Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Pergaulan Dimas


__ADS_3

"Kamu itu mau jadi apa Dimas!" Gelegar suara Rudi penuh penekanan.


"Ada apa, Rud?" Fram heran melihat Rudi yang baru saja datang menyeret Dimas masuk ke dalam rumah,mendorongnya hingga tersungkur.


"Ngomong kamu ! Jelasin ke pamanmu kalau kau punya nyali !" Gertak Rudi masih dengan emosi.


"Kak Dimas kenapa kak?" Suara lirih Ameera memecah ketegangan,ia meraih tangan kakaknya membantunya untuk berdiri.


"Cih kau berani berbuat tapi tak berani mengakui,ngomong Dimas !" Sentak Rudi lagi.


"Maaf kak !" Hanya kata itu yang keluar .


"Maaf ?!" Berdecak menggelengkan kepala tak percaya adik laki-lakinya yang terbilang pintar,dan penurut bisa seperti sekarang." Sudah kau pikirkan apa yang akan terjadi jika kakakmu tahu hal ini ! Divya pasti akan sangat kecewa." Rudi menggeleng frustasi,ia mengacak rambutnya sendiri,lantas membantingkan tubuhnya di atas sofa.


Bahkan sofa saja rasanya keras kalau sedang kesal.


"Tunggu,tunggu ! ini ada apa sebenarnya,Rud" Kali ini Mama Rita yang penasaran.Apa gerangan yang membuat Rudi tiba-tiba datang dengan emosi meledak-ledak.


Rita tahu bagaimana putranya,ia selalu bersikap bijaksana layaknya Fram sang ayah.Rudi tidak akan semarah ini jika Dimas tidak melakukan hal di luar batas.


"Cium saja aroma mulutnya !" Rudi mendelik,Dimas memalingkan wajah ketika Fram mendekatinya.


"Kakak bau alkohol" Dengan polosnya Ameera menutup hidung.


"Ameera yang masih bocah saja tahu itu bau apa" Rudi tersenyum sinis.


"Kamu mabok Dimas?" Tanya Fram,Dimas menunduk.


"Hei jawab !" Suara dentum meja yang di gebrak Rudi.


"Sabar,Rud !" Rita melerai. " Ayo duduk dulu sini,bicara baik-baik" Ajak Rita.


"Ayo kak,duduk !" Bisik Ameera,memapah langkah kakaknya.


Meskipun takut Dimas melangkahkan kakinya duduk di sofa.


"Maaf kak,aku tahu aku salah.Aku minta maaf kak" Lirih Dimas memohon.


"Bukan masalah di maafkan atau tidaknya,tapi bagaimana tanggung jawabmu terhadap dirimu sendiri,masa depan kamu" Jelas Fram menasehati,"Dimas,ayahmu menitipkan kalian kepada paman,jadi sudah tanggung jawab paman menasehati mu.Tolong jangan buat kami kecewa"


***


Bukan perkara jaman ,sekarang atau pun dulu semua sama .Pergaulan adalah gambaran masa depanmu.

__ADS_1


Kalau kalian memilih berada diantara kotoran maka akan ikut tercium baunya,sebaliknya jika kalian memilih berada diantara bunga-bunga maka akan tertular harumnya.


Malam itu Rudi sengaja pulang melewati sebuah bar.


Bar yang di kenal paling populer di pusat Kota ini.


Ia teringat perkataan Divya tempo hari


yang mengatakan jika akhir-akhir ini Dimas berubah.Ia jadi lebih sering pulang malam atau bahkan tidak pulang sama sekali.


Sebagai seorang yang merasa bertanggung jawab Rudi ingin memastikan sendiri apa yang dilakukan adiknya di luar rumah.


Ia memarkirkan mobilnya,lalu masuk bar tanpa keraguan.Menelisik setiap sudut ruangan mencari keberadaan Dimas diantara banyaknya manusia yang tengah asik dengan dunia maksiat mereka.


Benar saja,Rudi mendapati Dimas bersama teman-temannya tengah asik menenggak alkohol duduk di sofa di sudut ruangan.


Ia sengaja membiarkan Dimas beberapa saat sembari mendengar apa saja yang di bicarakan kerumunan remaja itu.


"Dim,gue punya barang bagus.Cobain nih !" Seorang temannya menyodorkan sesuatu ke tangan Dimas.


"Apa nih?" Dimas nampak mengernyitkan dahinya,melihat pil yang temannya itu berikan.


Sesuatu yang tidak pernah ia sentuh selama ini.


