
"Terimakasih sayangku"
Setelah mendaratkan ciuman di pipi Divya,
Haris setengah berlari menuruni tangga halaman rumahnya.
"Hati-hati sayang ,ya ampun!"
Divya, dia yang terhenti di anak tangga teratas hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya,Haris berjingkrak bak remaja kasmaran yang mendapat lampu hijau dari gebetannya.
Seperti itukah?
Terimakasih untuk apa ?
"Bocah kasmaran ini membuang waktu ku,lihat ! Aku sudah duduk disini hampir satu jam"
Dengus seseorang di belakang kemudi.
Disambut cengiran khas tuan mudanya yang.
Menjengkelkan !
"Sorry !"
"Sayang,terimakasih untuk tadi malam"
Bisik Haris saat ia meminta Divya mendekat ke arah jendela mobil,bahkan sudah hendak pergi saja ia masih ingin terus berlama-lama disana.
Apa tuan muda tidak melihat kakak iparnya sudah menggelengkan kepala sambil berdecak,Rudi berkali-kali melirik jam tangan dan cermin dashboard bergantian.
"Kita ada meeting penting pagi ini,Ris"
Mulai tak sabar.
"Apa kau sudah selesai?"
Bertanya dengan nada kesal.
"Kau ini seperti hendak pergi ribuan tahun saja,sudah ! Nanti sore juga ketemu lagi "
Rudi melempar tatapan melalui cermin,tangan ia terlipat di depan dada,menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.
"Sebentar !" Haris menepis tatapan Rudi dengan sorot matanya.
"Sayang,sudah berangkat sana !"
Divya juga merasa suaminya sedikit berlebihan.
"Ok,hati-hati di rumah ya.Thankyou muach"
Si lebay ini tak bisa berhenti mengucapakan kalimat itu berkali-kali.
Terimakasih,terimakasih.
Apa itu !
"Iya iya terimakasih terus memang apa yang aku berikan padamu ?"
Ucap Divya kesal juga.
"Sudah,pergi sana" Berucap sambil menahan tersenyum menahan tawa.
"Kau masih mau disini ? Turun !"
Rudi kembali bersuara.
"Hei diam !"
Menggerakkan tangannya,memukul bahu Rudi.
Divya hanya mampu terkekeh melihat keduanya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Rudi mengemudikan mobil walau kepala Haris masih melongok keluar jendela.
"Kau ini,bisa serius tidak?"
.
"Apa?" Jawab Haris mendengus kesal.
"Hei,nanti juga ketemu lagi kan? "
Rudi yang memang mengerti jika sikap Haris seperti itu karena masih ingin mengatakan sesuatu pada adiknya.
Tapi untuk apa toh ia hanya akan pergi bekerja bukan untuk pergi dalam waktu yang lama.
"Bukan begitu,entahlah rasanya tak ingin jauh-jauh dari gadis itu"
"Kau ini kenapa? Jangan aneh-aneh.Tadi itu terimakasih buat apa?"
Tanya Rudi lagi.
"Ishh kakak ipar mau tahu saja,urusan suami istri kau juga paham kan?"
Menjawab rentetan pertanyaan Rudi dengan kalimat yang membuat ia tergelak.
"Tunggu ! Apa Divya sudah~"
."Belum" Memotong cepat perkataan Rudi.
Semalam keduanya memang menghabiskan waktu di kamar atap.
Apa yang mereka lakukan hanya dari kalian yang pernah mengalaminya yang akan paham.
Lalu untuk apa ucapan terimakasih bukankah sudah seperti itu yang terjadi setiap harinya.Mungkin saja ada yang spesial di malam itu,ada yang berbeda dari biasanya.
Haris menampar jalanan dengan terus tersenyum menatap pohon-pohon yang berlarian di pinggir sana,berebut posisi dengan banyak kendaraan.
Pagi hari memang sudah seperti biasa bergulat dengan keramaian Ibukota sudah bukan hal aneh lagi.
Rudi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang tanpa memperdulikan apa yang Haris lakukan di belakang sana.
Hanyut dalam pikirannya sendiri.
Ia terlalu ego jika mengatakan Divya itu baik,sejatinya dia lah yang harus mengerti apa yang sebenarnya dirasakan Divya.Mungkin kebaikannya untuk menutupi rasa sakit,mungkinkah seperti itu ? Atau dia memang benar-benar tulus,memiliki hati seperti malaikat. Faktanya siapapun tidak akan sanggup hidup di bawah bayang-bayang orang lain walau sudah tiada sekalipun.
