
Hari ini hari paling membahagiakan bagi seorang Marisa. Putri sulung pasangan Haris Santoso dan Divya Veronika Ibrahim Santoso, ini.
Ya seharusnya sudah tersemat nama belakang suaminya dari sejak lama.
Sedikit terlambat mengungkapkan hal itu.
Bagaimana tidak jika hari ini Marisa baru saja dinyatakan lulus sebagai dokter termuda yang lulus dengan nilai terbaik.
Ucapan rasa syukur berulang di hatinya, dan kedua orangtuanya.
Hari ini dengan bangga seluruh keluarga dan kerabat Haris datang menghadiri wisuda sang putri kesayangan.
Tidak terasa waktu berputar cepat. Kini Divya berada disini di tempat ini menyaksikan bagaimana putrinya akan meraih keberhasilan. Ia mengingat dulu nasibnya yang malang kala harus menghadiri wisuda seorang diri.
Ayah Ibrahim saat itu sedang sakit Divya tidak mungkin meminta ayahnya untuk datang. Tak apalah walau sebenarnya Divya benar-benar merasa sedih.
Saat ia pulang, yang harusnya dengan perasaan bahagia justru sebaliknya ia datang ke rumah sakit dengan disambut kondisi ayahnya yang semakin memburuk. Hanya beberapa menit saja ayah Ibrahim melihat dirinya dalam balutan pakaian khas wisuda setelah itu ia pergi untuk selama- lamanya .
"Bunda, bunda kenapa? Bunda baik-baik saja? " tanya Marisa.
Melihat bunda-nya seperti tengah melamun membuat Marisa turun lagi walau namanya sudah terpanggil.
"Ah, i iya bunda baik-baik saja sayang. Kamu kenapa kesini, nama kamu sudah terpanggil , kan ? Ayo sana pergilah! "
Divya yang tersadar pun akhirnya meminta sang putri segera naik ke podium. Marisa mendapatkan banyak penghargaan di depan sana. Sorak sorai dan tepuk tangan pun riuh terdengar.
Setelah puas berfoto rasa lelah pun melanda. Lapar dan juga haus.
Mereka semua pun akhirnya mendatangi sebuah restoran mewah dan makan bersama disana.
***
Libur akhir tahun. Gelar dokter sudah tersemat. Rumah sakit sudah menjadi tempat rutin bagi seorang Marisa ada di sana,apalagi kalau bukan untuk memenuhi tugasnya.
Di hari liburnya ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke puncak.
Ada Villa milik ayahnya di sana.
Ia pergi bersama teman-temannya.
Dua orang pria dan dua wanita.
__ADS_1
Entah apa yang Marisa rencanakan namun kepergiannya yang mendapat izin dari sang ayah tak ingin ia sia-siakan.
Hari menjelang sore, di tempat ini sejuk terasa udara menerpa wajah ayu Marisa. Marisa tengah berdiri di tepi perkebunan teh merasakan angin bertiup dan bersemilir lembut dengan pemandangan matahari yang hampir tebenam.
Indah !
Saat yang sama seorang pria menabraknya hingga hampir jatuh tersungkur. Sigap si pria memeganginya, merangkul pinggang sampai mereka saling bersitatap heran sekaligus kaget.
Marisa tertegun menatap pria asing itu.
Mengapa ia berlari begitu sampai menabrak -nya? Pikiran Marisa bercabang. Pria itu begitu tampan. Sekilas itulah yang ia nilai.
"Lan, berhenti lo ! Mau lari kemana lagi, tanggung jawab, gak ?" teriak seseorang yang sepertinya tengah mengejar laki-laki yang di panggilnya 'Lan'.
Refleks ia melepas Marisa, dengan gugup ia lanjut berlari menghindari tiga remaja yang mengejarnya.
Ke-tiga teman -teman Marisa yang melihat itupun langsung menghampiri -nya dan melempar banyak pertanyaan.
"Cha lo gak apa-apa,kan?" suara Shintia, dia sahabat Marisa sejak SMP yang gak pernah jauh sedikitpun dengan Marisa.
Dari sebelum Shintia tahu jika Marisa itu putri sulung pengusaha dimana ayahnya bekerja disana.
"Iya lo gak apa-apa, kan? Sialan tuh orang siapa sih! " dengusan Anita juga tak kalah kesalnya.