"Cobain aja,efeknya luar biasa men" Imbuh cowok berambut pirang itu.


"Gak lah gue gak berani minum gituan,ini aja udah keleyengan" Mengurut kepalanya sendiri merasakan efek minuman beralkohol yang ia minum,mungkin terlalu banyak.


"Lagian kalau keluarga gue sampe tahu,bisa ****** gue" Dimas masih berdalih.


"Ya elah kolot banget sih,Dim. Jangan sampe tahu lah,bisa kan?"


"Kalau ketagihan?" Sanggah Dimas.


"Gak bakalan,serius gue" Lagi-lagi si pirang menyakinkan.Bujukan setan kadang jauh lebih kuat dari pertahanan apapun,apalagi di tempat seperti ini yang isinya itu titisan setan semua .


Setelah menimbang ulang keputusan,Dimas mencoba mendekatkan pil itu di hadapan wajahnya.Melihat benda mungil itu membuat bayangan kak Divya berseliweran di dalam otaknya.


Ia segera menepis.Namun,si pirang itu malah mendekatkan tangan Dimas ke mulutnya.


Sigap ,Rudi yang sedang memerhatikan mereka menepis tangan itu hingga benda kecil yang di genggamnya ikut terpental entah kemana.


Dimas terperangah tak percaya dengan apa yang dilihat.

__ADS_1


Rudi kakak sepupunya sudah berdiri tegak di hadapannya.


Melayangkan satu pukulan lalu menyeret Dimas keluar bar.


Baru saja ketiga temannya itu mau membantu Dimas,mereka kembali mundur ketika Dimas mengatakan sesuatu.


"Kak Rudi ! Sorry kak" Mendengar kata kak,pikiran mereka langsung sejalan.Jika,pria yang memukulnya itu keluarga dari Dimas dan bukan orang yang mau mencari masalah dengannya.


Si rambut pirang mengangkat tangannya ke udara.


"Stop ! Itu urusan keluarga.Kita gak perlu ikut campur"


"Apes banget jadi si Dimas baru mau nyoba udah ketahuan" Celetuk salah satu temannya.


"Tapi,tunggu gue kayak pernah lihat tu cowok yang bawa Dimas,siapa ya?"


"Au nanya gue,mana gue tau.Udin lah kaga usah dipikirin,minum lagi nih" Dan dengan bersamaan musik kembali berdentum keras setelah terhenti sejenak karena adanya keributan.


***


"Kalau soal minuman beralkohol,kakak masih bisa terima, Dim. Tapi,kamu itu mau nyoba-nyoba minum barang terlarang,itu masalahnya." Rudi kembali bersuara memecah keheningan setelah untuk beberapa saat ia mengatur emosinya "Kamu itu mau ngerusak masa depan kamu,iya?!"


Dimas terdiam menunduk. " Kakak gak bisa janji nyembunyiin ini dari Divya" Dimas mendongak mendengar nama kakak perempuannya disebut.


"Jangan,kak.Dimas mohon Dimas janji gak bakalan ngulangin lagi,beberan kak !" Dimas bahkan sampai bersumpah.


"Jangan lupa posisi Haris,dia tidak akan mengampuni mu kalau dia tahu hal ini.Satu lagi kakak bisa saja menyita motor pemberian Haris,kamu pikir kakak gak tahu kalau motor itu kamu pake buat balapan liar.Iya kan?!" Satu lagi kesalahan Dimas yang terbongkar membuatnya semakin terpojok.


"Maaf,kak.Jangan kasih tahu kakak ipar" Dia berlutut di hadapan Rudi.


Dimas mendapatkan hadiah ulang tahun seminggu yang lalu dari Haris berupa motor sport keluaran terbaru.


Ulang tahunnya yang ke-23 jatuh sehari sebelum Kakak dan kakak ipar nya berangkat ke London.


Saat Haris menawarinya mobil baru Dimas justru memilih motor.


Jangan tanya bagaimana reaksi Divya mendengar hadiah yang di tawarkan suaminya untuk adik laki-lakinya itu,ia bahkan sampai mengurut kening sendiri mengingat itu hadiah yang paling tidak masuk di akal pikirannya.


Apa itu tidak berlebihan.


"Aku gak enak sama mama papa kamu sayang" Alasan itu yang ia utarakan.Namun,tidak membuat niat Haris luntur.Untuk apa merasa tidak enak Dimas adikku juga,kan.Kalau perlu aku kasih rumah buat dia.Begitu ia berpikir.


Aaa mau dong jadi adik iparmu Tuan muda.

__ADS_1


__ADS_2