
Pukul lima lebih tiga puluh menit Haris masih belum pulang. Ia memang lebih sering pulang setelah magrib atau bahkan setelah makan malam.
Namun, begitu, beberapa hari ini Haris datang lebih awal, selalu menyempatkan makan malam di rumah, entah karena ada Divya atau mungkin karena tidak ada sang Mama di rumah.
Sudah hampir sepekan Mama mertua Divya memang pergi. Entah kemana. Kabarnya seperti biasa ia bersama teman-teman sosialitanya berangkat berlibur.
Divya dan mbok Jum melanjutkan perbincangan mereka kembali sebelum Haris datang.
"Sampai mana tadi ... ayo lanjut cerita mbok !" pinta Divya memegang punggung tangan si mbok itu.
Si mbok yang merasa sangat kagum terhadap sikap nona muda di hadapannya yang begitu baik dan sopan, ia tersenyum seakan turut bahagia jika Haris benar-benar menerimanya sebagai istrinya.
Hidup bahagia, dan ia akan pensiun dengan hati tenang, pikirnya.
"Iya Non. Sejak SMU perubahan sikapnya di mulai, ia semakin menentang aturan. Sering bolos sekolah. Hingga akhirnya Tuan besar memilih untuk sekolah dari rumah saja,"ucap si mbok.
Home schooling mungkin maksud dari istilah yang disebutkan mbok Jum.
"Lalu ... "
" Haris melanjutkan kuliah satu Universitas dengan Rudi, saat itu mereka kembali bersama setelah terpisah di SMU yang berbeda,karena itulah Tuan besar mempercayakan Haris kepada Rudi untuk dijaganya."
Helaan nafas mbok Jum terdengar berat, seakan ada gundukkan batu yang terlepas dari benaknya. Sedikit melegakan ketika ada yang bisa ia jadikan sebagai tempat berbagi cerita.
"Tapi bukannya lebih baik, Haris justru semakin terjerumus lebih dalam lagi. Ia mulai mengenal minuman beralkohol, balapan liar dan lain sebagainya," imbuhnya mbok Jum.
__ADS_1
"Sampai akhirnya Tuan merasa lelah dengan semua sikap dan perilakunya, beliau memutuskan untuk menempatkan Haris sebagai pewaris tunggal perusahaan lebih cepat, saat itu Haris Masih kuliah," pungkas mbok Jum.
"Mbok...Divya boleh tanya sesuatu?" tanya Divya ragu ketika mbok Jum menjeda kisahnya.
"Apa non ? Katakan saja ! Mbok akan jawab jika memang yang di tanyakan Nona mampu mbok jawab." Si mbok meyakinkan.
"Apa tuan Haris suka main perempuan?"
tanya Divya.
"Setahu si mbok beberapa kali Haris ganti kekasih,tapi kalau sejauh apa hubungan mereka si mbok tidak tahu, Non," tutur mbok Jum,seranya kembali menghela nafas berat.
"Lalu ... Haris pernah bawa siapa saja kekasihnya itu ke rumah ? Maaf loh Divya nanyanya makin jauh. Gak apa-apa 'kan, Mbok ?" Divya merasa tidak enak hati. Namun, kepalang tanggung pikirnya penyelidikan harus tetap berlanjut, bukan ?
Demi kebaikan Haris dia akan menerima semua konsekuensinya.
"Marisa?"
Si mbok sama sekali tidak menyebut nama mba Shila.
Aku tanya tidak ya?
Bagaimana kalau Raisa ternyata salah.
"Iya Non,dulu saat nona Marisa menjadi kekasih tuan tepatnya empat tahun lalu...nyonya tidak suka mungkin karena nona Marisa berasal dari keluarga biasa. Sementara Nyonya sangat ingin menjodohkan Haris pada Nona Shila yang kini sudah menikah dengan Rudi"
__ADS_1
Eh hai ... terjawab juga.
Mata Divya berbinar demi mendengar nama Shila disebutkan oleh mbok Jum.
"Kok bisa mba Shila nikahnya sama kak Rudi." Divya bertanya heran.
"Loh Non 'kan adik sepupu Tuan Rudi, memangnya non Divya tidak tahu ?"
Divya menggelengkan kepala.
"Ya Nyonya memang bersikukuh menjodohkan Haris dengan Nona Shila. Namun, terang-terangan gadis itu menuturkan bahwa dirinya lebih menyukai Rudi terlebih karena Haris juga sangat mencintai Marisa."
Mbok Jum menatap lekat gadis di hadapannya.
seranya mengatakan.
sesuatu, lebih tepatnya seperti wejangan.
"Non,Si mbok mohon sekali,temani Haris si mbok yakin Non bisa jadi pendamping yang terbaik untuknya." Pinta mbok Jum.
Divya, gadis itu hanya menanggapi kata-kata mbok Jum dengan senyum yang terukir begitu manis di bibirnya.
Senyum hangat yang menyejukkan siapa saja yang melihatnya.
Seandainya ini bukan sebuah perjodohan, mungkin Divya bisa menerima Haris dengan lapang dada. Tentunya ia akan merasa bahagia mendapatkan suami bak pangeran seperti Haris. Sungguh sangat disayangkan ketika sifatnya justru membuat Divya selalu merasa kesal.
__ADS_1