Rahasia Dibalik Perjodohan

Rahasia Dibalik Perjodohan
Adik kecil


__ADS_3

"Seharusnya kau senang aku cemburui bukannya malah malu. "


Haris mengeratkan pelukannya,gemas.


"Sekarang ceritakan! Bagaimana kau bisa kembali akrab dengan pria itu? Aku saja masih belum bisa lupa dengan tindakan tidak bermoral yang dia lakukan pada mu dulu,kenapa bisa kamu memaafkannya begitu saja? "


Betapa Haris tidak bisa melupakan perlakuan Pranando, tindakannya membawa istrinya ke appartemen sepi dan memojokkannya. Menjijikkan!


"Aku tahu, aku ingat. Mana mungkin aku lupa"


Sama hal- nya dengan Haris mana mungkin Divya melupakannya begitu saja. Pria yang sudah merenggut ciuman pertama-nya. Tapi sejauh yang ia tahu itu kesalahan pertamanya, ke-khilafan yang mungkin masih pantas mendapatkan maaf. Sudahlah lupakan itu!


Hari Itu , hampir setahun sudah Haris koma,Divya baru saja melahirkan Marisa. Putri kecil itu terlahir normal dan sehat. Tanpa sengaja Pranando bertemu Mama Rahma di lobi rumah sakit.Wajah Mama yang pucat membuat Pranando mendekat, ia ingat siapa wanita itu. Tak lama berselang, baru saja ia hendak menyapa . Rahma ambruk, ia pingsan tepat di hadapan Pranando.


Setelahnya ia membawa Mama Rahma ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan.


Dari sanalah awal mula Mama Rahma dekat dengan sosok Pranando.


Ia merasa berhutang budi.Kejadian di masa lalu antara Divya dan laki-laki itu Rahma sama sekali tidak mengetahui-nya. Dan di hari yang sama Mama Rahma menceritakan semua yang menimpa Haris kepada Pranando.


Walau bagaimana pun ia mengenalnya sebagai anak angkat tuan Wiryawan yang mana istrinya adalah salah satu sahabat Rahma.


Pranando!


Sebisa mungkin ia berusaha menolong dan meringankan beban yang dipikul Divya. Vero-nya dari masa lalu.


Ide membawa Haris melanjutkan perawatan di rumah datang dari dirinya.


Menurut Pranando mungkin saja Haris bisa cepat sadar jika ia berada di lingkungan tempat banyak kenangan indah bersama keluarganya.


Dan hampir setiap Mama Rahma memintanya untuk datang ke rumah,Pranando selalu menurut, ia tak bisa menolak walaupun merasa tidak enak hati kepada Divya.


Dia terkadang datang dengan membawa serta putrinya, Melodi.


Rahma sempat menanyakan hal itu juga, ia tidak pernah mendapat kabar tentang pernikahannya lalu mengapa putra Wiryawan itu sekarang membawa


seorang gadis kecil.


Tidak ingin ada yang di tutupi lagi,Pranando pun menjelaskan segalanya.


Melodi jadi semakin dekat dengan baby Marisa, selisih usia mereka satu tahun lebih. Mereka tumbuh bersama. Terkadang Pranando menitipkan Melodi di rumahnya apalagi jika gadis itu bersikukuh tidak mau pulang.


Saat Melodi sudah pasih memanggilnya dengan sebutan 'Papa' saat itulah Marisa kecil juga mulai belajar bicara.


Apa yang Melodi ucapkan ia menirukannya dengan gemas.


Setahun berlalu Pranando barulah menceritakan hubungannya dengan Raisa. Ia serius meminang sekretaris di kantornya itu. Gadis baik hati yang selalu menemaninya merawat Melodi.


Pengasuh Plus Plus yang ia ceritakan kepada Divya .Dengan nada bercanda Pranando akan mempertimbangkan gadis itu sebagai ibu bagi Melodi.


Candaan itu yang akhirnya ia wujudkan.


Satu tahun kemudian mereka menikah.


Rudi !


Pria itu pun menerima Pranando dengan sangat baik, terlebih ia pernah menolongnya saat Divya hilang, informasi yang di berikannya tepat, karena jika terlambat sedikit saja hari itu Divya hampir melenyapkan bayi yang ada dalam kandungannya.


Ucapan terimakasih dirasa tidak cukup, hingga keakraban pun tercipta seiring berjalannya waktu.


"Jadi begitu ya"


Respon Haris begitu Divya menuturkan segala yang telah terjadi selama ia tidak menyaksikannya.


"Lalu bagaimana kalau aku tidak juga bangun, kau akan mempertimbangkan untuk kembali padanya "

__ADS_1


Haris memperlambat belaiannya,menelusuri garis wajah Divya dengan jemarinya. Menatap manik indah itu mencari kejujuran.


"Mulai lagi"


Alih-alih menjawab Divya justru berdesis kesal.


"Baiklah sekarang tidur besok kau tidak ingin terlambat bangun kan, kita akan ke rumah Raisa menengok bayi nya itu. "


Di iringi kecupan lembut di kening ia menuntun Divya untuk segera terpejam.


