Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Tidak terduga


__ADS_3

"Duduklah !" Divya kembali meminta wanita itu untuk duduk.


Setelah yakin dengan keadaan sekitar.


Wanita asing itu memilih duduk di sisi kiri Divya ,menarik bangku kosong dari meja sebelah.


Mungkin dia takut laki-laki yang bersama Divya itu datang.


"Jadi nona betul,nona Veronika?" Tanya nya setelah sejenak menengok sekeliling.


"Kalau iya kenapa?darimana anda tahu nama saya dan juga mengenali saya?" Selidik Divya.


"Perkenalkan nona nama saya Luna" Walau sebenarnya sudah terlihat jelas dari kartu pegawai yang ia kenakan.


"Saya ..." Ragu.


"Saya...teman baik Pranando,saya yakin anda mengenalnya nona" Terang saja Divya kaget,dahinya kembali mengkerut.


Dia lagi,sampai disini pun masih ada yang membahasnya.


"Nando itu sahabat saya sebelum akhirnya kesalahan membuat hubungan kami retak" Perempuan bernama Luna itu menunduk lesu.


"Ada apa?" Pertanyaan yang begitu saja keluar dari mulut Divya.


"Maksudku,kesalahan?"


"Dulu saya bukanlah wanita yang baik.Buruk sangat buruk,saya kuliah disini namun orangtua ku tak lagi mampu membiayai.Mereka bangkrut dan aku...aku diminta pulang ke Indonesia" Dengan ragu ia mulai bercerita.

__ADS_1


"Lalu?" Divya tahu gadis di hadapannya merasa sesak.


"Aku menolak karena merasa sudah betah tinggal disini,aku tetap meneruskan studi ku,dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ku"


"Aku bahkan rela menjadi wanita panggilan hanya untuk mendapatkan uang" Lagi-lagi Luna menunduk,menyembunyikan wajahnya.


"Lantas apa hubungannya dengan Nando dan kau mengenali ku?bagaimana mungkin,padahal kita belum pernah bertemu sama sekali.Iya kan?"


Divya semakin dibuat bingung.


Wanita ini,wanita panggilan? Divya menatap lekat sambil terus membatin.


"Aku melihat mu di foto" Luna mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya,men-scroll layar ponselnya lalu menunjukkan sesuatu.


Divya meraih ponsel itu dilihatnya foto ia bersama Nando beberapa tahun lalu.


"Ini sudah sangat lama.Ku pikir tidak akan ada yang mengenali ku lewat foto jadul seperti ini" Ia tersenyum tipis.


"Nando selalu menceritakan tentang dirimu " Tatapan mata Luna nampak sayu.


"Seberapa jauh?" Tanya Divya.


"Nando menyelamatkan ku dari lembah hitam itu,hingga akhirnya kami berteman cukup dekat.Dia sangat mencintaimu itu yang aku tahu"


"Lalu?" Tanpa di sadari Haris sudah berada tidak jauh dari mereka,mendengarkan percakapan dua wanita yang masih sangat asing satu sama lain.Namun,terlihat begitu serius .


"Dia memintaku berhenti menjadi pekerja malam.Memberiku pekerjaan yang lebih layak"

__ADS_1


"Tapi mungkin aku terlalu banyak berharap,aku mulai menyukainya meski aku tak pernah mengatakannya.Sementara dia tak pernah berhenti memikirkan mu,sampai kesalahan itu terjadi" Luna kembali menjeda kalimatnya lagi,ia nampak gusar.


Sesekali menatap Divya lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kaca.Cafe sudah sedikit lengang hingga ia bisa dengan leluasa bicara pada wanita yang membuatnya begitu penasaran selama ini.


"Suatu malam aku dapati dia dalam keadaan mabuk berat,aku membawa Nando ke apartemen miliknya,aku memapahnya hingga ke tempat tidur.Dan yang terjadi selanjutnya..."


"Apa?" Divya lagi-lagi mengerutkan dahinya.


"Dia memanggilku Vero dan aku tahu itu kau.Aku diam saja ketika dia mulai menyenentuhku.Itulah kesalahan terbesar ku padanya,kami berdua melakukan itu sampai akhirnya aku hamil dan dia tidak bisa terima itu" Setitik airmata mulai membasahi pipi Luna.Menyesali semuanya sudah terlambat.Ia tahu Nando begitu mencintai wanita bernama Vero,namun ia diam saat laki-laki itu menganggap dirinya wanita itu dalam keadaan mabuk.Seakan mendapatkan kesempatan karena ia pun memiliki perasaan lebih padanya.


Sejak saat itu Nando mulai mengacuhkan dirinya dan bayi dalam kandungannya.Walau begitu ia tetap sesekali menemui Luna itupun haruslah Luna yang memohon,terlebih selama hamil Luna tidak lagi bekerja .Jadi Nando terpaksa harus memenuhi kebutuhannya.Ia juga menunda kepulangannya ke tanah air hingga sampai Luna melahirkan.


Melodi Aluna putri pranando yang tak ingin namanya itu dibawa-bawa,namun ia tetap memilih nama itu tersemat di belakang nama putrinya tanpa sepengetahuan Nando sang ayah biologis.Ayah yang bahkan tidak mengakuinya sama sekali.


"Kau tetaplah kau,meski aku mengangkat mu dari lembah nista kau tetap kembali ke jalan yang salah itu.Dasar P******* murahan ! Jangan pernah mengatakan dia anakku entah berapa pria yang menyentuh mu.Cih!!" Kata-kata Nando yang tak pernah bisa ia lupakan.Sakit rasanya mendengar ia mengatakan hal itu.


Meskipun Luna menangis dan bersumpah jika ia tidak pernah lagi melakukan hal kotor yang Nando tuduhkan .


Dan laki-laki terakhirnya hanya Nando,ia tetap tak percaya.Atau mungkin lebih tepatnya ia tidak bisa terima.


Luna menyesali hal bodoh itu walau bukan sepenuhnya kesalahannya.


Menyesal karena pada akhirnya harus kehilangan sahabat yang paling baik,yang memberinya pekerjaan layak disebuah kantor padahal ia masih kuliah.


Nando juga selalu membantunya melunasi biaya studinya saat itu,memberinya tempat tinggal yang layak pula.


Huft...Luna menarik nafas berat.

__ADS_1


__ADS_2