Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kecurangan


__ADS_3

Setelah sekelumit petanyaan mengenai siapa Pak Andri, akhirnya Divya mendapatkan jawabannya.


Selama ini Divya hanya tahu pria itu ayahanda almarhumah Luna, wanita korban tabrak lari di London, saat itu kebetulan Haris dan juga Divya tengah berlibur disana sehingga ia membantu membawa jenazahnya pulang ke tanah air.


Namun ternyata Andri adalah salah satu bawahan Rudi dulu, ia bekerja sebagai pemegang proyek di beberapa tempat di bawah naungan perusahaan Haris .


Akan tetapi pria itu pernah mengkhianati Haris kala perusahaannya tengah maju pesat.


Pak Andri membawa kabur banyak uang,dimana itu uang anggaran yang perusahaan Haris keluarkan untuk proyek pembangunan. Bukan hanya itu, sebelum semua itu terungkap, ia juga pernah melakukan sebuah kecurangan yaitu memotong gaji karyawan dan mengatas namakan itu sebagai perintah dari tuan Haris.


Mengurangi bahan bangunan bahkan menggantinya dengan barang-barang berkualitas rendah dan murah ,tidak berstandar SNI dan yang lebih parahnya lagi itu membuat bangunan yang baru berdiri roboh lagi begitu saja sampai-sampai memakan korban.


Andri sempat di tahan pihak berwajib selama beberapa tahun, dan saat Luna meninggal saat itulah Haris kembali bertemu dengannya.Entah bagaimana pria itu bisa bebas.


"Kalau begitu, kenapa kau memberinya perusahaan saat Luna meninggal dulu? "


tanya Divya.


Divya merasa heran, sebab bagaimana mungkin Haris begitu saja melupakan kesalahan orang itu, kalau sekarang ia justru nampak begitu emosi mendengar kembali nama pak Andri.


"Hanya untuk menutupi rasa bersalah ku saja" jawab Haris datar.


"Rasa bersalah? Atas apa? " tanya Divya lagi.


"Atas~"


"Ris! "


Saat Haris hendak mengatakan sesuatu di saat yang sama Rudi seakan mencegah dia untuk bicara.


"Kenapa ada yang kalian sembunyikan dari ku? "


Divya semakin yakin jika suami dan kakak-nya menyembunyikan sesuatu.


Sebuah kebenaran kah itu?


"Tidak ada yang perlu aku tutupi lagi, Rud! " ucap Haris.


"Terserah kau saja! " timpal Rudi.


"Luna meninggal karena aku "


Penuturan Haris barusan bagai hantaman benda tumpul tepat mendarat di dada Divya. Kaget, syok? Tentu saja. Apa maksud Haris mengatakan hal itu?


Apa maksud suaminya?


Divya melongo, tatapan matanya mewakili pertanyaan yang ada di benaknya hingga dengan satu tarikan nafas Haris melanjutkan kalimatnya.


"Seseorang yang menabraknya mereka salah satu musuh ku dalam dunia bisnis. Kau ingat warna baju mu sama seperti seragam yang Luna pakai saat itu, Luna membawa tas mu dan mereka menyangka dia itu kau ,mereka sudah lama menguntit aktifitas kita"


tutur Haris.


Ia menjelaskan sejelas-jelasnya kronologi kecelakaan itu. Walaupun semua sebuah kebetulan tapi Haris tetap merasa bersalah karenanya ia memberi kesempatan kepada ayah Luna untuk memulai semuanya sedari awal lagi.


"Jadi yang mereka incar itu sebenarnya aku, mereka salah orang? Begitu? "

__ADS_1


tanya Divya, ia menyesali apa yang sudah terjadi.


"Lupakan itu, Dia sudah tahu


semuanya. " ucap Rudi.


"Apa! "


"Iya Ris, dan Pak Andri juga tidak menyalahkan mu"


"Lalu? "


"Ya dia menerima itu sebagai takdir hidup anaknya "


"Lalu kenapa kau tidak mengatakan itu dari tadi, sebelum aku mengakui segalanya pada Divya "


Haris mencebik,tapi mau seperti apapun dia memang sudah sepantasnya mengaku.


"Hei sudah aku katakan bukan, jangan panik apa-apa itu di teliti dulu. Kamu yang langsung marah-marah semua orang kamu bentak. Divya, Dimas. Kamu mau image kamu buruk dimata adik ipar mu itu?"


Ah iya Haris baru menyadari satu hal tidak ada Dimas di ruangan ini.


" Kau cari siapa? Dia sudah keluar dari dua jam yang lalu."


Begitu Divya berucap sambil melihat jam di pergelangan tangannya.Melihat Haris yang seakan baru menyadari ketidak hadiran Dimas.


