Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Kepergian Fram


__ADS_3

Keheningan seketika tercipta kala Haris mempertanyakan keberadaan Fram.


Pria yang sudah berjasa banyak terhadap keluarganya itu dipertanyakan keberadaannya saat ini oleh Haris . Alih-alih menjawab semua orang justru terdiam serentak.


Fram !


Bagaimanapun Haris sudah menganggap beliau seperti ayahnya sendiri.


Dia lah orang yang selalu membela Haris saat Santoso marah kepadanya,Haris yang selalu saja berbuat onar,berulah bahkan berkali-kali di tahan pihak kepolisian karena kelakuannya.


Santoso hampir sering melayangkan tangan jika saja Fram tidak mencegahnya.


Pria bijaksana itu selalu menilai apapun dengan lebih teliti.


Sikap itu pula yang ia wariskan kepada Rudi,meski Rudi ternyata bukan anak kandungnya.


"Jadi,Om Fram~"


Haris tertunduk lesu.Ia menghirup nafas panjang demi mendengar penuturun Santoso dimana ia mengatakan jika Fram sudah tiada dua tahun lalu.


Mengapa semua ini harus terjadi saat Haris tak di sisinya ?


Begitu lama kah Haris tertidur hingga banyak kejadian yang ia lewatkan .


Tangannya lemah ,sendok dalam genggaman pun jatuh berdenting, beradu dengan piring yang isinya saja bahkan masih separuh.Sudah tak ada selera lagi bagi Haris melanjutkan makan malamnya.


Salah ?


Salah Santoso menceritakan hal ini sekarang.


Dua minggu lalu ia bungkam karena mengerti jika Haris masih harus mengontrol emosi nya,butuh banyak energi agar ia bisa segera pulih.


Tapi kali ini laki-laki hampir sepuh itu pun salah waktu mengungkap semuanya.Ia tahu Haris akan terpukul dengan berita ini tapi ia tetap mengatakan kebenaran itu meski dalam kondisi yang tidak memungkinkan bagi Haris.Ia baru saja datang ke rumah setelah menemui Divya di negara orang.


Perjalanan jauh serta rasa kantuk,lelah dan lapar beradu menjadi satu.


"Dua tahun lalu,kenapa ?"


Suara lemah Haris mempertanyakan penyebab meninggalnya Fram.


"Sayang "

__ADS_1


Divya bersusah payah mengontrol segala gejolak dalam hatinya,ia bahkan merasa sulit hanya sekedar untuk melumasi mulutnya sebelum ia mulai bicara.Saliva terasa tersangkut di tenggorokannya.


"Paman Fram,beliau~"


Divya terus mengusap punggung suaminya,Haris lemah.Pria itu menangis.


"~Kena serangan jantung, sayang.Paman terkena serangan jantung"


Divya menghela nafas berat demi mengatakan hal itu.Ia merasa jika Haris memang perlu tahu sebelum ia mendengarnya dari orang lain.


Serangan jantung ? Tapi apa pemicunya? Apa pemicu serangan jantung itu hingga Fram sampai meninggal.


Malam hari pun larut dalam kesedihan,semua seakan mengenang kembali kepahitan yang sudah lalu.


Kini Haris sudah terlelap dalam pangkuan Divya, karena lelahnya mendapati kenyataan.


Ia tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Fram.


Haris terus menangis ,Divya dengan sabar berusaha menenangkan nya.Ia mengusap lembut rambut suaminya yang merebahkan diri diatas pangkuannya itu.


Fram mendapat serangan jantung saat itu ia sedang berada diruang inap Haris di sebuah rumah sakit tempat Haris di rawat.


Saat itu dokter mengatakan jika kemungkinan Haris siuman sangat kecil mengingat sudah dua tahun tak ada perkembangan yang signifikan,dengan kondisi seperti ini di rujuk kemana pun serasa percuma.


Ia tahu segalanya namun menutupi itu hanya karena merasa jika semuanya harus terungkap langsung dari mulut Rahma.


