Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Episode 78.Danau dan kenangan Marisa


__ADS_3

Setelah banyak pertanyaan dipikiran Divya selama dalam perjalan tadi,melihat laki-laki di sampingnya begitu serius mengemudi,tanpa banyak bicara.


Divya sibuk menelisik jalan yang mereka lalui,mencoba menerka kemana arah mobil yang ia tumpangi melaju.


Tanpa banyak bertanya.


Disinilah akhirnya Divya berada.


Haris membawanya ketempat yang tak asing lagi bagi mereka.


Keduanya pernah bertemu di sini.


Walaupun dulu pertemuannya tidak dalam kondisi yang baik.


Danau.


Objek wisata alam yang pernah Divya kunjungi hari itu.


Begitu masuk di pintu utama,menyusuri jalan setapak.


"Kesini? kenapa?" meski bertanya demikian akan tetapi nampak jelas binar di matanya.


"memang kenapa? kau ingat sesuatu?"


berjalan menggandeng tangan istrinya.


"Menurutmu? Ah menyebalkan" Tertawa renyah,Divya melepaskan genggaman tangan Haris,berjalan mendahuluinya.


"Hei kenapa memangnya?" menggeleng-gelengkan kepala, berdecak ketika melihat istrinya


setengah berlari di hadapannya dan berputar merentangkan kedua tangan,menikmati suasana sore di Danau.


Waktu menunjukkan pukul 15.20 WIB.


Menengadah langit , memejamkan mata.


menghirup udara segar.


Danau yang mengingatkannya pada pertemuan ia dan Haris dulu.


Tawa keras saat memori itu kembali terlintas di pikirannya.


Haha konyol.


"Sayang..." Haris menjentikkan jari.


Mengajak Divya duduk di bangku tempat dimana Haris selalu menghabiskan sore di akhir pekan.


Itu terjadi sebelum pernikahannya.


Setelah mengenal Divya tidak lagi.


Tak ada waktu untuknya menginjakkan kaki di tempat ini.


Waktunya selalu ia habiskan demi memerhatikan istrinya itu.


Perhatian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.


Divya menghampiri Haris, duduk di sebelahnya.


"Kau tahu mengapa aku mengajakmu kesini?"


"Kenapa?" Tanya Divya melingkarkan tangan di lengan Haris,menyandarkan kepala di bahunya.


"Kau ingin tahu siapa Marisa?"

__ADS_1


Hah apa Marisa lagi.


Meski sebenarnya dia memang penasaran tentang siapa Marisa.


Namun membahas dia hanya membuat hatinya perih.


Terdiam tanpa jawaban,Divya hanya bereaksi kecil mengangkat kepala menatap Haris sebentar lalu kembali ke posisi awal.


"Aku mengenal gadis itu pertama kali disini" Memulai ceritanya.


"Dia gadis yang baik,manis,tapi juga pemberani seperti dirimu"


Seperti aku?


"Aku mulai menyukainya, setiap kali aku kesini aku bertemu dengannya,dan duduk di tempat ini"


"Dia yang mengubah jalan hidupku.Aku yang sering berfoya-foya,mabuk-mabukkan ,balapan bahkan tak jarang mempermainkan wanita"


Terdiam .


Hanya diam mendengarkan yang dilakukan gadis di sebelahnya.


Sudah berapa banyak wanita yang ia sentuh? Hanya hatinya yang terus bertanya-tanya.


Haris melempar batu kecil,ke arah danau.Sudah batu yang ketiga kalinya ,membuat percikan air menyembur ke udara.


Hal Konyol yang sering ia lakukan.


Bahkan hal itu pula yang ditertawakan Divya.


"Aku sangat mencintainya,melebihi apapun"


Raut wajah Divya seketika berubah mendengar pernyataan itu.


Perlahan ia melepaskan tautan tangannya di lengan Haris.Menegakkan kepalanya.


Haris tetap melanjutkan kisahnya meski tahu jika wanita di sampingnya sudah mulai jengah.


"Kau mirip sekali dengannya,dari mulai garis wajah hingga keberanian mu di awal perkenalan kita". Senyum mengembang di bibir Haris mengingat awal mula pertemuannya dengan gadis yang kini menjadi istrinya.


"Apa kau menerima ku hanya karena aku mirip dengannya?" Dengan getir suara Divya akhirnya melayangkan pertanyaan yang selama ini menyesak di benaknya.