Dan lagi menurut Rudi, pak Andri sudah berubah ia sudah menjadi lebih baik tidak ada yang perlu di khawatirkan dari pria itu.


Sesaat kemudian Rudi mendapat telpon dari orang suruhannya.


"Ok bagus kalau begitu, terimakasih"


Rudi menutup sambungan telpon.


"Tuh kan! "


menunjukkan ponselnya.


"Apa ku bilang"


"Pembangunan hampir rampung, sudah 95%.Jangan khawatir ,pak Andri tidak melapor karena ia ingin menyelesaikannya sebelum target"


"Huh syukurlah,tapi seharusnya dia melapor, kan? Apapun itu agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini "


"Mungkin dia mau membuatmu terkesan, jika dia datang melaporkan langsung padamu semua sudah beres sebelum jatuh tempo dari waktu yang di tentukan sebelumnya " tutur Rudi.


"Kau tidak ada niat meminta maaf pada adikku? " sindir Rudi.


Bagaimana pun Divya adiknya juga.


Begitupun Haris.


" Iya iya aku minta maaf sayang"


Divya tersenyum menanggapinya.

__ADS_1


"Jadi kita bertiga ini saudara ya? Masih seperti mimpi jika dia ini kakak ku.Berbeda sekali"


ucap Haris.


Berbeda apanya?


"Ya kalian dua-duanya adikku, terlepas bagaimana masa lalu Mama Rahma dan Ayah Ibrahim, kalian memang sudah aku anggap adik sejak dulu"


"Jadi "


seloroh Rudi lagi sebelum Haris sempat membuka suara.


"Jangan bentak Divya, kau masih belum paham! " candanya mengangkat satu telunjuknya ke arah Haris.


"Iya iya sorry. Tapi walaupun kau kakak ku aku tidak mau berbagi ibu dengan mu." dengus Haris seperti bocah yang takut kehilangan ibunya.


"Siapa juga yang mau berbagi dengan mu, aku sudah beruntung memiliki dua ibu, kau tahu! Bahkan sebelum Mama Rahma tahu aku ini anaknya dia sudah lebih sayang dan lebih mendengarkan ku dari pada dirimu" balas Rudi, telak.


Hah memang benar, Haris sampai tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Dia memang tidak pernah bisa merebut posisi terbaik di hati sang Ibu yang lebih mudah mendengarkan Rudi dari pada dirinya.


Rudi sudah seperti anak bagi Rahma jauh sebelum ia tahu jika Rudi memang anaknya bersama mantan suaminya terdaluhu.


Rumit dan berliku, begitulah kehidupan yang mereka jalani. Takdir mempersatukan Haris dan Divya dalam sebuah rencana Perjodohan.


Perjodohan penuh konflik dan rahasia.


"Ngomong-ngomong aku disini bukan sebagai bawahan mu, Ris. Bisa di bilang aku ini tamu. Mana jamuan ku? Tega sekali membiarkan aku kelaparan dan kehausan"


keluh Rudi mengusik keheningan.


Lantas semua tergelak.


Selanjutnya yang mereka lakukan adalah membahas rencana pertunangan Ameera yang akan di gelar tiga hari lagi dari sekarang sambil menikmati jamuan dan makan siang yang tentunya sudah sangat terlambat.


Rudi juga meminta Divya berusaha lebih keras lagi membujuk Dimas agar mau pindah dan tinggal bersama Rita.


Karena setelah Ameera menikah dengan Erik tentunya Erik akan memboyong Ameera ke Surabaya mengingat dia bekerja disana.


Sementara itu Rita yang sudah ditinggalkan Fram tidak mungkin hidup sendiri di masa tua-nya,sedangkan Rudi sudah memiliki keluarga dan rumah sendiri hanya bisa sesekali menemui ibu angkatnya itu.


"Dimas itu memang keras kepala, aku pusing menasehati dia kak"


keluh Divya.


"Tapi akan aku coba lagi bicara dengannya nanti" imbuhnya optimis.


Setelah semua selesai, urusan Pak Andri sudah beres. Rudi pamit kembali ke kantornya,ia juga berpesan agar Haris tidak selalu panikan penyakitnya itu harus sesegera mungkin dihilangkan.


"Atau bila perlu bawa dia ke dokter, Vy! Aku yang selalu dia repotkan kalau begini"


canda Rudi, lagi-lagi membuat Divya terkekeh.


Satu jam kemudian Haris dan juga Divya pun menyusul pulang ke rumah pukul lima sore hari.


Sampai di rumah mereka kembali di sibukkan dengan kenakalan dan keisengan Marisa .

__ADS_1


Gadis kecil itu telah mewarnai hari hari kedua orang tuanya.


__ADS_2