
Dimas Ibrahim jangan lupa jika ia termasuk jajaran cowok keren di salah satu Universitas ternama di negri ini.
Ganteng,keren dan juga pintar,dia itu adik dari Divya Veronika istri Presdir Santoso Group yang terkenal tegas .
Melakukan kesalahan padanya,berarti menutup peluang hidup .
Jangan tanya kenapa,ia tak pernah mau mengampuni siapapun meski bercucuran airmata darah di hadapannya sekalipun.
Hal yang membuat Dimas tersadar dengan ulahnya.
Pergaulan yang salah membuatnya hampir terjerumus,tapi untuk meninggalkan semua itu dia masih tidak rela.Apalagi sudah terjebak perasaan di dalamnya.
Pesona seorang gadis yang tak lain adalah sahabatnya sendiri yang membuat Dimas enggan untuk sekedar menghindari mereka.
Gadis itu bukan bagian dari kesalahan Dimas.Jadi,tidak ada alasan untuk menjauhinya.
Kali ini Dimas selamat,Rudi tidak melaporkan kejadian itu kepada Divya mengingat kondisinya yang tidak stabil sepulang dari luar negri.Apalagi setelah Intan menyarankan agar Divya tidak terlalu stress dan banyak pikiran.
Mana mungkin Rudi tega menambah beban emosionalnya.
Dan jangan lupakan Ameera yang polos,ia juga merasa ketakutan setiap kali Erik berada di dekatnya bagai ancaman.
Sudah kesekian kalinya laki-laki selalu dianggap baik hati itu berusaha menciumnya.
"Ayolah,hanya itu sedikit Meera" Tatapannya yang entah menunjukkan apa.Antara cinta dan hawa nafsu.
Terjebak berdua di dalam kamar seperti ini membuat suasana semakin memanas.
Niat awal Erik hanya akan memanggil Ameera atas perintah tuannya,Fram,agar segera turun untuk makan malam.
Ia justru mendorong Ameera masuk,lalu menutup pintu tanpa menguncinya.
Erik memegang tangan Ameera,ia berdiri beberapa senti membelakangi pintu .Diraihnya tengkuk gadis manis itu dengan cepat,Ameera yang terkejut repleks memejamkan mata.
Tentu dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia berusaha memundurkan posisi kepalanya menahan laju bibir Erik dengan telapak tangannya.
"Meera..." Kebayang gak sih wajah kecewanya ya ampun.
"Ayolah,hanya cium,sedikit"
"enggak" Menggelengkan kepala cepat.
"Meera takut,nanti ada yang tau" Jawaban polos dari Ameera justru semakin membuat Erik tertarik.
"Lagi pula apa status kita coba?!"
__ADS_1
Mereka memang belum resmi pacaran,kan.
"Kamu yang nolak aku,kan?" Jawab Erik balik bertanya.
"Kan Meera udah bilang ,Meera mau fokus dulu belajar.Meera harus lulus dengan nilai terbaik atau kak Divya~"
Belum selesai kalimatnya sudah Erik potong dengan cepat.
"Marah"
"Heum... Kakak tahu kamu anak yang penurut.Tapi apa salahnya kita pacaran,toh kakak juga belum lulus kuliah.Bukan mau ngajak Meera langsung nikah,kan" Kedua tangan Erik memegang pundak gadis itu,meyakinkan perasaannya.
"Ya, tapi..." Ameera bingung hendak menjawabnya bagaimana,sekarang belum resmi pacaran saja dia sudah berani minta cium,kalau nanti pacaran bagaimana.Gadis sepolos Ameera saja tahu itu tidak mungkin terjadi hanya sebatas ciuman,kalau minta lebih seperti di drama-drama ,ah mustahil aku bisa terus menghindar kan ! Pikiran Ameera berkeliaran mengarah pada segala kemungkinan.
Saat lamunannya sedang menerawang apa yang akan terjadi jika ia menerima Erik sebagai kekasihnya,tiba-tiba pria di hadapannya itu sudah menyambar bibirnya tanpa ampun.
Ameera melotot tak menyangka,ia mendorong tubuh erik sekuat tenaga.
Dan di saat bersamaan pintu didorong kuat dari luar,tak sampai ada yang bisa masuk karena pintu itu membentur Erik yang dengan cepat melepaskan tautan bibir mereka,mengusapnya secepat kilat sebelum seseorang di luar masuk ke dalam kamar.
"Erik ! Ngapain lo disini" Dimas menatap tajam Erik,pelayan rumah sekaligus teman kuliahnya.
