Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kepergian Nyonya Riska Wiryawan


__ADS_3

Sementara itu Pranado yang masuk ke dalam ruangan, tersenyum mendapati ibunya telah sadar. Setelah satu minggu ia dirundung kekhawatiran .Pranando bisa sedikit merasa lega.


Tanpa menunggu ibunya bicara ia melakukan apa yang semestinya ia lakukan.


" Bu, aku minta maaf. Ibu seperti ini gara-gara aku"


Ibunya itu menggelengkan kepala pelan. Senyum lemahnya terukir.


"Kalau aku tidak membuat ibu marah ibu tidak akan seperti ini "


Desir rasa takutnya menguat ketika bayangan kehilangan harus melintas di benaknya. Cukupkah ia merasakan kasih sayang seorang ibu ?


Setelah sejak kecil harus menjadi yatim piatu, terlunta-lunta hanya untuk sesuap nasi.


Pranando harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup dan


sekolah. Ia tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga. Kedua kakak perempuannya bahkan tidak pernah menghiraukan keberadaannya.


Mereka tidak pernah sekalipun berusaha mencari Pranando.


Haruskah ia bersedih kini?


"Nak "


Suara lemah sang Ibu terdengar memilukan. Ada yang ingin ia katakan.Mata sayu-nya sedikit berbinar.


"Pranando sayang. Aku mengenalmu mungkin hanya sesaat. Aku mengenal dirimu bukan dari sejak kau kecil atau bahkan dilahirkan ~"


Pelan sekali suara ibu. Lemah dan tersedat.Nafasnya tersenggal-senggal.


"~Tapi aku menyayangi mu seperti selayaknya seorang ibu. Kau tahu itu !"


"Aku menyayangi mu anak ku.Aku bisa memahami mu meski sekuat apapun dirimu menyembunyikan perasaan mu~"


Lebih dari itu, hanya saja Riska tak mampu untuk sekedar meringankan beban hati putranya.


"Jadi ku mohon, lanjutkan hidup mu dengan bahagia. Jangan ada beban. Biarkan masa lalu tetap sebagai masa lalu. Jangan kamu menengok lagi kebelakang,nak ! "


Nasihat sang ibu yang memang benar.


Melihat anaknya bahagia adalah sebuah hadiah terindah bagi setiap orangtua.


Pranando mengerti. Ia kini memahami.


Memahaminya lagi setelah kesalahannya kemarin.


"Jaga anak-anak. Dan cintailah istri mu seperti selayaknya."


Tangan Ibu Riska melemah, setelah ia melihat putra angkatnya mengangguk dan berjanji. Tangan yang sedari tadi Pranando pegang. Tangan yang sedari tadi digenggam dan diciumnya.


Apa itu kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Dengan langkah memburu ia setengah berlari dan berteriak agar suster dan dokter menghampirinya.


***


Memberikan Melodi kasih sayang seorang ibu. Akan tetapi Divya tidak pernah meminta Pranando melakukan semua ini jika ia merasa terpaksa.


Divya terdiam mematung.Menatap Raisa yang semakin terisak. Ia merasa bersalah untuk hal yang tidak pernah sengaja ia lakukan.


Salah kah Divya?


Ia tidak tahu bagaimana dan mengapa Pranando masih mencintainya. Itu mustahil. Lalu sikapnya selama ini apa. Dia terlihat bahagia dan bersemangat saat menceritakan hal apapun tentang Raisa. Pranando mengatakan jika dirinya sudah melupakan cintanya untuk Divya. Sudah bisa menerima takdirnya.


Tapi apa, kenyataan macam apa ini.


Di saat mereka tengah saling membisu


Haris menghampiri keduanya.


"Ada apa? Sayang kenapa dia menangis? " tanya Haris yang hanya mendapatkan senyuman dari istrinya.


"Hei, ada apa? apa ada masalah? " Haris mempertegas intonasi bicaranya,ketika istri dan sahabatnya itu hanya saling memandang.


"Tidak sayang. Tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang! "


ajaknya tanpa berniat menjelaskan apapun.


Saat Divya dan Haris hendak berlalu disaat bersamaan Pranando keluar ruangan, ia berteriak memanggil-manggil dokter. Tentu saja mereka kembali menghentikan langkahnya.


Baik Haris maupun Divya sama-sama heran keduanya saling menatap penuh tanda tanya.


Raisa sendiri setelah ia menghapus jejak airmata di wajahnya, kasar. Ia berlari menghampiri suaminya. Menanyakan apa yang terjadi di dalam.


Dokter datang bersama dua orang suster, memeriksa keadaan pasiennya.