Sungguh luar biasa jika Divya benar-benar bisa menerima ini dengan lapang dada.
Baru saja beberapa menit yang lalu Haris pergi dia sudah mengirimkan pesan singkat ke ponselnya.
'Jangan lupa nanti malam sayang'
Isi pesan itu lagi-lagi mengingatkan Divya akan janji Haris mengajaknya keluar malam nanti.
'Iya'
'Aku pulang kamu harus sudah siap'
Balasnya lagi.
'Iya sayang,Iya !' Sertakan emoticon love biarkan dia berjingkrak kegirangan di tengah meetingnya.
'Bukankah kau sedang meeting sayang? Matikan ponselmu!'
'Tidak mau ! Biarkan kakakmu yang urus'
Emoticon tertawa ia sertakan.
'Dasar ! Kalau terus mengandalkan kak Rudi kapan kau bisa mengurus semuanya sendiri sayang'
Balasku tak kalah garang dengan Emoticon berapi-api.
'Hahaha. Memang kerjaan Rudi begitu kan'
__ADS_1
Ah sudahlah berdebat dengannya hanya buang-buang waktu saja.
Di geletakannya asal ponsel itu di atas kasur,lalu Divya beranjak keluar kamar lagi.Menuruni tangga,melongok ibu mertuanya yang tadi tak keluar untuk ikut sarapan.
"Divya "
Suara papa Santoso memanggilnya dari arah teras.
"Ya Pa"
Divya berbalik arah berjalan menghampiri ayah mertuanya.
Dilihat Papa Santoso tengah membuka file di tangannya.
"Ya,ada apa Pa.Papa panggil Divya?"
Ucap Divya begitu sudah berdiri di samping Papa Santoso.
"Iya,nak.Duduklah !"
Jawab Santoso melirik kursi kosong.
Bergegas menyelesaikan aktivitasnya memeriksa file,menandatangani lalu meletakkannya di atas meja.
"Divya,Papa ada urusan di luar kota untuk dua hari kedepan,Papa minta tolong untuk jaga Mama kamu"
Terang Santoso mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Mama masih belum makan,coba kamu yang bujuk,nak.Mungkin saja dia mau makan kalau kau yang menyuapi"
"Baik Pa !" Jawab Divya.
"Jangan lupa minta Mama minum obat dan vitaminnya"
"Iya Pa !"
Divya mengangguk paham apa yang disampaikan Papa Santoso.Dia akan dengan senang hati mengurus Rahma,ibu mertuanya yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
"Papa pergi sendiri ? " Tanya Divya kemudian.
"Tidak ! Papa pergi dengan Fram,pamanmu"
"Ah iya kalo begitu,Papa hati-hati.Berangkat jam berapa ?"
"Satu jam lagi Papa berangkat"
Setelahnya Divya pamit ke kamar Mama membawa makanan di atas nampan.
Menyuapinya dengan telaten.
Rahma tersenyum haru,tiada yang lebih membuatnya bahagia melihat putranya bisa bersanding dengan wanita sebaik Divya.
Jika Rahma boleh mengakui,ia merasa malu dengan dirinya sendiri.Bagaimana sikap ia pada gadis di hadapannya ini di awal pernikahan.
"Terimakasih sayang"
Ucap Rahma setelah suapan terakhirnya.
Divya tersenyum seperti biasa.
Senyum yang menyejukkan kalbu.
"Kamu perhatian sekali sama Mama,nak.Padahal Mama kan~"
"Mama ! " Potong Divya cepat.
"Mama itu mama mertua terbaik buat Vya,terlepas dari sikap Mama selama ini Divya ngerti bagaimanapun Haris putra Mama,Mama jauh lebih berhak atas dirinya dibandingkan Vya.
Ibu manapun akan merasa kehilangan begitu putranya mencintai wanita lain di samping ia mencintai ibunya"
Rentet Divya memberi angin segar bagi sang Mama mertua. Ia tahu apa yang ingin Mama ucapkan karnanya ia mengutarakan pendapatnya lebih dulu.
__ADS_1
Karena sejatinya tak ada orangtua yang menginginkan anaknya terjerumus,larut dalam kesedihan.