sekali dengan Bunda. Kamu juga tahu kalau sebelum pada Bunda Ayahmu lebih dulu mencintainya. Dulu Bunda selalu takut jika Ayah menganggap Bunda itu Tante kamu. Bunda selalu takut jika harus hidup dengan bayang-bayang Tante kamu. Makanya Bunda pengen memastikan apa benar kamu mencintai Fadlan atau semata-mata hanya karena dia satu wajah dengan Hazlan. Bunda tidak ingin jika nantinya Fadlan akan merasakan apa yang selama ini Bunda takutkan dari Ayahmu."
Panjang lebar Divya mengingatkan kembali putrinya itu. Jika ia tak boleh gegabah dalam mengambil keputusan.
Marisa mendongak, menatap ibunya yang tengah membelai lembut rambutnya. Tertidur di pangkuan beliau adalah hal paling menenangkan. Setiap ia menghadapi masalah, belaian tangan bunda Divya lah yang paling ia butuhkan.
__ADS_1
"Ayah memberimu pilihan antara Reno dan Fadlan bukan tanpa alasan. Ayah sudah banyak melihat perubahan pemuda itu. Ia memang cukup baik, bahkan adikmu Leo juga melihat dan menilai semua itu. Tapi, di sisi lain Reno juga sangat baik. Kamu tahu itu. Icha sayang Bunda dan Ayah dulu dijodohkan tapi kami hidup bahagia meski ada banyak liku dan sekelumit masalah di hidup kami. Sedangkan kamu, Ayah dan Bunda selalu takut jika kamu dan Reno tidak bisa seperti kami."
Jika perjodohan hanya akan membuat putrinya menderita maka Haris tidak akan melakukan kesalahan itu. Membiarkan Marisa mengambil keputusan dengan siapa dirinya akan bersama. Dan pada siapa pula hatinya akan berlabuh.
"Ingat juga perbedaan usia kalian," pungkas Divya mengakhiri perbincangannya dengan Marisa.
Aku yakin dengan perasaan ku pada Fadlan. Bukan karena Haz, aku mencintainya Bunda. Tentang Haz, entahlah Icha menganggap itu sebuah kesalahan. Selama ini Fadlan yang selalu ada bersamaku,sedangkan Reno aku tahu dia baik. Tapi ... aku hanya menganggap kebaikannya sebagai seorang sahabat, tidak lebih.
Batin Marisa berujar. Terdengar sangat yakin.
Namun, begitu meski kedua orang tuanya telah merestui dan memberinya kebebasan, Marisa tak serta merta menerima Fadlan. Pemuda itu masih belum siap menikah. Kuliahnya yang masih menggantung. Skripsinya yang masih belum rampung. Menjadi pertimbangan Marisa untuk menunda entah sampai kapan semuanya siap.
Usia yang tak lagi muda menuntutnya untuk segera berumah tangga, sedangkan Fadlan sendiri ia ingin sekali segera melamar Marisa. Namun, tuntutan dari sang calon mertua membuatnya mengurungkan niat. Menundanya hingga ia benar-benar pantas bersanding dengan Marisa.
"Buktikan saja jika dirimu pantas bagi putriku, setelah itu aku tidak akan meragukanmu.
"Aku tidak ingin gegabah meski tahu jika dirimu anak dari ustaz Mahesa. Beliau memang teladan bagi keluarga kami, tapi bukan berarti kau bisa dengan mudah menjadi menantu ku."
Untuk kesekian kalinya Fadlan mengingat apa yang dikatakan tuan Haris. Ia paham betul bagaimana kerasnya sikap beliau. Tak mudah baginya meluluhkan atau bahkan memenangkan hatinya jika hanya mengandalkan sumpah dan janji. Berhadapan dengan pria seperti Haris tidaklah cukup hanya dengan modal tekad dan janji belaka. Butuh setidaknya perjuangan dan pembuktian. Karenanya Fadlan bertekad melakukan apapun agar bisa meyakinkannya.
Tidak pernah terceritakan sebelumnya jurusan apa yang Fadlan ambil. Ia kuliah dan mati-matian menyelesaikannya lebih cepat hanya untuk mengejar seorang Marisa. Tiga bulan kemudian barulah ia resmi menyandang status sebagai dokter muda terbaik lulusan sebuah fakultas kedokteran di Jakarta. Fadlan terbilang cerdas meski kesan pertamanya ia pemuda yang urakan dan liar. Dengan hobinya balapan serta dulu sering sekali mabuk-mabukkan.
Barulah setelah Fadlan lulus dan mulai bekerja, Haris membuka peluangnya untuk meminang putri sulungnya. Fadlan datang bersama anggota keluarga termasuk Hazlan saudara kembarnya.
__ADS_1
Malam itu, acara makan malam di rumah besar keluarga Haris dilaksanakan sebagai jalur silaturrahmi sekaligus acara lamaran yang semula direncanakan oleh kedua belah pihak.
Acara yang berjalan cukup lancar dengan diselingi canda tawa bahagia.
Reno, laki-laki itu juga ada di sana menyaksikan tawa bahagia Marisa. Ia turut tersenyum gembira.
Singkat cerita perjalanan cinta Marisa berlabuh pada titik tertinggi dari sebuah hubungan yaitu pernikahan. Fadlan dan Marisa, nama itu yang tertera dalam kartu undangan yang tepat hari ini akan dibagikan. Satu pekan dari sekarang adalah hari bahagia keduanya.
Selesai.
Catatan Author:
Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena karya Rahasia dibalik perjodohan telah usai.
Bonus Chapter juga akan author selesaikan sampai di sini. Untuk kelanjutan kisah Marisa akan diusahakan di lapak baru.
Author butuh mendalami karakternya terlebih dahulu.
Banyak yang mengatakan ini terlalu rumit. Namun, inilah yang bisa saya persembahkan. Mohon untuk tidak meninggalkan karya ini.
Rahasia dibalik perjodohan akan sebisa Author perbaiki. Melewati proses revisi jadi please untuk tidak membuangnya dari daftar favorit. Ok!
Salam hangat dari Author abal-abal yang suka mabal dengan ceritanya yang amburadul yang mudah-mudahan cukup menghibur.
__ADS_1
Bye
Bye 😘😘😘