
Pagi ini Haris sudah rapih dengan stelan kemeja biru, celana hitam ,dan jas warna senada yang masih teronggok di pinggir kasur. Dia sendiri berdiri menghadap ke cermin,sedang berusaha memakai dasi.
Divya masih tertidur di atas kasur setelah perdebatan samalam.
***
"Hei bodoh,mau kemana?" Haris bertanya ketika melihat Divya membawa selimut dan hendak mengambil bantal.
"Tidur tuan?" jawab Divya malas.
" Tidur ? Di mana?" tanyanya lagi .
"Di sofa lah di mana lagi." Divya menjawab pertanyaan Haris dengan ketus.
"Hei ! Kau masih memanggil ku tuan?"
Haris lagi-lagi mendelik tajam mendengan Divya masih memanggilnya dengan sebutan itu.
Divya yang sudah berlalu pun kembali membalikkan badan, ia berdiri menatap Haris.
"Ya memangnya kenapa? Bukankah kau bilang panggil suami terutama di depan papa ? Apa salahnya di sini tidak ada tuan besar." Divya menjawab apa yang menurutnya benar.
"Kalau kau terus memanggilku tuan, nanti terbiasa seperti itu . Bagaimana kalau keceplosan di depan papa?" tidak mau kalah Haris pun kembali mendebatnya.
"Huft..." Divya menghela nafas jengah.
" Tuan sendiri kenapa masih memanggil ku bodoh? Ganti panggilan itu !" Divya yang tak ingin terpojok malah balik meminta pada Haris.
"Mau ku panggil apa, heum ? Sayang ? atau istriku ?" Haris memberi dua pilihan pada gadis itu, mengetes seberapa besar keberaniannya.
Divya yang terlihat so menimbang pun akhirnya menjawab
"Dua - duanya !" seranya mengangkat dua jari dan kali ini sudah duduk bersandar di sofa.
Divya yang malam ini mengenakan baju tidur berbahan satin,berwarna merah cerah dengan lengan pendek dan celana sedikit di atas lutut ,menampakan paha putih nan mulusnya,nampak begitu menggoda.
"Serakah kau ya?!" mata Haris sukses membulat mendengar jawaban dari gadis yang baru saja sehari resmi ia nikahi.
__ADS_1
"Baiklah kemari istriku sayang ! "
sontak Divya melotot kearah Haris yang memanggilnya,sambil melambaikan tangan.
"Heh dengar tidak,kamari !" Haris kembali menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya .
"Bawa bantal mu itu !" ia menunjuk bantal.
"Tidak mau !" Divya menolak perinta suami anehnya itu, ia membawa bantal ke pelukannya.
"Kau mau aku mengganti panggilanku pada mu ,bukan ? Turuti perintah ku !" kali ini Haris lebih mempertegas setiap kata yang ia ucapkan.
Ya Tuhan ! Tuan raja ini pintar sekali sih memanfaatkan dan membalikkan keadaan.
"Tidak,panggil saja aku bodoh seperti yang kau mau," tak ingin menuruti perintah Haris begitu saja, Divya memilih untuk tetap dipanggil dengan sebutan 'bodoh' .Ia pun mendengus sebal.
"Tidak mau ya,ok ! Sepertinya kau memang senang sekali dipaksa," Haris sudah berdiri tegak di sisi kanan ranjang tempat tidurnya baru saja hendak melangkah.
" Huft."lagi -lagi Divya menghela nafas kasar.
"Apa lagi sih ?" ia hanya mampu mengeluh.
Ku pikir tadi dia mau memarahi ku.Kenapa malah minta tukeran tempat. Benar-benar tuan muda yang aneh.
"Serius aku yang tidur di sofa kalau kau merasa jijik tidur denganku !" wajah Haris yang menunjukan keseriusan, membuat Divya merasa tidak enak hati. Apalagi mendengarnya menyebut kata 'jijik' .
"Eh tidak- tidak. Sama sekali tidak seperti itu maksudku~" gadis itu nampak bingung harus berbuat apa tidak mungkin tuan Haris tidur di sofa kan? Pikirnya.
Lagi pula kenapa mengancam begitu sih.
" Tuan tidak mungkin tidur di sofa kan?
Biar aku saja,tuan tidurlah di ranjang ." Divya memasang senyuman semanis mungkin agar Haris tidak lagi memaksanya.
Namun, bukan Haris nanya jika dia lukuh begitu saja.
"Kalau kau memang tidak merasa jijik padaku tidur bersamaku di sini !" Haris sudah kembali duduk ditepi tempat tidurnya,kembali menepuk sisi sebelahnya.
__ADS_1
"Tapi ~tuan," baru saja Divya hendak mengatakan sesuatu Haris sudah menyela.
"Atau kau mau aku membakar sofa itu di depan mu !" ancamnya dengan tangan mengambil korek dari laci nakas,tanda dia serius dengan ancamannya itu.
"Ah iya -iya. Aku kesitu." Divya menepuk- nepuk sofa sebelum beranjak menuju tempat tidur.
"Sayang sekali sofa mahal harus sia-sia terbakar oleh tingkah aneh tuannya," dia bersungut-sungut sambil mengusap sisi sofa tersebut.
Harus direlakannya tubuh itu tidur bersama pria aneh yang sudah menjadi suaminya ,ia melangkah gontay membawa kembali bantal dan selimutnya.
"Aku tidak akan menyentuh mu kalau kau tidak mau,aku tidak mengizinkan mu tidur di sofa lantaran kau tidur seperti anak kecil,kau bisa terjatuh nanti," Haris sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur,menata bantal guling sebagai pembatas mereka berdua.
Tidur seperti anak kecil?
Tapi kenapa dia baik begini sih?
Aku tidak ingin tidur di sini .
Bagaimana kalau dia mendengar detak jantung ku yang tidak karuan ini. Divya menutup wajahnya dengan selimut.
***
Haris sudah bersiap keluar kamar ketika Divya membuka mata.
Ia tidak menanyakan apapun.
Segera ia bergegas mandi dan bersiap.
memutuskan untuk pergi ke kantor hari ini.
walaupun sebenarnya izin cuti masih satu hari lagi.
Mereka berdua bertemu lagi di meja makan.
Divya meminta izin Haris dan mertuanya untuk pergi ke kantor.
Haris hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Dia tidak banyak bicara selama di meja makan.