
Malam ini Divya masih termenung menatap bayangan dirinya di depan cermin.
Menopang dagu dengan tangannya.
Riasan sederhana sudah ia kenakan membuat Divya terlihat cantik.
Haruskah ia pergi malam ini,di saat seperti ini?
Masih dalam kebimbangan Divya melambungkan pikirannya pada kejadian sore tadi.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku dan darimana aku mendapatkan semua informasi tentang dirimu"
"Kau akan makan malam dengan suamimu kan? Datanglah kau akan tahu siapa aku"
Suara seorang wanita di telpon tadi membuatnya kembali mengurut kening.
Siapa lagi ini?
Kenapa banyak sekali kejadian aneh akhir-akhir ini,apa yang sedang tuhan tunjukkan kepada Divya.
Baru saja Divya hendak melangkah keluar kamar,tiba-tiba saja suara pintu diketuk dari luar bersamaan dengan tangan Divya yang sudah memegang handle pintu kamarnya.
"Mama !"
Begitu pintu terbuka di depannya sudah berdiri Rahma,dengan senyum ramahnya yang akhir-akhir ini ia tunjukkan.
"Hai Mama, ada apa?"
Tanya Divya mendapati Mama mertuanya ada disini.
"Boleh Mama masuk ?"
"Ah iya silahkan Mama,kayak sama siapa aja"
"Duduk Ma !"
Divya mempersilahkan Mama Rahma masuk dan duduk di sofa ,ia menjawab sedikit gugup campur heran ada apa gerangan sampai sang Mama mertua repot-repot datang ke kamarnya.
Padahal kalau butuh sesuatu Mama bisa saja menyuruh pelayan rumah untuk memanggilnya,tapi kali ini suatu kehormatan Rahma mau datang sendiri menemuinya.
" Mama butuh sesuatu? Kenapa kesini Ma,Divya kan bisa ke kamar Mama"
Tanya Divya mengkhawatirkan keadaan Rahma yang masih nampak pucat.
"Tidak nak"
"Mama~"
Rahma juga nampak ragu dengan kalimatnya.
"~Mama sudah putuskan untuk menceritakan semuanya pada Haris"
Rahma tersenyum getir,ia berjalan memunggungi Divya.
Sambil terus bertutur rasa bersalahnya,jika pun harus menanggung semua akibat dari perbuatannya ia sudah siap,dan memang harus siap.
Apa mau di kata,memang Rahma lah yang bertanggung jawab atas semuanya.
"Ma !"
Divya mengigit bibirnya sendiri,bingung harus bagaimana menanggapinya .Ia terus menatap punggung Rahma.
"Aku pasti bantu semampuku"
Pada akhirnya hanya itulah yang bisa Divya ucapkan.
"Tapi kalau Mama merasa ini tidak benar,Mama gak perlu memaksakan diri begini"
__ADS_1
Memang Divya yang menyarankan agar Rahma mau terbuka,jujur atas semua perbuatannya jika ingin hidupnya jauh lebih tenang.
Namun,begitu Divya tak ingin memaksa jika memang Mama tidak menginginkannya.
"Tidak sayang,Mama sudah ikhlas.Terimakasih sudah mendukung Mama,dan menguatkan Mama"
Terkadang jujur memang menyakitkan tapi itu jauh lebih baik daripada terus menyimpan kebohongan.
"Rudi tidak pernah salah dia selalu meyakinkan Mama tentang dirimu"
Rahma menangkup sisi kiri pipi Divya.
Mengusap helai rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Rahma juga memberikan sebuah amplop.Amplop coklat yang tertutup rapih,di dalamnya ada sepucuk surat yang Rahma tulis sendiri dengan tangannya dan juga foto orangtua Marisa.
Setelahnya Rahma berpesan untuk memberikan semua itu kepada Haris.
Divya mengangguk paham,ia sudah berjanji untuk membantu Mama Rahma sebisanya.Mungkin Rahma lebih nyaman memberitahu Haris lewat sebuah surat daripada berbicara secara langsung.
"Boleh Mama peluk kamu sayang?"
Tanya Rahma penuh harap.
"Tentu saja Ma,kenapa tanya "
Divya menghambur ke pelukan Mama mertuanya.Rindu akan pelukan hangat seorang ibu membuatnya berlinang airmata,dengan cepat ia menyeka sudut matanya.Menahan laju airmata agar tak menetes di pipinya.