Raisa terisak, ia menghambur kepelukan suaminya. Tak lama berselang dokter kembali keluar dengan berita jika nyonya Riska Wiryawan telah tiada. Tak pelak semua kaget dan histeris termasuk Divya yang berdiri sedikit menjauh dari ruangan itu.


Divya menangis di pelukan Haris yang dengan sabar mengusap punggung istrinya.


Pranando dan Raisa masuk untuk melihat ibu mereka untuk yang terakhir kalinya. Wajah pucat itu pergi dengan senyuman. Nasihat terakhirnya semoga Pranando dengar. Dan janji itu semoga ia tepati.


Petang itu jenazah di bawa ke rumah duka, semua kerabat sudah banyak di hubungi. Termasuk Keluarga Santoso sendiri. Haris yang menelpon kedua orangtuanya. Jenazah akan di kebumikan malam ini juga.


Divya terpaksa tidak ikut mengingat kandungnnya kini yang sudah menginjak usia delapan bulan.Sudah tidak memungkinkan untuknya lama-lama berdiri. Sekarang saja pinggangnya sudah merasa pegal. Akhirnya ia menunggu di rumah Wiryawan bersama Icha putrinya menemani Melodi dan baby Rey.


Lebih dari dua jam prosesi pemakaman berlangsung. Icha sudah tertidur pulas di kamar Melodi sementara Melodi sendiri baru memejamkan mata setelah ia lelah menangis.


"Bunda !" sapa kakak Mel, begitu panggilan akrab Melodi sejak Icha menganggapnya seorang kakak.


Melodi juga memanggil Divya dengan sebutan bunda seperti Marisa.


Saat itu sebelum Melodi bisa tertidur ia mengajak bunda Divya berbicara.

__ADS_1


"Iya sayang kenapa Melodi belum


tidur? "


Divya yang saat itu tengah menggendong baby Rey dan memberinya minum susu.


" Melodi boleh bicara sama bunda? " tanya gadis kecil itu ragu.


"Tentu saja boleh dong. Memangnya mau ngomongin apa sayang ?"


jawab Divya seperti biasa dengan senyum tulusnya.


"Ini soal Papa. "


Divya menoleh, ia sejenak tertegun.


Apa yang mau anak ini katakan soal Papa-nya.


"Sebentar bunda tidurkan adik Rey dulu ya, "


Sebelum menanggapi apa yang hendak Melodi katakan Divya terlebih dahulu menidurkan Rey di box bayi yang ada kamar kakaknya itu .


"Mau ngomong apa, sini duduk !"


ajak Divya kini menyuruh Melodi duduk di samping Marisa putrinya yang sudah tenggelam di lautan mimpi.


Divya mendengar apa saja yang Melodi katakan satu persatu tanpa ia berniat memotong kalimatnya .


Mental anak lima tahun ini sudah teracuni masalah kedua orangtuanya.


Divya akhirnya mengerti dengan sikap Raisa terhadap dirinya setelah mendengar penuturan Melodi.


Gadis lima tahun itu diam-diam mendengarkan, dan hebatnya ia mencerna apa yang di ucapkan orang dewasa.


Mendengar hal itu dengan sabar Divya mencoba memberi pengertian.


Ia melakukannya dengan cara yang mudah di pahami anak-anak pada umumnya.


"Sayang itu masalah orang dewasa. Anak-anak belum saatnya tahu apalagi harus mengerti. Papa Nando pasti punya alasan kenapa dia marah .Mungkin ada masalah di kantor. Melodi jangan bikin Papa tambah pusing ya. Juga jangan bikin Mama Raisa jadi sedih. Mel ,paham? "


"Gini deh bunda jelasin. "


Sebelumnya Divya menuntun Melodi agar tidur di pangkuannya.Mengusap lembut kepala serta menyisir rambut kriting Melodi dengan jemarinya.


"Kamu sama Icha juga kadang suka berantem kan rebutan mainan. Seperti itu juga orang dewasa nanti juga baikan lagi." terang Divya memberi pengertian .


"Tapi gara-gara itu nenek marah terus sakit. Dan sekarang.Sekarang aku sama dede Rey gak punya nenek "


Apa gadis ini tengah menyalahkan Papa-nya sendiri sebagai penyebab sang nenek meninggal ? Kenapa Pranando harus seceroboh itu sampai anak ini tahu jika neneknya sakit setelah memarahinya.


Divya menghela nafas, sekali lagi ia harus mencari jawaban yang tepat untuk Melodi yang sekarang menangisi kepergian neneknya. Jawaban yang mudah di pahami serta membuatnya berhenti menanyakan masalah ini.

__ADS_1


Divya terus memberi nasihat hingga anak itu tidur di pangkuannya.


__ADS_2