***


Keesokan paginya Haris sudah bangun pagi-pagi sekali. Sudah mandi dan rapih.


Memakai stelan jas seperti biasanya.


Ia mengulum senyum melihat Divya menggeliatkan tubuhnya, bergerak-gerak di bawah selimut. Tubuh polosnya nyaris tak terlihat.


Semalam mereka habiskan untuk melepas rindu.


Bagaimana gadisnya begitu tabah selama empat tahun?


Mengingat hal itu Haris menyeka sudut matanya.


Bagaimana gadisnya melewati masa-masa sulit selama ia terbaring?


Membuat Haris tersenyum haru.


Dan bagaimana gadisnya menjadi orangtua tunggal selama ia lemah tak berdaya?


Desir pilu menerpa sudut hatinya. Ia terus memandangi wajah suci Divya.


Merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Mencium kening serta kedua pipinya.


Merasakan sesuatu yang menyentuhnya Divya mengerjap kecil.


Wajah tampan nan rupawan menjadi sarapan pertama Divya setiap pagi.


Tidak ada rasa bosan menatapnya meski ia tengah tertidur sekalipun, meski si pemilik wajah tampan itu tengah lemah sekalipun.


Senyum terukir lebar. Merentangkan tangan memeluk pinggang Haris.


Menggosokkan wajahnya di paha Haris, bermanja-manja disana.


"Masih mengantuk sayang"


Divya mengangguk.


Haris mengusap lembut kepala istrinya.


"Bagaimana keadaan anak kita"


Kedua tangan mereka kompak menyentuh perut, dari luar selimut Haris mulai mengajaknya bicara.


"Apa kabar sayang, anaknya ayah~"


"~anak bunda juga" timpal Divya.


"Sehat ya sayang, baik-baik di perut bunda. Ok! Jangan nakal. Jangan buat bunda repot, anak pintar"


Mencium perut yang masih rata itu. Senyum di keduanya semakin lebar.


"Kalau masih mengantuk tidur lagi saja ya? " ucap Haris kembali mencium kening Divya.


"Tidak! "

__ADS_1


Refleks ia bangun dan terduduk di samping Haris menjepit selimut dengan kedua tangannya.


"Aku mau mandi.Kamu sudah janji mau mengantar ku ke tempat Raisa"


Tidak ingin Haris mengingkari janjinya, ia pun berusaha membuang jauh rasa malasnya.


"Ya sudah, kau mau mandi,kan? Mau ku gendong? "


"Heum " Divya mengangguk antusias.


Haris pun menggendongnya ke kamar mandi merebahkannya di atas badtub dan menyalakan kran airnya.


"Kau mau aku yang menggosok tubuh mu dengan sabun? "


Divya terdiam sambil sok berpikir,ia menggeleng pelan.


"Kenapa? Jangan bilang kamu malu. Aku sudah melihatnya "


Haris tersenyum menyeringai.


"Kamu sudah rapih, nanti basah lagi bajunya. Keluar, aku bisa mandi sendiri"


Alasan yang cukup masuk akal. Namun, wajah merah Divya nyata terlihat begitu merona.


Haris pun keluar dan turun menuju meja makan. Ia kembali lagi dengan segelas suau hangat dan roti selai,rencananya ia akan mengajak Divya sarapan setelah istrinya itu selesai mandi.


Mendengar suara gemercik air yang masih menyala Haris kembali keluar menuju kamar Marisa. Putrinya masih tertidur pulas, tidak seperti biasanya dimana dia sudah akan mengganggu semua orang dengan suara cemprengnya yang memekikan gendang telinga.


Dia mengusap lembut gadis kecilnya.


Menciumi pipi gembilnya. Serta menarik selimutnya yang turun.Hawa dingin AC terasa menusuk tulang.


Haris mengambil remote AC tersebut dan menetralkan suhunya.


Ia hendak kembali ke kamar namun suara itu memanggilnya.


"Papa! " Haris menoleh.


"Eh ayah, maaf"


Senyumannya yang indah dengan pipi gembil berlesung nyaris membuat siapa saja yang melihatnya serasa ingin memilikinya.


"Kau mengira Papa yang datang? "


"Maaf yah"


"Kau merindukannya? "


"Heum " Marisa mengangguk cepat.


"Ikut ayah kita temui Papa kamu dan kakak Melodi"


"Hore! " Marisa kecil bersorak girang, melompat -lompat di atas kasurnya.


"Satu lagi, kau punya adik kecil


sekarang "


"Yang di perut bunda ?"


Marisa sudah tahu itu bahkan saat pertama mengetahuinya ia berjingkrak senang sambil berteriak, memberitahu semua pelayan yang ada di rumah.


"Bukan! Adiknya Kakak Melodi sudah lahir, kita akan menengoknya hari ini. "


"Hore! Asik !"

__ADS_1


Tanpa mereka sadari Divya sudah berdiri di ambang pintu tersenyum menyaksikan keharmonisan antara anak dan ayahnya.


__ADS_2