Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Empat tahun berlalu


__ADS_3

Empat tahun berlalu begitu saja tanpa Haris saksikan.Dan sekarang kenyataan di depan mata justru membuatnya bingung.


Kejutan apa ini ? Satu pertanyaan dalam benaknya.


Yang pasti Haris tahu jika Divya masih sebagai istrinya saat ini.


Setelah lama tak bersua keduanya melepas rindu.Adakah penjelasan untuk ini?


Bagaimana semua bisa berjalan lurus padahal ada banyak masalah sebelumnya.


"Aku membalasmu Tuan"


Seru Nando melingkarkan tangannya di pundak Divya.


Setelah selesai dan semua tamu undangan pulang.


"Maaf maaf ! " Dia tersenyum lebih tepatnya sih mungkin nyengir saat Haris menatap tangannya dengan tatapan tidak suka.


"Bukankah ini kejutan ? Apa kau terkejut,tuan ? Dulu kau memberiku kejutan ini,kau ingat?


Bedanya~ dulu kau membuat ku menangis,tapi aku membuatmu tersenyum tuan,berterimakasih lah padaku"


Tangan Nando kini beralih merangkul pinggang Raisa.Ia tertawa kecil,tawa yang di sambut pukulan ringan dari Raisa di dadanya.


Hidup memang aneh,berapa lama Haris terbaring hingga sulit memahami semua ini.Dia bahkan mempunyai seorang putri kecil yang cantik.Dan melewatkan tumbuh kembangnya begitu saja.


"Tunggu ! Ini semua siapa yang merencanakan ?"


Haris sebenarnya sudah bisa menebak siapa,pelakunya tidak ada disini.Dia pasti sedang sembunyi sambil tertawa.


"Siapa lagi kalau bukan~"


"Aku !" Jawab seseorang dibalik punggung Haris.


Nyatanya memang Rudi yang merencanakan semua ini,pantas saja dia meminta Haris cepat-cepat datang ke tempat ini.


Rudi,dia sudah tidak lagi menjabat sebagai sekretaris di perusahaan Haris sejak laki-laki itu kecelakaan.


Dan selama Haris terbaring koma Divya lah yang memegang kendali perusahaan tersebut.Kenyataannya dia memang cerdas.Bukan wanita bodoh yang berdiri di pinggir genangan air lalu mencari keributan dengan pimpinan perusahaan yang hendak ia temui.Bukan pula gadis bodoh yang ketakutan kala pria seperti Haris memojokannya ke tepi danau.


Haris ,dia tersenyum menatap sebuah kenyataan.Ada banyak yang tidak ia ketahui selama ini.Dia lah yang bodoh karena tak memahami Ibunda-nya sendiri.Wanita yang melahirkan nya itu di penuhi dendam akibat masalalu yang kejam.


"Apa kau bisa memaafkan ayahku seperti aku menerima perlakuan mama terhadap keluarga ku,sayang ?"


Duduk berdua di atas sofa, di sebuah ruangan dengan pemanas suhu ,hawa dingin yang menembus lapisan tebal bahkan menusuk sampai ke tulang.Saat ini musim salju sedang mencapai puncak terparahnya.


Deretan tiga rumah itu di huni tiga keluarga.Haris,Divya dan Marisa.


Lalu Pranando dengan anggota keluarganya sendiri,Rudi menyusul dengan anak dan istrinya menempati rumah rumah kecil bercerobong asap.


"Heum,entah siapa yang salah disini tapi takdir mempertemukan kita berdua ,satu hal yang tidak akan aku sesali seumur hidup yaitu menikahi mu"


Divya tersenyum bahagia mendengar jawaban Haris,bahu nyaman yang ia rindukan kini kembali kepadanya,bersandar dengan belaian lembut si pemilik hati.

__ADS_1


Terdiam berdua merasai dinginnya udara malam.Divya semakin mengeratkan pelukannya, pun Haris juga begitu.Sama-sama mendekap,mengalirkan hawa panas di tubuh mereka.


Saling menghangatkan.


Selama ini dia hanya bisa memeluk Haris bagai guling tak bernyawa.


Tidur berdua namun seakan sendiri menatap wajah yang tak pernah tersenyum, jangankan tersenyum mengedipkan mata pun ia tak mampu.


Bertahun-tahun Haris terbaring di kamarnya,dengan segala peralatan medis menempel dan melingkar di tubuhnya.Tubuh kekar itu nyata semakin kurus dari hari ke hari.


Peluh dan tetesan airmata Divya tak jua membangunkannya.


