Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Singapura


__ADS_3

Hari ini sudah jadi hari terakhir Pranando berada di tanah air. Keputusannya meninggalkan Indonesia sudah bulat. Ia tersenyum bahagia, lega rasanya setelah semua beban hilang dari benak dan pikirannya.Pranando akan memulai hidup yang jauh lebih baik lagi setelah ini. Ia begitu yakin.


Ucapan terimakasih dan permintaan maaf tak henti ia lontarkan pada Raisa yang selalu setia mendampinginya.


Semalam semua beban hilang, semua rasa berkurang.


Ya ! Semua karena dokter Intan dan rencana konyol -nya. Intan bukan saja seorang dokter tapi ia juga mengerti masalah psikis, pakar psikologi yang paham tentang mental dan prilaku menyimpang seperti trauma masa lalu, atau sikap dan rasa takut berlebihan. Rasa bersalah akan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan. Atau juga seseorang yang punya rasa penasaran amat tinggi akan hal-hal yang telah mereka lewatkan. Entahlah itu yang di nilai Intan ada pada diri Pranando.


Bukan cinta yang mmembuatnya gila melainkan rasa bersalah dan penyesalan yang tidak terucap.


Semalam saat Divya mengatakan jika dirinya benar pernah memiliki rasa entah kenapa Pranando merasa lega.


Mungkinkah selama ini ia menginginkan Divya memiliki perasaan yang sama dengannya? Sebelum wanita itu menjawab terlebih dahulu ia meminta Pranando berjanji untuk tidak lagi berharap lebih karena ia sekarang sudah memiliki kehidupan sendiri begitu pun dengannya.


"Saat ini aku sangat -sangat mencintai suamiku, kamu tahu itu. "


"Lanjutkan hidupmu, aku sudah memaafkan mu untuk semua yang telah terjadi.Untuk hal itu aku juga minta maaf ,ini takdir hidup kita untuk tidak memiliki satu sama lain. Aku berharap kau bisa menyadari semua itu .Sekarang aku dan Haris sudah bahagia. Kau juga bahagia lah dengan Raisa. Dia sahabatku wanita yang jauh lebih baik dari aku.Dan lebih pantas mendampingi mu. Tutup semua rasa itu. Dan terimakasih untuk semua kejujuran mu hari ini. "


Percayakah jika saat ini Divya mengatakan itu dengan linangan airmata, tangannya menggenggam erat tangan Pranando. Dan disana ada sepasang mata yang melihatnya dengan penuh emosi. Wajah merah menahan amarah rasa cemburu yang hampir membuncah jika saja Intan tidak terus memegangi tangannya.


"Ya aku juga,terimakasih untuk segalanya Vero, maksudku Divya."


Pranando tahu panggilan itu sudah tidak pantas lagi baginya. Ia kini sadar bahwa perasaan yang tidak ia ungkapkanlah yang membuatnya gila. Pantas saja Pranando merasa seakan tidak rela wanita yang ia pikir ia cintai itu hidup bahagia bersama orang lain.


" Memang aku yang bodoh tidak memahami hati ku sendiri.Sepertinya saat ini aku butuh dokter"


Pranando mengusap tengkuknya sendiri.Menyadari psikis dan mentalnya lah yang bermasalah.


"Boleh aku minta satu hal? " tanya-nya kini sebelum mereka berpisah.


"Apa? " jawab Divya.


"Memeluk mu untuk yang terakhir kalinya"


Walau ragu Divya akhirnya mengiyakan permintaan Pranando .

__ADS_1


Namun, sesuatu terjadi ketika mereka sudah saling merangkul. Haris,dengan kesal ia menarik Divya. Membawanya menjauhi Pranando.


"Sudah cukup! Drama konyol apa ini. Membuatku jengkel. Lama-lama bukan dia yang gila tapi aku. " gerutu Haris sambil menjauhkan istrinya dari Pranando.


Melihat Haris emosi Rudi dan juga Dimas turut menghampiri mereka. Takut jika akan ada keributan. Rudi paham bagaimana sifat Haris.


Intan dan Raisa pun turut mendekati meja dimana Pranando masih terdiam.


"Mereka semua di sini ? " batinnya bertanya-tanya.


Dan barulah setelah itu ia mengerti.


