Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
bonchap 11


__ADS_3

" Teh, " panggilan yang sudah sering Marisa dengar. Tidak asing. Dia Haz, yang turun dari motor dan setengah berlari menghampiri mobilnya.


Mau apa dia kesini.


Marisa mengurungkan diri ketika ia baru saja hendak masuk .


"Hazlan! " seru Marisa.


"Ada apa Haz ?" tanya -nya.


"Maaf ya teh, udah mau berangkat ya? "


Hazlan terlihat mengatur nafasnya.


"Iya gak apa-apa, ada apa memangnya ?" tanya Marisa lagi.


"Ini kak, " Haz menyodorkan buku.


"Buku catatan punya teteh, kan? "


Marisa menerima itu dan lantas mengiyakan. Dia lupa jika sedari kemarin buku itu tertinggal di pesantren. Pantas dia sudah mencarinya tidak ada dimana-mana.


"Ya ampun, jadi disana buku ini. Aku cariin gak ketemu," seru Marisa berbinar menerima buku itu.


"Satu lagi, ini ada novel islami. Kali aja teteh minat baca. "


Lagi Marisa menerima itu dengan senang. Ia selama ini memang menginginkan novel tersebut.


"Oh ya makasih. "


"Satu lagi teh, " Haz tersenyum malu.


Marisa mengernyit dan menggelengkan kepala.


"Ini ,umi tadi titip ini buat teteh sama temen-temen juga. " Hazlan melirik satu persatu teman-teman Marisa.


Dari keempat temannya hanya Reno yang terlihat cuek.


" Ini apa? " Marisa antusias menerima itu, bingkisan dari umi Nara. Ia tadi juga sempat mengobrol dengannya. Umi Nara yang baik hati. Dia yang ternyata asik diajak berbincang. Dari caranya bicara membuat Marisa terkagum-kagum. Apalagi saat beliau memberikan petuahnya.


"Itu katanya kue sih, buatan umi. Terima ya teh !"


"Heum.Tentu ! Aku pasti makan nanti kuenya. Sampaikan terima kasih aku buat Umi sama Abi. "


ucap Marisa.


"Teteh juga dapat salam dari mereka. "


"Oh ya, waalaikum salam warohmatullah. " Marisa menjawab salam itu dengan manis.


Ia juga sempat memegangi rambutnya yang terurai, ada rasa malu ketika itu terlihat oleh Hazlan.


" Gak apa -apa,Haz pernah bilang kan kalo semua itu harus di dasari niat yang kuat dari diri sendiri, tanpa paksaan orang lain. " Hazlan seakan mengerti apa yang dilakukan dan dirasakan Marisa.


"Eum, iya Haz. Makasih buat semuanya ya? Buat ilmu dan bimbingannya. "


Setelah itu Marisa pamit berangkat, setelah sebelumnya ia meminta ponsel Haz, dan mengetikkan nomor miliknya disana. Marisa juga menitipkan jaket Fadlan pada Hazlan.


"Jaketnya Fadlan aku titip ke kamu ya. Tadi lupa. Eum gak usah salah paham. Semalem udara dingin jadi dia~"


"Iya teh, gak apa-apa. Aku ngerti kok. Nanti aku kasih ke dia. "


Marisa pun masuk kedalam mobil,setelah mendapat jawaban dari Haz. Ia memilih duduk di belakang bersama Shintia dan Anita, sementara Reno yang menyetir dan Hendri duduk di sampingnya.


"Haz, jangan lupa! " Marisa memperlihatkan ponselnya sebagai isyarat dan Haz mengerti itu.

__ADS_1


Ia mengangguk dan melambaikan tangan.


Ada hati yang terasa kosong saat Marisa pergi meninggalkan tempatnya berpijak. Hazlan menepis semua itu.


Ia cukup sadar diri, siapa Marisa dan siapa pula dirinya.


***


Menjelang shalat Isya, mobil sudah sampai di tujuan. Mengantar Shintia,Hendri dan Anita ke rumahnya masing -masing.


Kini tinggallah Marisa yang mau tidak mau duduk di depan di samping Reno.


Pria yang masih belum ia ajak bicara dari kemarin malam .


Persahabatan yang semula hangat terasa dingin dan canggung.


Marisa memberanikan diri saat Reno hanya terdiam tanpa suara.


"Ren, "


" Ya! " Reno, sedari tadi ia memang menunggu Marisa bicara.


"Kamu udah bicarain masalah kemaren sama Anita? " tanya Marisa .


"Belum," Reno menjawab singkat.


"Kamu ngomong ya nanti sama dia."


Marisa hanya tak ingin jika Anita tersinggung. Ia memang begitu menyayangi sahabat -sahabatnya itu.


"Aku gak maksa kamu buat terima dia, tapi seenggaknya hubungan pertemanan kita jangan sampe goyah. Aku ngerasa gak enak sama dia,Ren"


tutur Marisa.


ucap Reno, mengiyakan permintaan Marisa.