Lagi ! Saat Haris membuka mata justru Divya tak ada di sisinya.Tuhan menakdirkannya berjalan seperti ini.


"Ada yang belum aku jelaskan padamu sayang"


Haris menyentuh pipi dari wajah yang selama ini menghiasi mimpi di alam bawah sadarnya.Ia terbangun seakan tak lagi mendapati isak tangis istri di sampingnya.


Percayalah jika Haris pun menangis bersama disana,berteriak meminta separuh nyawa nya yang hilang agar segera kembali.


Kini ia mengambil jarak pandangan dengan wanita-nya. Meraih tengkuk hangat itu dan mencecap bibir manisnya.


"Apa yang belum kau jelaskan?"


Begitu pagutan mereka terlepas,diiringi senyum serta rona merah di pipi Divya.


"Tentang Amanda,gadis itu ~"


"Aku tahu !"


"Tidak perlu lagi karena aku sudah tahu semuanya"


Jawab Divya yakin.


"Kau tahu ?" Tangannya menelusuri gadis wajah Divya.


"Heum,kau kesini tanpa melihat tanggal,sayang ? Ini sudah empat tahun bagaimana mungkin aku tidak tahu siapa Amanda kecilmu itu.Dia selalu datang tiap dua hari sekali memeriksa mu,dia datang bersama ibunya juga"


"Eum ya kau benar aku melewatkan banyak kejadian"


Tatapan sayu diiringi kecupan hangat di dahi bidadari hati.Bersyukur masih diberikan kesempatan hidup untuk kesekian kalinya.Menatap dan menyentuhnya seperti mimpi yang menjadi nyata.


"Tidur ? "


Divya mengangguk menyambut uluran tangan Haris.


Sampai di kamar,betapa ia terkejut saat baru saja membuka pintu.


Ada ratu penguasa duduk bersandar di tepian ranjang,kaki lurus bertumpang dengan tangan terlipat di dada.


Sejenak Haris menghentikan langkah menilik kelakuan putri kecilnya.


"Ada apa ?" Divya yang melongok dari belakang pundak Haris pun heran.

__ADS_1


"Lihat putri kita" Menunjuk dengan gerakan halisnya yang terangkat naik.


"Sayang,anak bunda kenapa belum tidur?"


Tanya Divya bergegas menghampiri putrinya.


"Aku tidak bisa tidur bunda.Kenapa Papa tidak menelepon ku seperti biasa saat aku mau tidur?"


Rengek gadis kecil itu sembari memberenggut kesal.


"Kan sekarang ada Ayah,kenapa masih harus menelpon Papa sih,Ayah juga bisa bacakan dongeng untukmu"


"Jadi Om jelek ini ayahku?"


Dengan tingkah lucunya Marisa menunjuk Haris dengan sebutan itu.


"Om jelek? Tadi kau bilang aku ini tampan.Bagaimana kenapa tidak konsisten !"


Protes Haris.


"Konsisten itu apa bunda ?"


"Ayah bicaranya bahasa anak kecil dong,Ica kan masih anak-anak.Mana paham !"


Jawab sang bunda mengkritik bahasa suaminya itu.


"Jadi panggilan mu Ica ?"


"Iya Ayah,panggil aku Ica" Divya menirukan suara Marisa kecil.


"Papa itu siapa?" Tanya Haris lagi.


"Papa Nando,papa baik ,papa ganteng"


Haris memberenggut mendengar itu dari mulut anaknya.Tidak terima.


"Dia memanggil pria itu Papa ?!"


"Seperti Amanda memanggil mu Papa.Tidak ada yang salah,kan? Marisa kita ini butuh sosok ayah,walaupun dia tahu kau terbaring tapi dia butuh ayah yang selalu bisa diajaknya bercanda dan bermain"


"Pranando selalu ada untuk itu.Sebelum dia menikah dua tahun lalu dia sering datang ke rumah,menengok mu dan bermain bersama anak kita,Marisa juga sangat senang karena dia punya kakak seperti Melodi"


"Heum begitu ya,kalau Marisa tahu aku ini ayahmu lantas kenapa di taman kau tidak mengenali ayah?"


Tanya Haris,terheran heran.


"Ohoo Ayah ku yang pemalas kau pikir hanya bunda ku yang pintar ber-akting,aku juga bisa ! Akting ku bagus kan ?"


Seperti sang ayah yang selalu menggerakkan halis sebagai ciri khas-nya begitupun Marisa kecil.


Lihat mata dan hidungnya mirip sekali Haris.


Lantas kedua orang tua itu tergelak dibuatnya.

__ADS_1


"Kenapa ayah pemalas ?"


__ADS_2