Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Suster Laras dan Bu Inah


__ADS_3

Setelah puas tertawa wanita pasien rumah sakit jiwa yang ternyata pernah Haris temui saat menjenguk Laras itu, Ia menangis kencang.


"Wanita itu, " gumam Haris menunjuknya.


"Dia ~" Haris mendekat, namun wanita itu lari sambil terus menangis.


Berteriak.


Dia lari mengarah ke makam tuan besar yang masih merah, basah. Taburan bunganya semerbak menerpa hidung.


"Wangi. Wangi ."


Dengan segala tingkahnya dia berjingkrak menaburkan bunga-bunga itu kembali di tempatnya setelah mencium aromanya.


"SAN-TO-SO ! " suara ejaan menyebut nama tuan Santoso dengan mata membelalak, serta memiringkan kepala.


Haris dan yang lainya melihat itu ,mereka kembali ke makam Santoso. Masih menerka siapa gerangan wanita gila hampir tua itu, pakaian compang camping dengan rambut yang sebagian sudah memutih dan gimbal.


Saat bersamaan Intan datang, ia baru saja kembali dari makam mantan suaminya. Sedikit lebih jauh dari tempat dimana keluarga Haris berada,makam Antonio ada di sebelah utara paling pojok.


Setelah upacara pemakaman tadi selesai , ia pamit ingin berziarah sebentar kesana.


"Laras! " seru Intan setelah ia sampai di tempat Haris.


Sejenak Haris mengikuti arah pandangan Intan saat menyebut nama Laras. Benar suster perempuan itu Laras. Tubuh tinggi rampingnya tak jauh berbeda.Hanya saja rambut panjang dan lurus kini tak lagi terlihat, tertutup hijab cantik nan anggun. Benarkah itu Laras?


"Apa? Kamu panggil siapa tadi, Tan? "


Haris masih merasa sangsi.


"Laras, " jawab Intan.


"Laras! " seranya tanpa ragu memanggil wanita itu.


Ia menoleh dan lantas tersenyum begitu mengenali siapa yang memanggilnya barusan.


"Mba Intan. " seru wanita itu berjalan mendekati, ia kembali menoleh arah wanita yang di kejarnya.


Lalu dengan sigap kedua perawat pria yang sedari tadi ikut mengejar itu mengangguk. Mengerti jika suster Laras ingin menemui saudari-nya.


"Kamu disini? " tanya Intan begitu Laras mendekat.


Seketika suasana menjadi sedikit tegang. Nampak jelas raut wajah Laras yang tertekuk begitu melihat pria di samping Intan menatap tajam.


"I iya mba, a- aku .Itu ~ eum. Bu Inah kabur dari rumah sakit. "

__ADS_1


Laras menjawab dengan gugup, perasaannya kini berkecamuk. Takut, malu, sungkan dan entah apalagi yang ia pikirkan. Sedari tadi hanya mampu menunduk dan meremas jemarinya sendiri.


Laras juga menunjuk ibu-ibu yang dikejarnya dan menyebut namanya 'Bu Inah' . Nama yang begitu familiar


di telinga Haris, Rahma maupun Rudi.


Dialah wanita yang selama ini menjadi ibu angkat dari Marisa mantan kekasih Haris. Benarkah wanita itu Inah? Haris menatap Intan,Laras dan ibu itu bergantian.


Wanita penghuni rumah sakit jiwa yang ia kunjungi beberapa bulan lalu itu. Ia ingat. Wanita yang sama yang memegang lengannya dan terus mengoceh tentang anak, boneka yang ia gendong hari ini pun sama . Itu boneka yang tempo hari Haris lihat. Dan dia terus menyebut itu anaknya.


Dan lagi ,Laras !


Sudah pulihkah ia hingga sekarang ada disini dengan penampilan yang berbeda. Hijab dan pakaian suster.


Haris melempar pandangan pada Intan


seakan mempertanyakan apa yang terjadi yang saat ini mereka saksikan.


"Laras ini," Intan menhela nafas, ia mengerti arti tatapan Haris.


" Dia ini sudah sembuh,Ris. Hanya butuh beberapa bulan saja setelah bertemu dengan mu, ia kembali pulih. " jelas Intan, yang di sertai senyum canggung dari Laras.


"Lalu wanita itu bu Inah, saat di rumah sakit aku tidak mengenalinya. Padahal selama dua tahun aku bolak balik ke tempat itu menengok dan mengurus Laras. Tapi saat Laras sembuh justru dia yang mengenali bu Inah " imbuh Intan menjelaskan tentang ibu angkat Marisa.