"Soal kata-kata Anita semalam gak usah masukin ke hati ya. Dia ~"


"Gak apa-apa kok, Anita udah minta maaf sama aku. " ucap Marisa memotong perkataan Reno.


Sejenak suasana menjadi hening ketika keduanya memilih bungkam.


Sampai Marisa kemudian mulai bicara lagi.


"Semalam ayah nelpon kamu ya? "


tanya Marisa penuh selidik.


"Iya, "


"Dia ngomong apa aja, pasti marahin kamu lagi kayak waktu itu."


Masih teringat dengan jelas kejadian setahun lalu. Saat Marisa merayakan pesta ulang tahunnya di sebuah club malam. Ia nekat datang ke tempat itu karena bujukan kekasihnya. Padahal sang ayah tidak pernah memberikan Marisa ijin untuk menginjakkan kaki ke tempat terlarang seperti club malam dan sejenisnya.


Karena hal itulah Reno. Dia yang sudah berusaha melarangnya pun ikut terseret. Ayah Haris memarahinya habis-habisan.


Sejak saat itu pula Marisa tidak lagi berhubungan dengan kekasih yang dua tahun lebih muda darinya. Bahkan Marisa tak lagi berpacaran dengan siapapun setelahnya. Fokus belajar dan menyelesaikan kuliah.


" Gak, Om Haris cuman minta kamu supaya cepet pulang. "


ujar Reno berbohong.


" Nanti kalau ayah marah-marah lagi gak usah kamu ladenin ya. Gak usah masukin ke hati omongan nya. "


"Iya, Cha. Tenang aja aku udah kebal kok. " Reno mengatakan itu dengan terkekeh. Melirik Marisa sekilas lalu memfokuskan diri kembali pada kemudi. Jalanan cukup ramai. Dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh ,belum terlalu malam .

__ADS_1


"Kita mampir sebentar ya aku laper," pinta Marisa, sedari tadi siang perutnya memang hanya terisi sedikit nasi dan sayur di pesantren. Walaupun ia menolak tapi umi Nara memaksanya untuk ikut makan bersama anak-anak santri.


" Kamu kalau suka sama Hazlan hati-hati saingannya banyak. Santriwati disana gak ada yang gak suka sama dia. " Lagi-lagi suara Fadlan menyelusup melalui gendang telinganya. Membisikkan sesuatu agar Marisa tersadar.


"Ah ya aku bisa melihat semua itu." bisik hati Marisa. Berusaha untuk tidak memikirkan Hazlan lagi untuk saat ini.


Meraup udara banyak -banyak seakan ingin menghilangkan kegelisahan di benaknya.


Reno ,dia tahu itu. Gadis di sampingnya.


Gelisah, terlihat jelas di wajahnya.


"Kamu suka sama Hazlan? " tanya Reno tiba-tiba, membuat Marisa yang tengah menyandarkan punggungnya kembali mengangkat tubuhnya tegak.


Mata Ia sukses membulat, mencerna pertanyaan Reno yang tidak sepenuhnya tertangkap memori Marisa. Yang mana pikirannya tengah bercabang.


"Apa? "


"Kamu ngelamun ya ?" Reno memicingkan matanya, khawatir.


"Enggak, cuman cape aja. Kamu nanya apa tadi? "


Eh tunggu kenapa jadi aku kamu gini ya?


"Kamu suka Hazlan? "


Reno mengulang pertanyaan nya.


"Kenapa? "


"Ya gak apa-apa aku nanya aja. " Ia mengulas senyumnya terpaksa. Mencengkam kemudi kuat-kuat. Menanti jawaban apa yang Marisa berikan.


" Eum, gak tahu. Aku gak tahu. Dia masih kecil, Ren. Baru mau masuk kuliah. Aku gak bisa berharap banyak. "


jawab Marisa, bingung.


Jawaban yang entah membuat Reno senang atau sebaliknya. Ia hanya menanggapinya dengan senyum tipis .


Mobil berhenti di depan sebuah restauran. Marisa yang tadi mengeluh lapar kini hanya tertegun menatap keluar.


"Katanya tadi laper, ayo turun !"


ajak Reno.


Namun bukannya turun Marisa justru mengatakan hal lain.


"Dia mau berangkat ke Kairo ,Ren."


Reno menoleh.


"Minggu depan. " wajah tanpa ekspresi itu sukses membuat Reno yang sudah membuka pintu, kembali menutupnya.


"Hazlan? " tanya Reno bingung.


"Iya !"


" Kamu gak ngomong ke dia kalau kamu mulai suka ?" selidik Reno.


"Mana mungkin, aku gak yakin. Aku belum yakin sama perasaan aku sendiri, Ren. "


Marisa tidak merasa yakin karena Hazlan memang masih kecil untuk bisa menerima perasaannya. Bagaimana kalau dia justru menertawakannya. Lebil-lebih menolaknya.


Memalukan.


"Eum udah ah turun yuk! " Marisa akhirnya mengajak Ren masuk kedalam restauran. Ia menyeka sudut matanya yang berlinang.

__ADS_1


__ADS_2