Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Pengantin Baru


__ADS_3

Divya pun keluar kamar setelah mandi dan berganti pakaian, meninggalkan Haris yang kembali merebahkan tubuhnya.


Ia turun dan berjalan menuju dapur.


Dilihatnya mbok Jum sedang memasak bersama para pelayan lainnya.


"Ada yang bisa Divya bantu ,Mbok ?" Divya bertanya pada mbok Jum. Ia berdiri di samping meja dapur.


"Eh Non, jangan kesini kotor ! Bau dapur ." mbok Jum mengelap tangan lalu menghampiri Nona mudanya,


" Non ,pagi -pagi sudah bangun, pengantin baru mah di kamar saja non" mbok Jum tersenyum menggoda.


Eh eh apa ini? ngapain di kamar.


"Ah si mbok,memangnya gak pegel apa di kamar terus kan bosen" Divya merasa malu ,bahkan sekarang mungkin pipinya sudah merona merah.


Salah gak ya aku jawab pegel, hehe


pegel ngapain, coba !


"Eh si Non mah,namanya juga pengantin baru, wis non tunggu di meja makan saja ,sebentar lagi siap. Biar si mbok sama pelayan yang masak, " Mbok Jum meminta Divya menunggu di meja makan.


Dengan pasrah Divya melangkah menuju meja makan. Padahal dia sangat ingin sekali ikut membantu pekerjaan di rumah ini. Ikut masak seperti yang biasa dia lakukan saat Ayahnya masih hidup.


Sudah sejak tinggal di rumah paman dan bibinya dirinya sudah tidak pernah menyentuh dapur. Seperti ini rupanya kehidupan orang kaya. Apapun itu tinggal meminta pelayan melakukannya. Tidak harus bersusah payah mengerjakannya, semua sudah tersedia.


Tak berselang lama, Papa dan mama mertuanya pun datang setelah makanan tertata rapih. Saat itu Divya masih berdiri di depan sebuah aquarium di dekat meja makan, ia nampak takjub melihat ikan - ikan berenang kesana kemari dengan lincahnya .


Tatapan hangat tuan Santoso saat melihat Divya menantunya, berbanding terbalik dengan tatapan nyonya Rahma Santoso. Beliau masih nampak tidak senang


melihat gadis itu .


Apa semua ibu mertua seperti ini ?


"Duduklah, nak !" tuan Santoso meminta Divya duduk di sisi kirinya.


"Mana Haris...?" tanyanya kemudian sesaat setelah Divya duduk di kursi yang ditunjuknya.

__ADS_1


" Masih di kamar,tuan. " Divya nampak ragu menjawab. Ia bahkan masih memanggil Papa mertuanya dengan sebutan 'tuan '


"Loh kok tuan, panggil Papa dan Mama seperti Haris" pinta tuan Santoso dengan senyum ramahnya.


"Betul kan, Ma...?! " Santoso pun meminta pendapat istrinya.


Nyonya justru terlihat mengerlingkan mata penuh kebencian meski bibirnya mengatakan "Ya".


"Kenapa masih belum turun apa dia masih tidur?"


"Tadi saat Divya turun sih memang masih tidur,Pah" jawab Divya sejujurnya.


"Ya sudah panggil dulu suami mu untuk sarapan !" titah tuan Santoso.


"Baik,Pah," baru saja Divya hendak melangkah untuk memanggil Haris turun. Namun, mbok Jum sudah datang dengan nampan penuh makanan.


"Tuan muda ingin sarapan di kamarnya tuan." Mbok jum ,dia menunduk hormat.


"Ya sudah biarkan saja !" Santoso mengerti,memang sejak berselisih dengan ibunya Haris sudah jarang sekali makan bersama,lebih -lebih kalau ibunya ada di rumah.


"Temani dia nak !" beliau pun


Gadis itu lantas mengangguk.


"Sini mbok,biar Divya saja yang bawa ke atas," Divya meraih nampan dari tangan mbok Jum.


"Tapi Non,tidak usah biar bibi saja yang bawa. " Mbok jum menolak.


"Gak apa-apa mbok, biar aku saja." Divya kekeuh memaksa.


Divya membawa makanan itu ke kamar,ia bahkan hanya begitu saja masuk kamar tanpa mengetuk pintu.


Eh di mana dia


kenapa tidak ada.


apa masih di kamar mandi ya ?

__ADS_1


Divya menyimpan makanan di meja,ia beranjak ke ranjang tempat tidur yang masih berantakan, melipat selimut dan


merapihkannya.


Tanpa Divya sadari Haris sudah berdiri di belakangnya hanya memakai handuk yang terlilit di pinggang.


Saat bersamaan Divya berbalik badan,dan Ya ! Mereka berhadapan.


Divya ,gadis itu sampai kikuk melihat penampakan di depan matanya.


Apa sih dia tiba-tiba di belakang ku begini.


"Saya membawa sarapan tuan," Haris mendelik.


"Eh suamiku maksudnya, " Divya yang mengerti arti tatapan tidak suka yang Haris tunjukkan pun mengubah panggilannya terhadap pria galak itu.


Ia menunduk malu berusaha menyembunyikan wajahnya.


Mata suci ku ternodai, Tuhan!


"Ya,tunggu aku di sofa !" jawab Haris, meminta Divya menunggunya di sofa selagi ia memakai pakaian. Namun, Haris tidak beranjak sedikitpun ia masih tetap berdiri di tempatnya .


Divya yang hendak pergi menuju sofa malah dihalanginya.


Divya bergerak ke kanan Haris mengikuti sambil tersenyum menyeringai. Seperti harimau mendapatkan mangsanya.


Begitupun sebaliknya saat Divya melangkah ke kiri.


Sampai akhirnya gadis itu mendorong tubuh Haris pelan sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Hei siapkan baju ku !"pinta Haris


"Kau bilang aku harus menunggu mu di sofa untuk sarapan, " gadis yang memang pintar menjawab itupun menolaknya.


"Ah iya iya tuan .Tuan Suami !" Divya


bergegas menuju ruang ganti mengambilkan pakaian Haris, saat dia mendekati sofa dengan senyum mencurigakan.

__ADS_1


Aaa mau apa dia senyum begitu.


__ADS_2