Intan menjelaskan segalanya bahwa semua ini adalah rencananya.


Satu hari sebelumnya Intan bertemu Haris, ia tengah kesal karena baru saja mengetahui jika ada pria yang masih tergila-gila pada istrinya. Setelah berbincang lama Intan yang memang pernah mengenal Pranando walaupun hanya sebentar ia bisa langsung paham apa yang ia lihat pada diri laki-laki itu.


"Seperti yang kau ceritakan, menurutku dia itu butuh dokter. Atau setidaknya biarkan ia mengutarakan perasaannya pada istrimu"


Hari itu saat ia bertemu Haris, dengan sangat hati-hati dan dengan rasa takut Intan mengatakan hal itu. Ia tahu betul bagaimana Haris kalau sudah cemburu. Ia tidak akan memandang Intan sebagai wanita dengan marahnya bisa saja ia melayangkan tinju.


"Ini demi kebaikan kalian


Percayalah setelah dia mengungkapkan perasaannya pada Divya, aku yakin dia akan jauh lebih baik.Tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Satu lagi kau sendiri yang bilang mereka dulu tidak pacaran kan,jadi aku yakin masalahnya ada disitu. " jelas Intan panjang lebar dan begitu yakin.


"Kau berani taruhan? "


"Berikan hadiah jika aku benar. " ucap Intan menantang Haris.


Dan malam kamarin saat Intan bicara dengan Pranando, Intan juga memberi motivasi dan saran agar ia terbebas dari belenggu.


Sampai pada titik ini Pranando mulai menyadari kebodohan dan kekeliruan nya.


***


Hari hari bahagia di mulai Pranando di tempat ini, di negara ini. Singapura.

__ADS_1


Ia memulai bisnis nya dari nol bersama sang istri.


Menikmati hari dengan penuh suka cita. Tawa, bahagia.


Kita tinggalkan kisahnya disana, biarkan semua mengalir bagai air, bersemilir bagai angin. Kisah anak yatim dengan trauma masa lalunya yang kelam.


Di Singapura ia melanjutkan perawatan mental-nya dan kini berangsur -angsur pulih.Beruntunglah ia memiliki wanita sebaik Raisa di sisinya.


Berbahagialah Pranando.


***


Sementara itu satu bulan kemudian Divya melahirkan putra keduanya.


Bayi berjenis kelamin laki-laki itu terlahir normal dengan berat 2,8 kg dan panjang 52cm.


Di gadang-gadang bakal jadi pewaris kerajaan bisnis keluarga Santoso.


Yang juga pemilik baru perusahaan Wiryawan group yang kini di ambil alih Haris Santoso.


Perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman itu berjalan baik di tangan seorang Haris.


Dia yang selalu di sebut -sebut tuan muda sekarang dia yang memiliki tuan muda-nya, bayi laki-laki nya yang tampan.


Kebahagiaan terasa semakin lengkap kala ada tangisan bayi di antara mereka. Bagi Divya ini bukanlah hal yang aneh. Ia sudah banyak belajar ketika ia mengurus Marisa putri sulungnya. Namun bagi Haris ini adalah hal baru.Haris tidak pernah tahu bagaimana dulu Marisa kecilnya di lahirkan. Di besarkan.


Namun sekarang Haris sudah benar-benar merasa jadi seorang ayah, bisa menggendong dan menimang bayi-nya sendiri. Tidak ada lagi rasa takut akan gangguan dari orang luar.Walaupun Divya masih sering menghubungi Raisa. Haris tidak lagi marah saat suami dari sahabatnya itu turut pula bicara pada istrinya.


Bahkan dia sendiri kadang menelpon Pranando lebih dulu. Sekedar berbincang masalah pekerjaan atau menanyakan akankah Pranando kembali ke tanah air. Dan masih dengan jawaban yang sama yaitu ,tidak.


Tidak !


Satu buah mobil mewah terparkir di halaman rumah sakit. Pajero sport putih dangan plat seri B terparkir menggantikan honda jazz yang sudah usang milik Intan.Itulah hadiah istimewa dari seorang Haris Santoso.


Memenangkan taruhan dari seorang tuan muda, jangankan mobil Intan minta rumah saja sudah pasti di berikannya cuma-cuma.

__ADS_1


__ADS_2