
Di tempat lain pagi-pagi sekali sebuah mobil sudah melaju merangsek keramaian Ibukota.
Di pagi hari banyak orang yang hilir mudik melakukan aktivitas masing-masing ,ada para pedagang yang datang dan kembali pulang setelah bertransaksi di pasar.
Silih bergantian dengan mereka yang baru menyelesaikan tugas ,Dinas malam,bagian piket bahkan lembur.
Di sisi kiri kanan dengan rajinnya para penyapu jalan sudah bergulat dengan peralatan bersih-bersihnya.
Berusaha memberi kenyamanan bagi para pengguna jalan.
Santoso sudah kembali dari urusannya bersama Fram.
"Kau tahu semua ini tapi tidak mengatakan apapun padaku"
"Maaf Tuan,bukan aku menutupi ini darimu tapi aku memang baru tahu setelah Ibrahim tiada"
"Maksudmu ?"
Santoso mendelik tajam ke arah Fram yang sedang mengemudi.
"Begini~ "
Fram mulai membenarkan posisi duduknya.
"~Aku tahu setelah membaca ini"
Mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku jas nya.
"Apa ini ?"
Meraih kertas itu dari tangan Fram.
"Baca saja itu Ibrahim sendiri yang menulis."
Ibrahim sudah seperti saudara bagi Santoso lebih dari Fram mengenalnya,Santoso jauh lebih dekat dengan Ibrahim sejak mereka kanak-kanak.Tapi ternyata kedekatan mereka bukan apa-apa.Nyatanya masih ada saja yang Santoso tidak ketahui darinya.
( Aku titip putriku padamu ,Kak.
Ya,aku bisa pergi dengan tenang karena aku memiliki mu,kau bisa jadi ayah yang baik untuk keempat anakku.
Karena satu anakku telah tiada,aku tidak bisa ceritakan apapun tentang putriku yang hilang.
Nikahkan saja Divya dengan anak Santoso sesuai janjinya kepada ku.
Aku bukan menagih hutang ataupun balas jasa,tapi demi persahabatan dan demi putri pertamaku yang hilang.
Nikahkan mereka maka semua akan lebih jelas.
( Ahmad Ibrahim )
"Apa maksudnya ini ?"
Santoso masih tidak mengerti apa misteri dibalik semua yang terjadi.
"Entahlah,Ibrahim tidak pernah menceritakan apapun"
Fram juga angkat bahu,dia memang kakak dari Ibrahim tapi Fram baru tahu itu setelah pernikahannya dengan almarhumah Nika.
__ADS_1
Dan Fram tahu itu pernikahan keduanya.
Walau dia sendiri tidak tahu siapa istri pertamanya.
"Lalu apa kau tahu putrinya yang hilang?"
"Jujur sebagai kakak aku tidak tahu apa-apa,kau tahu Ibrahim tidak terlalu terbuka,kan.Terlebih kita tinggal berjauhan"
Santoso mengangguk menanggapi pernyataan Fram ada benarnya.
"Setelah dia menikah dengan ibunya Divya.Yang aku tahu Divya anak pertama mereka"
"Kau sendiri?" Fram balik bertanya.
"Clarisa ! Aku hanya tahu nama itu nama anak pertama Ibrahim,dia mengirimkan fotonya dan mengatakan jika dewasa nanti dia akan menjodohkan putrinya itu dengan Haris"
"Beberapa bulan kemudian aku kembali mendengar kabar jika Clarisa di culik dan tidak di ketemukan hingga saat ini"
Santoso baru sering mengunjungi Ibrahim lagi setelah Divya berusia satu tahun saat itu Haris juga sering ia ajak tanpa sepengetahuan Rahma,karena tanpa alasan yang jelas Rahma selalu melarang jika Haris turut serta.
Haris harusnya ingat akan hal ini, dia sudah jauh lebih besar usianya saat itu,dari usia enam tahun dan selama dua tahun selalu ikut dengan Santoso ke kota Kembang dimana pria yang akrab di sapanya Om Ahmad itu tinggal.
Setelahnya hanya sang Papa yang rajin meninjau perkembangan usaha Ibrahim,sampai suatu hari semuanya hancur.
Istri Ibrahim mendadak meninggal dunia lalu mereka terpaksa meninggalkan rumah lama dan pindah kerumah kecil di pedesaan.