Pelukan yang berlangsung cukup lama itu terhenti ketika pintu kamar terbuka.
Haris datang dengan diikuti seorang pelayang yang membawa tasnya.
Pelayan itu keluar setelah menyimpan tas di tempatnya.
"Wah ada apa ini ? Kenapa pelukan begitu? "
"Mama ! Kenapa peluk istri ku begitu ? Dia milikku Mam"
Haris menarik tangan Divya layaknya bocah merebut mainan dari temannya.
"Hilih kamu tuh sama Mama masa cemburu"
Dengus Rahma sedikit terkekeh sambil mengusap airmata di pipinya.
"Mama nangis?"
Haris melempar jasnya ke arah Divya yang dengan sigap ia menangkapnya.
"Kau apakan Mama ku !"
Canda nya, mendelik kepada istrinya itu.
"Heum..."
Disambut dengan tanggapan Divya yang nampak santai ,kedua tangannya masih memegang jas Haris terlipat di depan dada .
"Ya ! Aku apakan ya tadi ?"
Divya tergelak kecil.
"Aku cubit sedikit.Sedikit padahal seperti ini"
Mempraktekkannya di perut Haris sampai ia meringis.
"Tapi ibumu ini cengeng sayang"
Haris masih mengusap perutnya yang mendapat cubitan luar biasa dari istri tercintanya itu.
__ADS_1
"Masa segitu saja nangis" Pura-pura mendengus sebal.
"Bagaimana tidak menangis coba aku saja sakit dicubit seperti ini"
Haris bersungut-sungut kesal dan terus mengusap perutnya.
Rahma sampai tergelak dengan tatapan haru melihat interaksi candaan dari anak dan menantunya.
"Mama jangan nangis Mam ! Nanti Haris yang balas jika dia nakal"
Menuding Divya dengan telunjuknya.
"Apa !! Kau mau apa ?"
Divya tak mau kalah ia berkacak pinggang di hadapan Haris.
"Berani padaku,dasar !"
Memukul pundak Haris namun Divya lupa tangannya yang masih memegang amplop coklat yang ia terima dari Mama tadi.
Segera ia kembali menyembunyikannya dibalik jas.Haris yang tengah menghadap ke arah Rahma tak sempat melihatnya.
"Mandi sana kamu bau Haris !"
Mama terkekeh menutup hidungnya.
"Ya,iya aku mandi.Masih wangi begini juga"
Dengus Haris, berlalu menuju kamar mandi sambil menciumi aroma tubuhnya sendiri.
Canda tawa kecil seperti ini mampu mengusir segala penat di hati.Inilah kehidupan yang seharusnya terjadi.
Bukan justru kehidupan pahit yang penuh drama airmata dan juga masalah.
Terkadang memang hidup tidak selalu lurus.Jalan yang kita tempuh itu lebih berliku dan berkerikil.
Bagaimana kita bisa menghadapinya hanya diri kita sendiri yang tahu.
Bagaimana hidup terus bergulir dan masalah datang silih berganti hanya kita yang bisa mengatasinya.
Sejenak merenung apa itu masalah.
Sesuatu yang timbul dikarenakan adanya penyebab. Jika ingin menyelesaikan masalah maka cari sumber penyebab yang melatar belakangi nya.
Selesai ?
Mungkin iya ,mungkin tidak !
***
"Katakan sayang ! Kenapa kau tiba-tiba minta pulang,kita bahkan belum selesai makan"
"Apa kau sakit ?"
"Sayang kenapa diam?"
Haris terus mengulang pertanyaannya itu di dalam mobil.
Mereka baru saja keluar dari area parkir sebuah restauran.
Acara makan malam mereka terganggu ketika Divya tiba-tiba minta pulang setelah kembali dari toilet.
Ia tidak mengatakan apapun sampai mobil merangsek ke jalanan Ibukota yang padat kendaraan.
Suasana jalan di malam akhir pekan memang cukup ramai.Tanpa bersuara Divya hanya menatap Haris dengan tatapan yang sulit diartikan pria di sampingnya itu.
Beberapa saat yang lalu Divya masih terlihat ceria namun mendung di wajahnya mulai terlihat saat di kembali dari toilet.Mungkinkah dia sakit? Itu yang jadi pertanyaan Haris.
__ADS_1
Haris fokus melajukan kendaraan di tengah hiruk pikuk para manusia yang memang memiliki tujuan masing-masing.Sesekali menatap istrinya penuh tanda tanya.