"Itu karena saya yang menyebabkan bu Inah sampai seperti ini. Maaf, maaf tuan" Laras menunduk dalam. Tidak ada keberanian baginya menatap Haris, apalagi tante Rahma.


Namun saat semua perintah Laras, Inah turuti ia justru mendapati kenyataan jika Laras sendiri lah yang telah melenyapkan putri angkatnya.


Inah berniat menuntut keadilan akan tetapi Laras terlalu licik ia membuat Inah hilang kesadaran dan setengah gila. Puncaknya ketika suami Inah memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah kembali ke dalam sel. Inah semakin menjadi hingga akhirnya ia masuk rumah sakit jiwa sampai saat ini.


Begitu berbeda keadaannya hingga Haris tidak sempat mengenalinya.


Bagaimana semua ini terjadi tanpa sepengetahuannya. Pantas saja Bu Inah menghilang sesaat setelah Marisa tiada.


Rahma mendekat, ia menatap lekat. Gadis yang semula dia anggap pantas mendampingi putranya. Kini, sekarang ia berbeda. Jauh lebih baik. Rahma memegang pundak Laras, merengkuh dan memeluknya erat.


"Jika mungkin maafkanlah tante, Laras. Jika bisa maafkan segala kesalahan Om dan juga tante. Tante yang buat kamu senekat itu dulu. Tante yang sudah merusak masa depan mu, nak. " ucap


tante Rahma di tengah pelukannya.


Mengusap punggung Laras dengan lembut ,berderai airmata menyesali segala kebodohannya di masa lalu.


Bagaimana pun Rahma menyadari dirinya lah yang telah membawa gadis itu terjerumus.


"Laras sudah memaafkan semuanya tante, Laras juga minta maaf sama tante. Gara-gara Laras Kak Haris membenci tante selama ini. Gara-gara Laras Kak Marisa pergi. Dan gara-gara Laras juga Kak Haris menderita tante. "

__ADS_1


Laras melepas pelukan, ia melirik Haris sekilas. Nampak senyum tipis di bibirnya, mengisyaratkan kekaguman, dan rasa haru melihat sang Mama sudah mampu berdamai.


"Om Santoso dimana tante ? Dia tidak disini. Tunggu! "


Laras sejenak menilik ke semua orang yang ada di hadapannya .


"Semua berpakaian serba hitam, ada apa? Siapa yang meninggal? " tanya Laras begitu menyadari sesuatu yang ia lihat.


"Disana, nak !"


Rahma menunjuk arah makam Santoso, di sampingnya bu Inah sudah terkulai lemah di pegangi dua suster pria tadi.


Bu Inah sepertinya pingsan karena kelelahan.


Rudi yang melihat itu memberi isyarat tangan, menyuruh mereka membawa Inah keluar area pemakaman.


Mereka mengerti, dan langsung membopong wanita itu. Tergopoh menuju mobil rumah sakit tempat dimana mereka bekerja.


"Om Santoso meninggal ? Benarkah


itu ! " pekik Laras, terisak pilu.


Ia tidak menyangka jika Bu Inah yang gila itu membawanya pada kenyataan ini.


Laras pikir Inah pergi kesini karena merindukan Marisa.


Apa sekuat itu ikatan batin yang Inah punya? Atau ini hanya kebetulan.


Laras tergopoh menuju makam Om Santoso. Om yang selalu menyebut dirinya sebagai putri mereka.


Hingga segala kebaikan Santoso membuat Laras berharap lebih.


Ia mencintai sosok Haris yang sudah seperti kakak baginya.


Bodoh ! Kebodohan yang membawa nasibnya ke tempat ternista di muka bumi ini. Sel tahanan !


"Apa beliau sakit. Ya tuhan aku bahkan belum sempat meminta maaf. Aku memakinya di pengadilan saat itu. Aku menyebut Om 'bodoh'.Tidak! Aku yang bodoh Om, aku yang bodoh. Maafkan Laras"


Isak tangis pun kembali pecah.


Harus dengan apa Laras menebus segala rasa bersalahnya kini.


Ia lega bisa bertemu lagi dengan tante Rahma dan masih sempat meminta maaf padanya. Tapi, dengan Santoso mengapa tuhan tidak memberinya kesempatan.


Laki-laki ini telah memberinya motivasi saat ia digiring ke sel penjara, namun dalam keadaan kalut Laras justru membentaknya, memaki dan menghinanya.

__ADS_1


Setiap kali Santoso berusaha menjenguknya pun ia selalu enggan. Padahal beliau lah yang paling perhatian selain Intan mantan kakak iparnya. Yang lain jangankan menjenguk, orang tua kandungnya justru melupakan dirinya begitu saja.


__ADS_2