"Percuma...!!" Ketus Divya memalingkan wajahnya saat Haris menatapnya lekat.


"Percuma kalau aku hanya dianggap sebagai pelarianmu saja"


"Percuma kalau kau mencintaiku karena melihat Marisa ada pada diriku."


" Kau pikir aku senang berada di bawah bayang-bayangnya.


Aku tidak mengenal siapa itu Marisa"


Mata mulai berkaca-kaca.


Haris tak bergeming,mendengarkan apa yang ingin dikatakan Divya selanjutnya.


Dia paham gadis di sampingnya merasa tersiksa,karena itu ia membiarkannya bicara,mengeluarkan seluruh unek-unek di hatinya.


"Kami dua orang yang berbeda,seperti hal nya setiap orang tidak ingin dijadikan bahan perbandingan ataupun disamakan satu dan yang lainnya"


"Aku adalah aku .Bukan Marisa begitupun sebaliknya.


Kalau kau tidak mencintai ku untuk apa...?"


"untuk apa seperti ini?"

__ADS_1


"Kau ingin membalas ku,karena aku mempertemukan mu dengan pria dimasa lalu ku" tersenyum getir.


"Karena itu kau ceritakan perasaan mu terhadap Marisa di hadapan ku ?"


"Aku menceritakan itu agar kau tahu,seberapa terpuruknya aku ketika dia meninggalkan ku.Dan seperti itulah yang akan terjadi jika kau juga meninggalkan ku" Mengusap bulir airmata yang menetes di pipi Divya.


"Tapi kau yang bilang tadi kalau kau melihat ku mirip dengannya,kau pikir aku..." terisak lagi.


Susah payah Divya menelan salivanya,dengan dada yang terasa sesak menahan tangis.


"aku sakit kalau ternyata kau tidak benar-benar mencintaiku"


"Kalau kau lakukan ini karena berpikir aku akan meninggalkan mu dan kembali pada Nando itu salah besar"


"Aku sudah melupakannya dari dulu,kami hanya teman tidak lebih. Sekalipun aku belum menikah denganmu aku tidak akan semudah itu menerimanya kembali"


"Dan waktu lima tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar,dia melewatkan semua yang terjadi padaku,Ibuku pergi perusahaan Ayah yang bangkrut lalu akhirnya ayah juga meninggalkan kami ,dia membiarkan aku sendiri.Mana mungkin aku memaafkannya begitu saja."


"Aku tahu tadi pagi aku salah ,begitu ingin bertemu dengannya,hanya untuk sekedar memastikan dia baik-baik saja setelah kemarin malam yang terjadi di pestanya"


"Untuk itu aku minta maaf"


Senyum terlihat mengembang di bibir Haris.


Menangkup kedua pipi Divya,mengusap kembali airmata yang terus mengalir tanpa henti.


Mencium dalam keningnya.


Suasana sepi pinggir danau saat itu.


Beberapa orang terlihat di kejauhan.


Di bawah pohon rindang mereka seakan beradu argumen,meluapkan seluruh perasaan.


Masih pada masalah yang belum menemui ujungnya,akar yang menjalar di belakang mereka berdua.


Masa lalu dan orang yang berada di dalamnya.


"Ya aku mengerti,aku juga minta maaf Sayang." kembali mencium kening.


"Dengar ! aku yakin dengan perasaan ku.aku mencintaimu bukan karena Marisa,percayalah" Haris meyakinkan.


"Ini hanya salah paham" memeluk erat Divya.


"Kau tidak akan kembali padanya? jika dia kembali" Divya masih ingin meyakinkan kesungguhan hati Pria di sampingnya.


Senyum kecil tercetak di sudut bibir Haris.


"Kalau saja" mengangkat halisnya


"Kalau saja dia kembali"


"Tuh kan !! " mendengus kesal,memukul dada Haris." Kau akan meninggalkanku"


"Hahaha sudahlah ayo Ikut !" meraih tangan Divya.


" tidak mau !"


"Tuh kan, Sekarang Kau sendiri yang tidak mau"


"Kemana?" mendongak juga akhirnya menatap Haris yang sudah berdiri.


"Pulang lah kau mau tetap disini,lihat sudah mulai gelap!"


Berjalan di keheningan .

__ADS_1


Matahari yang mulai menyusup disela-sela langit menunjukkan sunset yang begitu elok.


Kesalahpahaman diantara mereka yang sudah kembali mencair,menambah keindahan langit Senja.


__ADS_2