Perjalanan mereka kembali hening tanpa perbincangan hingga mobil sampai tepat pukul tujuh pagi.
***
"Mbok jum Mama mana?"
Haris setengah berlari menghampiri tempat dimana ibunya berada,bersamaan denga datangnya Santoso ke tempat itu.
Teras yang berada tepat menghadap kolam renang itu sudah menjadi tempat favorite Rahma saat bersantai.
"Ada apa?"
"Pa,kenapa menatapku begitu?"
Tanya Rahma heran mendapati suaminya datang dengan wajah serius dan sorot mata yang sulit ia tebak.
"Haris,kamu lagi ! Kenapa? Ada apa?"
"Kebetulan ada Papa disini,coba jelaskan padaku ada apa ini.Apa maksud dari semua ini?"
Haris melempar lembaran foto ke atas meja.Dua foto yang sama,satu miliknya dan satu ia temukan berserakan di depan almari istrinya .
Foto seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun menggandeng tangan gadis kecil berusia sekitar dua tahun itu tak lain foto Haris dan Divya.
"Gadis kecil ini anak Om Ahmad,kan?"
Menunjukkan sosok gadis kecil di foto itu.
" Apa itu Divya ?! Divya putri Om Ahmad Pa? Jawab !"
Sejenak Santoso hanya diam terpaku,ia menatap istri dan anaknya bergantian.
__ADS_1
Kemudian beliau menjawab setelah mendapat anggukan dari Fram.
"Ya dia putri Ahmad"
Rahma nampak terkejut mendengar itu.
"Kenapa Papa tidak cerita ini dari awal,kenapa harus menutupinya dariku?"
"Kau sakit hati karena sebelumnya lamaranmu ditolak,Divya punya alasan mengapa dia menolakmu dulu tapi kau tidak mau mendengarkan apapun alasannya"
Saat itu Haris memang mengatakan jika tidak ada yang berani menolak ku,perempuan bodoh seperti anak Om Ahmad tidak pantas bersanding dengannya.
"Yang kedua,kau tidak bisa menerima perempuan manapun kecuali Marisa tapi gadis itu mustahil kembali"
"Papa melihat kemiripan pada Divya,dan papa yakin dia gadis yang tepat untukmu karena itu papa setuju menjodohkan kalian"
Lanjut Santoso lagi.
"Yang ketiga,kalau bukan karena Om Ahmad Papa bukanlah apa-apa.Papa tidak mungkin jadi presiden direktur utama perusahaan yang begitu besar.
Ahmad yang ada di balik kesuksesan Papa."
Modal awal kesuksesan Santoso memang berawal dari Ahmad Ibrahim,dia yang memberi modal besar kepadanya,dan sama sekali tidak menganggap itu hutang,sayang dia tidak pernah menceritakan itu kepada Rahma istrinya sehingga seumur hidup Rahma ia tidak pernah merasa bersyukur,sebaliknya ia terus membenci mantan suaminya itu.a
"Lalu kenapa papa menutupi ini dariku,toh aku bisa menerima nya bukan?"
"Sekarang,sebelum nya?"
"Sebelumnya kau tidak bisa menerima dia kan,bukankah sudah papa katakan tadi kau sakit hati pada gadis itu karena menolak mu"
"Itu. Itu~"
"Cukup ! Apa ini ? Persekongkolan apa yang terjadi"
"Kau menjodohkan putraku dengan putri Ahmad tanpa izin dariku"
"Kenapa Mam? Karena Om Ahmad mantan suami Mama"
Kali ini bukan hanya Santoso tapi Fram juga menganga.
Pernyataan Haris yang tidak mereka ketahui.
"Aku tahu sekarang jika Mama menyimpan dendam terhadap Om Ahmad"
"Ya ! Dan karena itu aku meminta kalian menyembunyikan siapa Divya sebenarnya"
Kali ini suara Fram yang membuat semuanya menoleh.
"Sampai Rahma benar-benar menerima keponakan ku itu?"
Sambung Fram.
"Apalagi ini ?"
Rahma mengernyitkan dahi menatap Fram.
"Divya keponakan mu aku tahu itu,tapi dia putri Ahmad?"
__ADS_1
"Ya dia putri adikku Ahmad Ibrahim,Divya Veronika Ibrahim nama belakangnya sengaja aku sembunyikan saat pernikahan dulu,aku menyembunyikan ini sampai kau benar-benar bisa menerima Divya"
Pungkas Fram.