
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun dan empat tahun pun berlalu.
Waktu meninggalkan masa lalu dengan begitu cepat. Walau itu terasa berat bagi Marisa.
Marisa !
Dia yang tumbuh dan semakin matang dalam kedewasaan . Divya ,bunda yang selalu mendesaknya agar segera menikah. Ayah Haris terus membujuknya agar mau ia jodohkan.
Dan Leo, yang selalu meledak kakaknya dengan sebutan perawan tua , dia kini sudah berdiri di samping sang ayah, bersiap meneruskan tahta-nya.
Lalu, si kecil Anna yang tumbuh menjadi gadis yang pintar dan juga berprestasi.
Banyak yang terjadi ketika waktu berlalu. Banyak cerita yang tertulis ketika waktu terkikis. Sampai kapan Marisa seperti ini.
Sendiri.
Seorang diri tanpa ada yang menemani.
Seolah waktu tengah mengoloknya. Empat tahun, apa yang Marisa tunggu.
Sebuah ketidakpastian.
Sepanjang Marisa menapaki kehidupan hanya ada satu nama yang selalu membuatnya tertawa bahagia. Membuatnya masih mengingat apa itu kehidupan dan bagaimana cara kita menghadapinya. Dia lah, Fadlan.
Entahlah, mengapa pemuda itu.
Di saat Hazlan tengah menimba ilmu di Kairo ,tempat yang jauh di sana . Di saat Reno tengah membuktikan diri untuk layak berada di samping Marisa. Namun, justru Fadlan yang selalu ada untuknya. Menemani sunyi,
menemani hari.
Menapaki bumi.
Fadlan yang selalu menghiburnya di kala sedih. Bayangkan saja hubungan keduanya tanpa sebuah nama.
Ada batasan di setiap hubungan , hanya itu yang keduanya pahami tanpa mau menjawab satu pun cibiran dari mereka.
Biarkan semua orang menatap sinis.
Biarkan semua orang berpikiran picik.
Bagi keduanya hanya ada persahabatan.
"Icha sayang, kamu tahu, kan. Bunda sama ayah kamu sudah tidak muda lagi. Kamu mau sampe kapan begini ? "
Divya masih membiarkan putrinya bermanja-manja di pangkuannya.
Membelai rambutnya yang indah nan lembut serta wangi semerbak .
Ia tersenyum kala mengingat bagaimana saat ia untuk pertama kali menggendongnya. Ternyata sekarang gadisnya telah tumbuh dewasa .
"Kamu sudah dewasa sayang. Apa belum mau menikah ? Bunda rasa umur mu sudah lebih dari cukup. "
Sudah hampir menginjak usia 28 tahun Marisa hidup sebagai putri Divya dan Haris. Butuh berapa waktu lagi untuk dia berpikir akan melabuhkan hatinya pada siapa.
"Bunda udah kepengen banget gendong cucu, sayang. "
__ADS_1
Belaian tangan bunda terasa lembut. Ada rasa bersalah di benak Marisa. Ia yang masih belum bisa membuat kedua orangtuanya bahagia.
Ia terdiam. Hanya terdiam merasai tangan dan sentuhan lembut bunda-nya.
"Kamu ingat Melodi ,sayang ?" Marisa mendongak, menatap wajah bunda-nya.
"Dia ternyata sudah punya anak seumuran Anna, loh ! " antusias Divya dalam mengatakan hal itu.
Baru kemarin setelah hampir 25 tahun berlalu, ia mengetahui kabarnya.
Ya !
Selama kepindahan pria itu dan keluarga -nya, hanya beberapa tahun pertama saja mereka saling bertukar kabar. Semakin kasini semakin jarang bahkan tidak sama sekali.
"Sebentar, bun. " Marisa bangun dan terduduk di samping bunda Divya.
" Melodi ? " Ia berusaha mengingat nama itu.
Siapa ?
"Kau lupa, sayang. Melodi putranya Papa Nando, " suara Divya kian memelan ketika nama 'Nando' ia sebutkan.
Marisa mencoba mengingat. Wajar jika ia lupa. Saat semua itu terjadi ia hanya lah gadis enam tahun yang masih polos. Walau mengingat -nya itu tidak akan terlalu jelas.
" Kak Melodi? "
Divya mengangguk cepat.
"Dia nikah muda gituh, masa anaknya seumuran Anna sih? "
"Dia nikah umur dua puluh tahun ,sayang .Setelah nikah ia tetap kuliah dan punya anak satu tahun kemudian. " tutur Divya.
Darimana gerangan bunda-nya bisa tahu semua itu. Sedangkan sudah tidak ada kabar dari mereka.
