
Dalam kekalutan Marisa pergi dari Villa.Ia melajukan mobilnya secara gila.
Entah apa yang harus ia hadapi besok.
Tak satu pun jalan keluar yang ia temukan. Hingga akhirnya ia justru terus menangis. Mengapa hidup dan percintaannya serumit ini.
Bukan lagi cinta segitiga tapi mungkin lebih dari itu. Anita sahabatnya sendiri mencintai Reno yang mereka kenal empat tahun lalu.
Dan sekarang ia mendapati kenyataan jika selama itu pula Reno menjaganya bukan semata-mata karena baktinya terhadap sang ayah. Melainkan karena cinta. Cinta Reno kepada dirinya.
Jika Reno benar mencintainya sejak empat tahun lalu. Mengapa ia tak pernah mengatakannya. Dan ya !
Selama empat tahun itu bahkan Marisa tiga kali berganti kekasih. Dan tiga-tiganya adik kelas atau juniornya sendiri.
Hazlan. Tiba-tiba saja Marisa ingat pemuda itu. Ia melirik jam di dasboard mobilnya sudah menunjukkan pukul sebelas dua puluh malam.Tidak mungkin ia menemui Haz selarut ini.
Terlebih ia hanya memakai piyama tidur dengan bagian dada dan paha yang terbuka.
Sial !
Saat ia pergi yang bahkan tidak membawa ponsel dan satu sen pun uang. Yang Marisa ingat hanya kunci mobil yang ia titipkan di satpam penjaga Villa. Karenanya ia pergi begitu saja tanpa memberi tahukan pada yang lainnya.
Mobil terus melaju cepat di atas hamparan aspal hitam. Jalanan pedesaan yang sunyi senyam. Temarang lampu remang remang.
Marisa terus menerobos dinginnya udara malam. Tidak ada jaket di mobilnya.
Pesantren tempat Haz tinggalpun sudah ia lewati. Kini jalanan yang makin sepi yang akan ia lalui. Kemana?
Ia bahkan tak mengenal tempat ini.
Tepat di persimpangan ia melihat sekumpulan remaja tengah berpesta.
Di bangunan mirip gazebo itu ada beberapa pemuda dan salah satunya tak asing bagi Marisa.
Mobilnya berhenti tepat di seberang jalan. Ia melihat dari kejauhan.
Benar, itu Fadlan. Sedang apa tengah malam begini. Sebagai anak seorang ustadt seharusnya ia tengah berada di dalam masjid saat ini.
Tapi, dia malah berpesta dengan para teman berandalnya itu.
Sesaat Fadlan melihat mobil Marisa,apalagi dia yang memang membuka sebagian kaca memperlihatkan wajah cantiknya.
Tanpa polesan sedikit pun, Marisa terlihat begitu manis.
"Eh tunggu! " teriak Fadlan ketika Marisa menutup kembali kaca mobilnya.
Terlebih ketika Marisa hendak melajukan kendaraannya, ia menghadang dari depan. Menggebrak pelan bagian depan mobil itu, meminta Marisa keluar.
__ADS_1
Dengan ragu Marisa pun keluar dari mobilnya. Ia terlihat beberapa kali membenarkan baju bagian dadanya.
Dimana bagian itulah yang menjadi titik pusat tatapan Fadlan. Ia tersenyum menyeringai. Berbeda dengan Haz, yang bahkan tidak menerima jabat tangan dengan yang bukan mahramnya. Apalagi menatap seperti itu. Sekedar melirik pun tidak.
Astagfirullah, aku gak lagi datang ke kandang singa kan?
Bisik hatinya mengatakan demikian ketika Fadlan menyeretnya ke kerumunan anak-anak berandal itu.
"Lo cantik juga ya kalo begini,
seksi. " senyum menggoda Fadlan tunjukkan. Dari perkataannya saja bocah tengil ini sudah menyulut rasa jengkel di benak Marisa yang memang tengah tidak bersahabat.
Marisa menutupi apa yang bisa ia tutupi dengan tangannya. Ada empat pemuda lain yang menyorotinya denga tatapan menggairahkan. Seakan mengulitinya yang bahkan hanya berbalut helai tipis.
"Itu temem-temen lo suruh ngedip apa! "
dengus Marisa yang semakin merasa risih. Dan tadi kenapa dia mau saja di ajak turun dari mobil dan malah berdiri di tempat seperti ini.