Sementara itu dari arah belakang mereka Reno baru saja datang setelah membeli beberapa minuman dingin dan juga camilan. Nampak ngos-ngosan menapaki area perkebunan yang berbukit.
"Ada apa sih, Icha kenapa? Speechless gituh? " selorohnya sambil menyodorkan kresek belanjaan ke tangan Shintia dan Anita.
"Gak apa-apa. " Marisa menarik nafas dalam.
"Gue gak apa-apa. " imbuhnya menenangkan ke empat teman-temannya.
"Kita kesini buat liburan sekaligus merayakan keberhasilan Marisa yang sekarang udah resmi jadi dokter, eh malah ada kejadian tak terduga begitu. "
cerocos Shintia semakin memperdalam kerutan di dahi Reno.
"Udah gak apa-apa.Tuh orang juga kayaknya gak sengaja. " ucap Marisa lagi, dalam keterkejutannya ia melangkah menuruni bukit menuju Villa.
Dalam langkah mereka menceritakan apa yang menimpa Marisa kepada Reno yang memang tidak mengetahui kejadian tersebut.
"Wah siapa tuh cowok, dia minta maaf gak? " respon Reno saat Hendri menutup kisahnya.
__ADS_1
"Gak tahu, orang asli sini kali. Tapi,ganteng loh ! Seriusan. " ucap Anita penuh binar memuji ketampanan pria yang menabrak Marisa tadi.
Membuat yang lainnya justru menyoraki-nya.
"Iya sih emang ganteng, tapi berandalan." ketus Marisa yang jalan agak sedikit pincang mungkin karena kakinya terkilir.
Malam hari mereka isi dengan parti kecil di teras Villa, hawa sejuk menyelimuti kawasan ini.
Marisa masih berdiri dengan secangkir teh hangat di tangan.
Sementara yang lain sibuk menyiapkan makan malam.
Pasangan Shintia dan Hendri misalnya. Ia tengah memanggang daging di atas alat barbeque .Anita menyiapkan nasi. Sedangkan Reno, mata dan tangannya tak sejalan. Ia tengah memerhatikan Marisa walau tangannya sibuk memotong sayuran untuk membuat acar.
"Hati-hati nanti kepotong tuh
tangannya. " ledek Anita yang sedari tadi melihat aktivitas cowok di sampingnya.
"Ish. Apa sih? " dengus Reno yang malu tertangkap basah oleh Anita.
"Ren, lo suka ya sama Icha. " tanya Anita kemudian.
"Apa? Enggak kok. Ya kali gue suka sama dia. Gak punya keberanian gue. "
tutur Reno menyangkal.
"Kenapa? Ada yang salah kalo lo suka sama dia? Icha kan lagi gak sama siapa-siapa. "
Anita sebenarnya masih berharap ada rasa di dalam hati Reno untuk dirinya. Namun, ia tahu jika Reno selama ini hanya mencintai satu gadis saja yaitu, Marisa.
"Gue sadar diri, Nit. Lo tahu sendiri kan siapa orangtua Marisa. Gimana mungkin gue suka sama mantan majikan nenek gue sendiri. " ujar Reno.
Ya. Reno akui selama ini ia memang menyimpan rasa untuk gadis itu. Tapi bagai pungguk merindukan bulan. Mustahil bisa ia dapatkan.
Ia berjuang melawan kerasnya Ibukota untuk bisa mencari ilmu. Belajar. Dan bekerja.
Apalah arti semua perjuangannya kalau ia hanya terus bermimpi bisa bersanding dengan putri raja. Yang jauh dari kata 'kenyataan'.
Bagi seorang Reno, bisa dianggap sahabat oleh Marisa saja itu sudah lebih dari cukup. Ia akan terus memimpikan cita-citanya menjadi kenyataan sebelum akhirnya punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dan saat itu terjadi mungkin semuanya sudah terlambat.
Reno berjuang demi bisa kuliah. Cita-citanya menjadi seorang arsitektur sudah di depan mata. Tinggal ia melangkah dan memantapkan hati.
__ADS_1
Setelah kepulangannya ke Jakarta nanti ia akan sudah melamar pekerjaan untuk pertama kalinya. Semoga tidak sesulit yang ia bayangkan.