"Dim,kamu..." Erik gugup dong ya! Seperti maling yang ketahuan .
" Aku,aku tadi..." Lidahnya benar-benar di kunci hanya untuk mengatakan alasan kedatangannya ke kamar Ameera.
"Nyuruh Meera makan malam,Kak !" Jawab Ameera cepat " Paman yang nyuruh kak Erik panggil aku kesini" Imbuhnya ketika Dimas hanya menatapnya tanpa bergeming.
"Lalu siapa yang nyuruh kamu bawa laki-laki ini ke dalam kamar ?!" Melotot, telunjuknya menuding Erik.
"Maaf,kak tadi~"
"Maaf maaf,gak denger apa kata paman kemaren malam,bukan masalah maaf tapi tanggung jawab kita terhadap masa depan kita masing-masing,lupa ?!" Sargah Dimas,mengingatkan nasehat pamannya.
"Tapi kita gak ngapa-ngapain,kak.Beneran" Kedua jarinya terangkat,meyakinkan Dimas.
"Lo pikir gue anak SD lo bohongin, Meera.Kalo gue gak dateng bukan gak mungkin lo berdua udah di atas ranjang" Menunjuk tempat tidur, Erik tertunduk,wajah memerahnya sudah ada sedari tadi.Entah menahan amarah ataukah malu,atau mungkin juga kesal.
"Erik !"
"Iya ,Dim.Sorry !" Ia mendongak.
"Jangan nambah-nambah pusing kakak, Meera.Awas aja kalian bikin masalah lagi,gue pastiin Erik gak bakalan ada di rumah ini lagi !" Mengancam.
"Jangan gitu,Dim.Iya aku salah,sorry !"
"Keluar sekarang !" Mengusir Erik,dengan gontay karena rasa bersalahnya ia keluar dari kamar Ameera.
__ADS_1
"Kak,jangan bilang ke paman ya.Kasiankan kak Erik" Permohonan Ameera yang masih bisa terdengar Erik dari luar kamarnya.
"Ya kak !" Sekali lagi Ameera membujuk.
"Gue kasih kesempatan untuk kali ini,tapi kalo kasian sama Erik,sayang sama tu cowok jangan buat kesalahan,ngerti !!" Dimas memperingatkan " Satu lagi !" Ameera yang sudah hendak keluar kembali terperanjak kaget.
"Apa" Jawabnya pelan.
"Dia ngapain tadi ?" Kali ini lebih serius,
"Ngapain kalian? jawab Meera" Ameera hanya mampu menggigit bibirnya sendiri sebagai jawaban.
"Gila !! Kalian ?" Dimas menggeleng tak percaya." Kalian ciuman ?!"
"Maaf,kak" Lagi-lagi minta maaf.
"Astaga.Gue aja kakak lo belom pernah nyium cewek,palingan fotonya doang di hp" Gerutu Dimas.
"Ah mana foto pacarnya kak Dimas, Meera lihat" Ameera antusias mengalihkan pembicaraan."Ayo kak,mana?"
"Isshh...ngalihin pembicaraan lagi,aku laporan nanti ke kak Divy" Telunjuk mengancam.
"Laporin aja ! Meera gak takut wee" Bertolak pinggang dengan lidah menjulur " Nanti aku laporin juga kelakuan kakak yang kemaren kepergok kak Rudi" Balasnya mengancam.
"Eh kok jadi gue,itu gak sampe kejadian ya.Belom gue telen tu barang,enak aja !" Tidak terima di pojokkan seperti itu.
"Ya..ya kalau kak Rudi gak keburu datang pasti udah di telen,kan.Tanpa mikir panjang.Hayo ngaku " Ledek Ameera membalas perkataan Dimas tadi.
"Gak" Menjawab cepat.
"Bohong !" Dengus Ameera.
"Mana bisa Meera,kakak setiap kali mau ngelakuin kesalahan ya,anehnya wajah kak Divya selalu menari-nari di otak kakak.Udah kayak alarm peringatan tau gak!" Dimas menghempaskan tubuhnya di atas kasur tempat tidur Ameera.
"Sama dong !" Timpal Ameera setuju.
"Sama tapi ciuman" Ledek Dimas.
"Kakak juga mabok" Tidak terima.
"Sedikit"
"Apanya sedikit sampe sempoyongan begitu" Protesnya lagi.
"Meera juga cuma sedikit tadi" Menggigit kembali bibir,menyesali perkataannya.
"Mau lo banyak,iya?!"
__ADS_1
"Hehe..gak gitu juga kak"