" Bunda juga baru tahu, kemarin gak sengaja lihat profil media sosial miliknya. Mengunggah foto kedua orangtuanya. Kalau enggak dari mana bunda tahu itu Melodi. " ucap Divya lagi.
"Kamu kapan? "
Tanpa menjawab pertanyaan Divya. Marisa beranjak.
"Aku ke kamar ya, Bun? "
Mungkin dia lelah, dengan pembahasan yang sama setiap malamnya.
Divya bisa mengerti itu. Marisa butuh waktu untuknya memantalkan hati.
Sampai kapan.
***
Perjodohan
Sanggupkah seorang Marisa menjalani kehidupan seperti kedua orangtuanya.
Mungkin tidak.
__ADS_1
Ia bukanlah Divya. Marisa berbeda.
"Haz,kapan kamu pulang? "
Ada rasa yang tak biasa setiap Marisa menatap wajah tampannya di layar kaca. Bukan sebuah obrolan yang mereka lakukan. Karena nyata-nya sudah dua tahun berlalu, Haz tanpa kabar. Sebelumnya mungkin, satu tahun pertama ia sering menghubungi Marisa.
Tahun kedua mulai agak jarang, dan Marisa mengerti itu. Haz, dia sibuk kuliah dan tidak bisa diganggu .
Sampai tahun berikutnya, ia harus pasrah karena Haz, benar-benar menghilang. Tak ada kabar.
Saat menanyakan kabarnya pada Fadlan, Haz hanya meminta saudara kembarnya itu mengatakan pada dirinya jika Haz ganti ponsel.
Ponsel lamanya hilang. Tapi bisakah itu menjadi alasan? Padahal Haz ingat nomor Fadlan, dan bisa saja ia meminta nomor Marisa darinya.
Apa Fadlan melarang? Marisa rasa itu tidak mungkin. Buktinya, saat Marisa meminta nomor Haz, Fadlan dengan mudahnya memberikan nomor itu.
Walau hanya sempat satu kali tersambung. Selanjutnya hanya ada suara operator yang mengomelinya.
" Mau sampai kapan kamu memikirkan bocah itu? " suara berat itu.
" Bocah itu punya nama, yah ! "
Lagi-lagi Haris memergoki putri nya tengah mengajak ponselnya tersenyum getir.
" Menikah lah dengan Reno, ayah sudah lihat bagaimana kegigihannya selama ini. "
Tidak ada yang keliru dari semua perkiraannya. Reno membuktikan diri agar layak menyandang status sebagai menantu Haris. Bukan dari segi finansial tapi lebih dari itu. Kerja keras.
"Tapi, yah. Aku~"
"Kau masih mengharapkan dia? " Haris tersulut. "Bocah yang bahkan kau tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak. "
Bukan.
Bukan itu maksud Marisa. Mana mungkin ia bisa menerima Reno sementara bagai mana dengan Anita.
Gadis itu pergi meninggalkan rumah dan menetap di Malaysia. Tanpa adanya kabar Marisa takut sahabat nya itu putus asa. Bagaimana nasib- nya setelah penolakan cinta dari Reno.
" Beri aku waktu, ayah .Aku akan menjawab dan menuruti apa yang ayah katakan nanti, " rengek Marisa, seranya terisak membujuk sang ayah agar memberi nya waktu lagi.
" Baiklah satu bulan cukup untuk mu memikirkan apa yang akan jadi keputusan mu. " ucap Haris menyetujui permintaan waktu dari putri sulungnya.
Satu bulan?
"Kamu tahu ,bunda sama ayah hanya ingin kamu bahagia. Percayalah Reno pilihan yang terbaik. Ayah tidak memandangnya sebagai cucu dari pengasuh ayah, tapi dia anak yang baik. Dia juga gigih. Pekerja keras dan pintar.
Ayah yakin kamu pasti bahagia hidup dengan Reno. "
Kalimat ayah yang begitu panjang, membuat Marisa semakin terisak. Dulu sebelum bertemu si kembar, dia masih bisa merasakan seperti apa kebaikan dan ketulusan seorang Reno. Tapi, setelah ia tahu Reno menyimpan rasa untuknya Marisa berusaha menjauh. Tidak lagi mengandalkan laki-laki itu.
Laki-laki yang hanya akan mendapat amarah ayah jika dia memaksa hidup dengannya. Karena ayah selalu menyalahkannya selama ini setiap sesuatu terjadi pada Marisa.
"Laki-laki sebaik Reno pantas bahagia. Tapi bukan bersama ku, yah. "
Jeritan hati Marisa, menyadari dirinya memang manja. Wanita yang selalu berlindung di balik punggung Reno, berlindung dari amarah sang ayah.
__ADS_1
Marisa tidak ingin lagi menyeret Reno dalam setiap masalah nya. Sudah cukup.