
Meski semua orang menyangka jika Haris sendiri lah pelaku penyerangan di rumah mbok Jum sebab tak ada satu barangpun yang hilang dan ini berarti bukan sebuah perampokan.
Mbok Jum terluka parah akibat serangan senjata tajam. Dua menantu laki-lakinya juga terluka dan sekarang masih berada di rumah sakit.
Sebelum pulang Haris sudah menugaskan anak buah serta melibatkan pihak kepolisian untuk melindungi mereka anak ,menantu ,dan cucu mbok Jum.
Dari sekian banyaknya spekulasi warga desa setempat beruntunglah Haris karena keluarga mbok Jum mempercayai-nya.
Dimata mereka tidaklah mungkin seorang tuan muda seperti Haris melakukan hal seperti itu.
Seingat mereka ibunya tak pernah mengeluhkan apapun tentang majikannya .
Dan lagi jika Haris yang bersalah maka tidak mungkin pria itu melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian .
***
Rumah sakit
Siang itu Haris kembali ke Ibukota.
Ia langsung datang menuju rumah sakit sebab Shila istri Rudi sudah melahirkan di sana.
Haris memani Rudi masuk ke ruangan dimana Shila di rawat.
Sementara Papa-nya pulang lebih dulu ke rumah.
"Kamu dimana sayang telpon mu tidak diangkat" Pesan masuk dari Divya isterinya.
"Aku khawatir. Kabari aku" Pesan kedua hanya berselang satu menit saja.
Haris terduduk di sofa di ruangan tempat Shila mendapatkan perawatan .Di sana hanya ada Mama Rita yang setia dan sabar menemani Shila. Tanpa mengatakan apapun juga Haris menyandarkan tubuhnya. Memejamkan mata.
Divya ! Refleks Haris kembali membuka mata.
"Aku belum membalas pesannya. "
Haris bergumam kecil lalu ia mengetikkan beberapa kata di layar ponselnya.
"Aku di rumah sakit sayang.Jangan khawatir,ok ! Dari Kota S aku langsung kesini menengok Shila. "
Shila baru saja melahirkan seorang putri tiga jam yang lalu. Anak keduanya dengan Rudi.
"Sebentar lagi aku pulang, tetap di rumah dan jaga Marisa. Satu lagi ! Bukankah Papa langsung pulang ,apa dia belum sampai di rumah? "
Balasan pesan Haris untuk Divya menandakan kekhawatiran terhadap keadaan Papa -nya sendiri.
Tak butuh waktu lama Divya sudah membalas pesannya.
"Ah iya sayang ternyata ini Papa baru datang "
Haris tersenyum menatap ponselnya. Ia kembali memasukan benda itu ke dalam saku jas-nya tanpa membalas lagi pesan dari istrinya.
Lama ia termenung memikirkan kejadian itu. Sementara Rudi tengah asik menggendong putri kecil-nya dan Shila yang masih mentap Haris dan Rudi bergantian. Rudi tidak berniat sama sekali menjelaskan meski ia menebak raut wajah Shila yang menunjukkan rasa penasaran.
Mama Rita pamit pulang sebentar karena di rasa sudah ada Rudi di sini, beliau ingin berganti pakaian dan beristirahat di rumah karena semalaman tidak bisa tidur,menunggui Shila yang terus kontraksi. Mama Rita berjanji akan kembali lagi nanti.
Bersamaan dengan pulangnya Mama Rita,Intan masuk ke dalam ruangan.Ia hanya berniat memantau keadaan Shila saja karena dokternya Shila memang bukan dirinya. Mengingat ia adalah kepala dokter di rumah sakit ini jadi sudah sewajarnya ia melihat keadaan para pasiennya.
__ADS_1
Haris tentu saja ia tersentak melihat Intan. Pikiran serta emosinya sejalan dan kompak menerka. Mungkinkah di balik semua ini !!!
Dia orang luar yang tahu bahwa mbok Jum segalanya bagi Haris .Menganggapnya sebagai ibunya juga. Siapa lagi musuh Haris yang bisa kejam melakukan ini selain gadis itu.
"Ada apa Ris? "
Intan merasa sedikit aneh ketika
Haris memelototinya tanpa
berkedip.
"Ikut aku! "
Haris menarik paksa tangan dokter Intan.
"Tapi kemana.Ris? "
Intan yang baru saja ingin menyapa Shila terpaksa harus rela raganya terseret langkah besar kaki tuan muda ini.
