Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Menjual Saham


__ADS_3

Selaras dengan pemikiran Haris. Semua tuduhannya, kecurigaan -nya. Rasa cemburu -nya. Bukan tanpa alasan.


Benar, ia melihat cinta di mata Pranando untuk istrinya.


Haris mengusak file di meja kerja mambanting apa saja yang ada.


Divya istrinya mungkin bisa di percaya, tapi bagaimana dengan pria itu.


Kurang ajar.


Hilang sudah konsentrasi Haris.Mengacak rambut dengan tak henti mengumpat.


Sialan!


Brengsek!


Bodoh!


"Biarkan dia sayang, yang terpenting aku tidak melayaninya kan? "


Perkataan Divya semalam memang ada benarnya. Cih dia tidak memikirkan perasaan istrinya apa.


Se-brengsek brengseknya Haris ia tidak akan pernah tega menduakan perasaan dengan wanita lain.


Kalaupun ya ! Itu dengan Marisa yang sudah tiada. Sekarang tidak lagi.


Hanya ada Divya Veronika di lubuk hatinya. Pria macam apa Pranando.


Naif !


Tok. Tok. Tok


Suara pintu di ketuk membuyarkan segala pikiran Haris. Ia menatap iba pada semua barang tak berdosa yang ia lempar tadi lalu menatap pintu yang masih belum terbuka.


"Masuk ! "


Dengan suara lemah menahan emosi,Haris menyuruh seseorang yang berada di luar ruangannya untuk masuk.


"Huh ," Haris menghela nafas kasar begitu melihat siapa yang memasuki ruangannya.


"Kalian, ada apa? "


Rudi yang datang diikuti Dimas di belakangnya tak lantas menjawab.


Mereka tertegun ,lalu saling memandang begitu melihat keadaan ruangan Haris yang berantakan.


Kacau !


Apa ini ?


Apa yang si payah ini lakukan. Dia tengah melampiaskan kekesalan atau merutuki kebodohannya sendiri.


Malam saat nyonya Riska Wiryawan tiada. Rudi memang absen dari menghadiri pemakaman karena baby g**irl -nya yang sakit.


Apa yang terjadi disana ia tidak tahu.


Dan yang Rudi tahu saat ini, ia datang untuk berita paling heboh.Menurutnya begitu.


"Baca ini ! "

__ADS_1


Tanpa basa basi Rudi melempar berkas ke hadapan Haris. Yang tentu saja membuat pria itu mendengus.


Ia menerima lantas membaca isinya.Matanya sukses membulat sempurna begitu melihat tulisan tinta hitam di atas kertas putih yang menyatakan bahwa itu,


"Berkas pengajuan penjualan saham Wiryawan group ? "


tanya Haris setelah beberapa saat membaca berkas tersebut.


"Ya ! "


"Dia mulai menjual aset setelah ibunya meninggal? Secepat itu? Tanah makam tante Riska bahkan masih basah. "


"Dia manusia atau apa? Perusahaan Om Wiryawan di bangun susah payah oleh -nya dan pria itu seenak jidat mau menjualnya. Gila ! "


Segala komentar negatif dan pertanyaan keluar dari mulut Haris.


Memang pantas begitu jika menilik dari satu sudut pandang. Tapi, bagaimana jika sudut pandang Haris justru salah. Mungkin saja ada alasan lain mengapa Pranando hendak menjualnya.


"Kak Nando. Maksud ku tuan Pranando ,dia ~"


Ragu Dimas hendak mengutarakan apa yang ia ketahui.


"Apa? " tukas Haris dengan tidak sabarnya ingin mendengar kejelasan.


"Dia mau pindah ke Singapura kak,"


"Mau menjalankan usaha barunya disana, entahlah tapi itu yang aku dengar. "


Penjelasan Dimas cukup masuk akal. Dia ingin menghindari Haris dan keluarga-nya terutama untuk menghindari Divya.Lalu kenapa dia tidak melakukan itu dari sejak lama.


Spekulasi muncul di otak cemerlang Rudi, dia tahu apa di perkirakannya pastilah benar.


"Tidak mungkin Pranando menawarkan itu pada ku, pastilah dia datang kesini. Dia tahu betul perusahaan ku tidak mungkin sanggup membeli perusahaan Om Wiryawan . Dan yang bisa melakukan itu hanya dirimu. "


"Kau bertemu dengannya? "


Haris justru menanyakan hal itu setelah Rudi mengatakan segala pendapatnya.


"Tidak. Manajernya yang datang" jawab Rudi.


"Suruh dia menemui ku sekarang! "


perintahnya kemudian. Dimas yang mengerti itu sigap menelepon Pranando agar bisa menemui Kakak iparnya siang ini juga.