"Hahaha. Bisa risih juga cewek kayak lo. Bukannya seneng ya, apa yang lo perlihatkan justru jadi tontonan. "
Marisa sadar dan paham betul dengan maksud dari perkataan Fadlan barusan.
"Gue lagi kesel, makanya keluar dari Villa kayak gini. " ucap Marisa masih dengan nada ketusnya.
"Padahal tiap pagi lo datang ke pesantren bokap gue gak pernah kayak gini. Hahaha" keempat temannya pun ikut terbahak.
"Gue udah bilang, kan, tadi. Gue lagi kesel makanya pergi dari Villa buru-buru terus juga gak bilang-bilang. Gak bawa apa-apa. Hape lagi di Changer. Duit juga gak bawa. Mana haus lagi. " tampang memelas Marisa justru membuat Fadlan semakin tertarik menggodanya.
"Nih, lo haus, kan? Minum ! "
"Enggak ! Apaan. " Marisa mendorong botol minuman yang Fadlan sodorkan.
Minuman beralkohol yang ia tawarkan.
"Sedikit, enak kok ini." Fadlan masih merayunya agar Marisa tergiur untuk meminum itu sedikit saja.
"Gue bilang enggak ya enggak ! Gue mau balik." Marisa sudah hendak berlalu namun lengannya tertahan cengkraman tangan Fadlan.
" Tunggu dong, buru -buru banget sih. " tampak senyumnya lagi seperti tadi. Memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Marisa menatap tangan Fadlan dengan. tatapan tidak suka.
"Mau?" Dia menggerakkan halis naik turun. Menyodorkan sebatang rokok.
"Gue gak merokok! "
"Yakin ? Gue sih gak yakin cewek kayak lo gak merokok ."
__ADS_1
"Terserah. Yang jelas gue gak minum gituan sama gak ngeroko. Tahu kenapa? Karena gue tuh dokter, itu semua tuh cuman datangin penyakit. " solot Marisa dengan jengkel ia menepis botol minuman yang kembali Fadlan berikan.
"Ya elah, iya iya bu dokter. Gue tahu lo dokter. Gue juga tahu lo anak siapa. Jadi gak usah takut. Kalo lo bete di Villa datang aja kesini. Kita-kita siap hibur lo, ya gak men? " Fadlan dengan gaya -nya meminta persetujuan keempat temannya.
"Yoi, apalagi buat kakak cantik begini mah apasih yang enggak. " mereka pun tergelak senang.
"So tahu! "
"Yeay gue tahu, Rio cerita semuanya. "
"Bocah tengil itu ! Ngomong apa aja
dia? "
Marisa selalu merasa terancam jika nama Rio disebutkan, bagaimana pun mulut embernya bakal ngomong apa aja tentang kehidupannya tidak perduli meski mereka masih asing untuk mengenal Marisa lebih jauh.
"Banyak, mulai dari siapa bokap lo. Sampe lo yang suka sama cowok berondong. "
dengan tingkat kepedean sekelas dewa bocah itu mengusap rambut, serta memainkan kerah bajunya.
"Idih!" gelitik hati Marisa, dengan senyum terpaksa dan dahi yang mengkerut.
"Ganteng sih karena lo kembaran Hazlan tapi buat tertarik sama lo. Tunggu ! Gue bakal mikir ratusan kali terlebih dahulu. Sialan tuh si Rio, mulutnya mesti gue lakban ! Atau perlu gue jahit kali ya mulutnya, " gerutu Marisa bersungut-sungut kesal.
"Tapi, bener ya lo datang terus kan ke pesantren buat deketin kembaran gue? Kalo gak buat apa coba lo datang
terus. " Senyum miring tercetak di bibirnya.
"Belajar agama lah, apalagi !"
"Oh ya ? Hati-hati karena kalo buat deketin Hazlan saingan lo banyak. Santriwati disana gak ada yang gak suka sama dia. "
"Iya ish, " Marisa mendesis.
Ia mengusap-usap lengannya menahan hawa dingin.
Entah kenapa ia justru terjebak di sana.
Fadlan yang mengerti itu lantas mengambil jaket di atas motornya.
Ia memberikan itu untuk menghangatkan tubuh Marisa.
Dan ia menerimanya tanpa penolakan.
Jika di pikir-pikir sikap Fadlan tidak terlalu buruk juga. Ia masih peduli dan sopan secara tindakan walau mulut serta matanya memang melewati batas etika kesopanan.
Dia tidak berani menyentuh Marisa sedikitpun dan hanya menggodanya lewat perkataan saja.
__ADS_1