"Kesini sebentar! "
Jawab Haris sambil terus menarik dokter Intan hingga ke ruang
kerjanya.
"Ini ruang kerja ku mau apa kau ajak aku kesini? "
tanya Intan begitu heran.
"Diam! Kau lihat berita hari ini? "
"Ya! Tentang mantan pengasuh mu itu kan? Kenapa? "
Tebakan Intan memang benar tidak salah lagi. Berita itulah yang di maksud Haris.
"Apa mungkin pelaku di balik ini~"
"Sebentar! " Haris mengeluarkan ponsel.
"Kau lihat ini ! "
Haris pun menunjukkan
pesan ancaman dari pelaku kejahatan itu kepada Intan
"Ini ancaman ? Untuk apa ?"
Intan tertegun menatap layar ponsel Haris, sebuah pesan yang menunjukkan jika si pengirim tengah berbahagia atas duka Haris. Tapi, siapa dia? Siapa yang melakukan hal sekejam itu ?
Pelaku-nya pasti memiliki motif dendam. Ia bahkan mengincar seorang anak kecil.
" Mungkin untuk menjatuhkan aku"
"Tan, " Intan menoleh dengan pandangan yang masih sedikit kabur, ia masih berusaha menerka semua itu.
"Ya !"
__ADS_1
"Apa mungkin di balik semua ini, gadis kurang ajar itu " Haris menggeram.
"Siapa ? Laras ? " Intan menebak apa yang dipikirkan Haris.
"Ya siapa lagi musuh ku yang tahu kalau pengasuh ku itu orang yang sama pentingnya seperti ibuku sendiri, masuk akal kalau Laras lah pelakunya, benar ? "
Haris yakin dia lah di balik semua ini,tapi untuk apa lagi. Tidak cukup kah gadis sialan itu menyakiti keluarganya ?
Membuat kesalahpahaman terjadi lalu mencelakai orang-orang terdekat Haris.
Apa maunya dia ?
"Tapi, Ris ~"
Intan merasa sangsi kali ini.
Dia seperti memiliki pemikiran yang berbeda dengan apa yang dipikirkan Haris.
"Tapi apa ? Siapa lagi kalau bukan dia"
Haris masih tetap pada pendiriannya menuduh gadis itu sebagai pelakunya.
Bahkan saking geramnya ia sampai menggebrak meja kerja Intan.
Untunglah Intan sedang tidak ada jadwal hari ini sehingga tidak memiliki pasien di luar.Ia datang ke rumah sakitpun lantaran Shila melahirkan. Bagaimana pun dia sahabatnya juga.Dan seharusnya hari ini Intan memang sedang libur.
"Tidak mungkin Laras, Haris"
Haris mendelik, sungguh tatapannya seakan akan merobek dan melahap Intan hidup-hidup.
"Dengar dulu, ok ! Jangan marah"
Intan mencoba meredam api kemarahan di mata Haris.
"Begini. Aku tahu dimana dia. Rudi sudah memenjarakan dia sejak kau kecelakaan lebih dari empat tahun yang lalu"
Haris masih mendengarkan tanpa membantah.
"Aku menyangkal bukan karena dia mantan adik ipar ku, Ris"
"Tapi karena aku tahu dia dimana sekarang dan seperti apa kondisinya"
Intan terlihat sebegitu yakin-nya di mata Haris.
"Tapi mungkin saja dia menyuruh seseorang kan, penjara bukan berarti penghalang segala kejahatannya. Polisi bisa saja lengah. Sementara dia punya banyak anak buah"
Haris masih bisa menyangkal. Ia masih begitu yakin jika semua ini perbuatan Laras.
"Ikut aku ! "
Intan menarik tangan Haris membawanya keluar ruangan dan berjalan di koridor rumah sakit.
Pengawal Haris yang tadi sigap menunggu di luar pun dua orang diantaranya mengikuti mereka.
Sementara yang lain menunggu di depan ruang perawatan Shila dan bayinya.
Intan dan Haris menuju mobil Haris, memasuki kursi penumpang di belakang.Dan dua pengawal tadi di depan. Salah satunya mengemudi.
__ADS_1
Dokter cantik itu mengintruksi jalan dan kemana arah tujuan yang akan mereka datangi. Intan ingin menunjukkan sesuatu yang bisa meyakinkan Haris bahwa bukan Laras pelaku seperti yang ia tuduhkan.
Bicara dengan tuan muda tanpa bukti bukanlah sebuah solusi.