Fram tahu Rahma yang sudah menyebabkan semua kesalahpahaman terjadi,membuat hidup adiknya hancur, dia tahu segalanya .Hanya saja Fram memilih bungkam bahkan saat ditanya Santoso pun ia menjawab jika dirinya tak tahu apa-apa.


Hingga akhir dia menyesali dan terus menyalahkan dirinya sendiri ,bagaimana jika Haris tidak juga sadar?


Ia merasa lalai akan amanatnya menjaga keponakannya.


Apa ia kuat melihat bulir airmata terus bercucuran di wajah Divya.


Bagaimana pun Fram sudah menganggap mereka semua seperti anak-anaknya sendiri.


Divya harus kehilangan suami di usia yang sangat muda,pikiran-pikiran itu yang mengganggu Fram hingga ia jatuh sakit,dan puncak nya ia pingsan di ruangan Haris dan Fram harus di observasi di ICU selama berhari hari.


Fram tak dapat membuka matanya kembali dan setelah dua minggu ia dinyatakan meninggal dunia.


Semua tentu kaget termasuk Santoso,bahkan ayah Haris itupun sempat di rawat beberapa hari karena jatuh sakit setelah kepergian Fram.

__ADS_1


Lagi ! Saat semua tengah berduka dokter rumah sakit tersebut hampir menyerah.Jika saja Divya tidak histeris meminta semua peralatan tetap terpasang,mungkin Haris tak lagi ada di sisinya saat ini.


Divya meminta dokter terbaik,bahkan memanggilnya dari luar negri.Saat itu juga Haris di pindahkan kerumah.Segala peralatan medis terpasang di kamarnya.


Dokter silih berganti memantau perkembangan nya.


Divya beranggapan mungkin jika Haris disini ia akan mengingat masa indah bersamanya hingga Haris berusaha untuk kembali tersadar.


Tidur panjangnya sudah cukup.


Cukup membuat Divya kehilangan akal.


Bertahun-tahun ia harus menginap di rumah sakit setelah pulang bekerja.


Tak ada waktu luang baginya untuk sekedar bersenda gurau dengan Marisa putrinya.Saat ia belajar bicara hanya ada Pranando yang ia panggil sebagai Papa.


Lagi-lagi Divya harus selalu menahan rasa pahit dari kenyataan hidup Melihat suaminya terbaring di sisinya tanpa separuh nyawa.


Bagai bantal guling,ia hanya bisa mengusap dan menciumi pipi Haris tanpa reaksi.


"Divya sayang~"


Pukul sepuluh tiga puluh malam saat semua orang masih berkumpul,anak-anak semua sudah tidur di kamar mereka.


Para orangtua masih melabuhkan pikiran mereka masing-masing dalam sunyi nya sebuah kenangan pahit.


Divya kembali turun setelah Haris benar-benar terlelap.Ia tahu ada yang tengah khawatir di bawah sana.Terbukti Rahma langsung melempar pertanyaan begitu melihatnya menuruni anak tangga.


"~Haris sudah tidur,nak?"


"Sudah,Mama Papa sama yang lainnya masih belum tidur? Ini sudah malam jangan khawatirkan Haris dia baik-baik aja.Sudah tidur pulas"


Divya mengulum senyumnya agar meyakinkan mereka semua.


Tak ada yang perlu di khawatirkan,Haris memang lemah saat ini tapi dia tidak serapuh itu.Hanya mungkin karena dia baru saja melewati masa koma-nya anggota keluarga jadi merasa takut.


Takut jika Haris kembali jatuh sakit.


Setelah berbincang mengenai kesehatan Haris,dokter Intan yang tadi sempat memeriksa detak jantung serta tekanan darah Haris pun merasa semua baik-baik saja.


Ia dan yang lainnya menginap di kediaman Santoso malam ini .

__ADS_1


Mengingat anak-anaknya sudah tertidur,Intan tak mungkin pulang sendiri.Meski ada banyak pekerjaan menantinya esok hari.


Begitu pun Rudi,Shila istrinya bersama Ameera menemani sang ibu mertua di kamar tamu.Sementara ia melanjutkan perbincangan mengenai bisnis di ruang kerja Haris bersama Santoso hingga larut malam.


__ADS_2