***


Dengan perasaan berkecamuk Pranando menutup telpon ,mengembalikan ponsel ke atas nakas. Lalu termenung.


Haruskah ia menemui Haris.


Pranando mengusap sudut bibirnya yang masih lebam.


Untuk apa? Menyerahkan diri pada monster itu, memikirkan hal itu membuatnya menghela nafas berat.


"Ada apa? "


Begitu suara yang selalu terdengar lembut sekalipun di ucapkan ketika si pemilik tengah kesal.Raisa.


Wajah datar tanpa ekspresi tengah menggendong si buah hati.

__ADS_1


Tertegun melihat suaminya duduk tertunduk di tepian ranjang.


"Haris meminta ku menemuinya di kantor." ucapnya lantas mendongak dan tersenyum,Pranando mengambil alih baby Rey dari tangan Mama-nya. Beranjak dan mulai menimang.


"Lalu? "


Tanggapan Raisa sambil kedua tangannya sibuk membereskan tempat tidur.Ya ! Waktu sudah pukul sebelas siang namun Pranando baru terbangun dari alam mimpi. Pagi tadi ia sudah menugaskan manajernya untuk menemui Rudi.


Ia tengah bermalas-malasan hari ini. Kejadian dua hari lalu membuatnya enggan bertemu orang luar,siapapun itu.


"Aku~ Malas bertemu dia"


jawab Pranando dengan tangan terus memainkan mainan baby Rey di hadapan wajah putra kecilnya yang tampan, lucu dan menggemaskan itu.


Bayi berusia tujuh bulan dengan berat badan sembilan kilogram itu cukup membuat pegal kala menggendongnya.


Ditambah pipi super gembil yang membuat siapa saja ingin mencubitnya gemas.


"Kenapa? Takut? "


Pranando berbalik mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut istrinya seakan mengejek .


"Tidak, eum. Untuk apa aku takut! "


jawab Pranando menyangkal tuduhan Raisa.


"Ya sudah temui saja, toh itu yang kau inginkan kan? Manjual saham perusahaan dan pergi jauh dari sini.


Kenapa sekarang ragu. Berhentilah berharap. Tidak ada gunanya melawan tuan Haris. Kau tahu itu ! "


Penuturan Raisa memang benar, tidak ada gunanya melawan Haris.Pria itu tidak akan mengampuni Pranando selama dia masih berkeliaran di sekitar keluarganya.


Pranando sudah di beri jalan. Sebelum Riska Wiryawan ibu angkatnya itu meninggal ia meminta Pranando memindahkan aset perusahaan ke Singapura, menetaplah disana dan hidup bahagia.


Jangan pernah kembali jika kau belum bisa mengendalikan diri. Cintai dan sayangi anak serta istri mu. Itulah yang di ucapkannya. Ungkapan kasih sayang seorang Ibu yang tak ingin melihat putranya terus hancur.


Setelah segala kebimbangan melanda Pranando bergegas mandi dan berganti pakaian. Ia memutuskan untuk menyelesaikan semua masalahnya hari ini juga.


Kalaupun ia harus pulang dengan wajah bonyok setidaknya ada itikad baik darinya untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan seorang Haris Santoso, berurusan dengannya bisa berbuntut panjang. Seperti sekarang, jika saja bukan Divya yang meminta mungkin Haris sudah akan menghabisinya.


Sepanjang mengemudikan mobilnya, Pranando tak henti memikirkan apa yang akan ia katakan di hadapan Haris nanti.Bagaimana harus menjawabnya jika ia bertanya.


Hingga sampailah ia di depan pintu ruangan Haris. Dengan ragu Pranando mengangkat tangan ke udara, mengetuk benda tinggi menjulang di hadapannya.


Ketiga pria di dalam sudah menunggu dan siap menghabisinya.


"Aku masuk ke kandang kawanan srigala atau macan ini, tatapan mereka saja sudah merontokan nyali ku. Apa kabar jika mereka mulai mencakar. Habislah aku hari ini juga"


gumam hati Pranando ,rahangnya mengeras terasa sulit baginya hanya sekedar untuk menelan ludah.


Diantara mereka bertiga hanya tatapan Dimas yang sedikit bersahabat. Dan dia lah yang pertama menyapa-nya.


Meminta ia masuk dan duduk.


Belum sempat Pranando menempatkan dirinya di sofa. Haris sudah bersuara. Menggeram bagai singa.


Keluar dengan leher atau tangan yang patah. Dua duanya bukan pilihan yang bijak. Pranando menghela nafas.


Meraup udara banyak meredam segala ketakutannya

__ADS_1


__ADS_2